x

Menyentuh Kehidupan Dengan Kasih Sayang

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Sabbā disā anuparigamma cetasā, nevajjhagā piyataramattanā kvaci;
Evaṁ piyo puthu attā paresaṁ, tasmā na hiṁse paramattakāmo’ti

[Setelah melintasi segala penjuru dengan pikiran, seseorang tidak menemukan di mana pun yang lebih ia sayangi daripada dirinya sendiri. Demikian pula,
bagi setiap orang, dirinya sendiri adalah yang paling disayangi; Oleh karena itu,
ia yang menyayangi dirinya sendiri seharusnya tidak mencelakai orang lain.]

[Mallikā Sutta, Saṁyutta Nikāya]

    DOWNLOAD AUDIO

Ada dua kekuatan dasar yang  mampu memotivasi diri kita: rasa takut dan cinta. Ketika kita sedang berada dalam ketakutan, kita menarik diri dari kehidupan, dan menolak segala macam bentuk penderitaan yang menjadi bagian dari hidup. Tetapi, ketika kita sedang diliputi dengan kekuatan cinta, maka diri kita menjadi terbuka terhadap segala hal yang ditawarkan oleh kehidupan dengan penuh semangat, diliputi kegembiraan dan menerimanya secara utuh. Kita perlu belajar mencintai diri kita terlebih dahulu, dalam segala kelebihan yang kita miliki dan ketidaksempurnaan diri kita. Jika kita tidak bisa mencintai diri kita sendiri, kita sepenuhnya tidak akan bisa mengetahui kemampuan kita untuk mengasihi orang lain atau untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Perubahan dan semua harapan untuk kehidupan yang lebih baik itu bersembunyi dalam keberanian dan hati yang terbuka untuk menghargai kehidupan orang lain.

Mengapa lebih mudah bagi kita untuk memiliki perasaan negatif dan pikiran negatif daripada memiliki perasaan positif, pikiran yang penuh kasih, perasaan positif dan penuh kasih? Pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri pertanyaan ini? Apakah mungkin karena kita telah menciptakan segala yang negatif, dan lebih mudah bagi kita untuk menerimanya dan mengidentifikasi dengan itu? Kita dapat menerima frustrasi, kebencian dan kesedihan, tapi kita tidak bisa menerima cinta dan kasih sayang?

Empat kediaman luhur
Ajaran Buddha merupakan ajaran cinta kasih, dan Buddha mengajarkan Dhamma atas dasar cinta kasih pada dunia. Buddha menawarkan ajaran berupa ‘Empat kediaman luhur pikiran’ [Mettā (cinta kasih atau kehendak baik), Karuṇā (kasih sayang), Muditā (kesenangan simpati), Upekkhā (keseimbangan atau pikiran yang tenang)]. Keempat Kediaman Luhur ini, jika dilatih dengan baik akan membantu kita tetap tenang dalam menghadapi masa-masa sulit.

Inilah cara yang benar atau ideal dalam bertingkah laku terhadap makhluk hidup. Keempat sikap pikiran ini memberikan kerangka berpikir bagi segala situasi yang muncul dari hubungan sosial. Mereka merupakan pemecah kebekuan yang baik bagi ketegangan, pencipta kedamaian yang baik dalam konflik sosial, obat yang baik bagi luka yang diderita dalam usaha bertahan hidup; penyeimbang bagi jurang sosial, pembangun komunitas yang harmonis, alarm bagi kebajikan yang telah lama tertidur, penghidup kebahagiaan dan harapan yang telah lama dibuang, penyokong bagi persaudaraan manusia melawan dorongan egoisme.

Buddha telah berkata bahwa tantangan terbesar manusia adalah untuk mengendalikan pikirannya. Mengendalikan pikiran bukan hal mudah, perlu berbagai cara dan usaha yang harus kita munculkan. Untuk menjadi orang yang terkendali, kita hanya perlu berlatih, melakukannya berulang kali hingga menjadi kebiasaan dan akhirnya kebiasaan baik itu menjadi bagian dari diri kita. Lain halnya dengan sikap yang tidak terkendali, tidak perlu pembiasaan, tidak perlu guru ataupun pembimbing, kita bisa dengan mudah melakukannya sendiri.

Perilaku Calon Mayat
Dalam hal berperilaku, manusia semestinya jauh lebih beradab daripada binatang. Kita hidup dalam masyarakat yang diikat oleh nilai-nilai moralitas. Moralitas menjadi ukuran bagi orang lain untuk menilai seseorang, apakah jahat dan kejam, atau memiliki perangai baik dan mengasihi. Seberapa besar kita patuh dalam menjalankan aturan moralitas juga menjadikan kita sebagai orang teladan yang patut dicontoh.

Ketika kita membaur dalam masyarakat, kita berinterkasi dengan orang lain adalah sangat baik untuk bisa mengedalikan ucapan dan perbuatan. Kita tidak ingin orang lain melukai diri kita dengan ucapan kasarnya, fitnah, serta caci maki, maka kita hendaknya memperlakukan orang lain dengan baik, dan mampu memilih kata-kata yang baik.

Orang lain menjadi tolok ukur bagaimana cara kita agar kita bisa diperlakukan baik oleh orang lain. Hal ini ibarat sebuah bola yang dilemparkan ke dinding, pantulan bola tersebut sebanding dengan kekuatan lemparan yang kita lakukan. Orang lain akan baik terhadap kita jika kita tidak bersikap jahat terhadap mereka. Orang lain akan baik terhadap kita jika kita bersikap baik terhadap mereka. Perilaku yang kita keluarkan hanya semata-mata untuk terus menerus berinvestasi pada kebaikan, sepanjang hari sepanjang usia kita hingga akhir dari kehidupan kita.

Di mana diri Kita?
Bagian terpenting dalam hidup ini adalah bagaimana cara kita bersikap dan respon yang kita berikan setelah terjadi kontak dengan objek. Ketika orang lain senyum dan bersikap respek pada kita, spontan kita akan membalas dengan senyuman, respek dan merasa bahagia. Ketika orang berbicara ketus, sikap menghina, kita pun membalas dengan ketus, balik menghina dan sakit hati.

Kita membiarkan orang lain menentukan sikap kita. Kita memberikan orang lain kendali terhadap diri kita. Kita menjadi baik karena orang lain baik pada kita. Kita menjadi jahat karena orang lain menjahati kita. Kita jujur karena lingkungan jujur. Kita licik karena lingkungan licik. Kita berjudi karena orang berjudi dan mendapat banyak dari berjudi. Kita beramal karena orang lain beramal.

Kita baik bukan karena kesungguhan dari dalam diri kita sendiri bahwa kita baik, tetapi karena orang-orang baik terhadap kita. Kita kejam bukan karena kita jahat, tetapi karena orang-orang kejam terhadap kita lalu kita menjadi kejam.

Di mana diri kita? Di mana kesadaran dan kepribadian kita? Kita tidak mempunyai kepribadian, justru orang-orang yang menentukan kepribadian kita. Kita tidak memiliki sikap, lingkungan yang memberi kita sikap. Kita tidak sepenuhnya menjadi tuan bagi diri kita sendiri. Orang-orang dan lingkungan yang menjadi tuan atas diri kita.

Inilah bedanya kita dengan orang bijak. Orang bijak melakukan kebaikan bukan karena dunia baik kepadanya. Orang bijak melakukan kebaikan walaupun dunia menjahatinya. Dikatakan bahwa: ‘orang menjahatiku itu urusan orang. Saya melakukan kebaikan itu merupakan tanggung jawab saya. Bukan orang lain, tapi sayalah yang menentukan sikap dan perbuatanku’.

Oleh karena itu, jadilah orang baik yang bisa memaafkan kesalahan orang lain, tetapi jangan menjadi orang bodoh yang dapat dengan mudah mempercayainya lagi. Jangan pernah menyentuh kehidupan seseorang jika hal itu hanya akan menghancurkan perasaannya. Menyayangi diri sendiri berarti belajar untuk tidak mencelakai orang lain. Diri kita ingin bahagia, demikian pula dengan orang lain, ingin bahagia dan terhindar dari derita.

Dibaca : 1304 kali