x

Setiap Orang Mewarisi Perbuatannya Sendiri

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Kalyāṇaṁ vā pāpakaṁ vā, tassa dāyādo bhavissāmi
Pebuatan apapun yang akan kulakukan, baik ataupun buruk;
Perbuatan itulah yang akan kuwarisi
(Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta - Aṅgutara Nikāya)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Setiap Orang Mewarisi Perbuatannya Sendiri

Kalyāṇaṁ vā pāpakaṁ vā, tassa dāyādo bhavissāmi
Pebuatan apapun yang akan kulakukan, baik ataupun buruk;
Perbuatan itulah yang akan kuwarisi
(Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta - Aṅgutara Nikāya)

Di dunia ini ada dua jenis perbuatan yang dilakukan oleh manusia biasa yaitu perbuatan baik dan perbuatan buruk. Perbuatan baik memberikan hasil yang menyenangkan sementara perbuatan buruk memberkan hasil yang tidak menyenangkan. Baik atau buruk suatu hari semua perbuatan akan membuahkan hasil. Oleh karena itu kita harus mempertimbangkan dengan seksama kemungkinan dari hasil perbuatan kita, sebelum kita bertindak. Karena perbuatan apapun yang kita lakukan baik ataupun buruk perbuatan itulah yang akan kita warisi.

Kamma yang kita lakukan entah itu baik maupun buruk semuanya menunggu kesempatan yang tepat untuk membuahkan hasil. Kamma sangat banyak jumlahnya dan hanya Sang Buddha-lah yang mengetahui kamma mana yang akan membuahkan hasil dengan cara apa dan pada waktu apa. Kammavipākoacintiyo (bagaimana kamma membuahkan hasil tidak dapat diketahui hanya dengan memikirkan dan merenungkannya).

Untuk memberitahukan bagaimana berbagai jenis kamma membuahkan hasil, Sang Buddha membagi kamma menjadi beberapa kelompok, salah satunya adalah “Kamma Berdasarkan Prioritas dalam Membuahkan Hasil” yang terdiri dari empat bagian, yaitu:
1.    Garuka Kamma - Kamma Berat
Garuka Kamma adalah perbuatan yang tidak bisa dihentikan ataupun digantikan dengan kamma lain sebagai penentu kelahiran berikutnya. Dengan kata lain, kamma ini pasti akan membuahkan hasil untuk terlahir di kehidupan berikutnya.
Kamma berat yang buruk (akusala garuka kamma) adalah lima kejahatan keji yaitu membunuh ibu, membunuh ayah, membunuh Arahat, melukai Sang Buddha, menyebabkan perpecahan di Saṅgha. Siapapun yang melakukan salah satu dari lima kejahatan tersebut pasti akan terlahir di Neraka.

Sedangkan contoh dari kamma berat yang baik (kusala garuka kamma) adalah jika seseorang mencapai jhana dan bisa mempertahannya sampai ia meninggal akan terlahir kembali di alam Brahma. Selain itu seseorang yang mencapai Sotapana magha dan Sotapana phala juga berfungsi sebagai kamma berat yang baik karena ini akan menutup pintu empat alam sengsara selamanya.

Kalau seseorang mencapai jhana dan kemudian melakukan salah satu dari akusala garuka kamma, jhananya akan dimusnah oleh tindakan jahatnya, dan tindakan jahat ini akan menyebabkan kelahiran kembali di Neraka. Contohnya Devadatta yang kehilangan kesaktiannya karena melukai Buddha dan memecah belah Saṅgha.

Lebih lanjut, kalau seseorang pada awalnya melakukan salah satu dari lima kejahatan keji, dia nantinya tidak akan bisa mencapai pencapaianya di duniawi, karena dihalangi oleh kamma buruknya. Sebagai contoh Raja Ajatasattu yang tidak bisa mencapai apa-apa setelah mendengar Samañña Phala Sutta karena membunuh ayahnya, Raja Bimbisara. Meskipun sebagai penyokong Konsili Agung yang pertama dan membangun stupa besar untuk relik Sang Buddha, dia tidak bisa lolos dari kelahiran kembali di Neraka.

2.    Āsanna Kamma - Kamma Menjelang Kematian
Āsanna Kamma adalah kamma baik atau buruk yang kuat yang dilakukan atau diingat beberapa saat menjelang kematian. Tanpa adanya kamma yang berat, Āsanna Kamma inilah yang umumnya akan berperan dalam kelahiran kembali karena kekuatannya yang besar oleh sebab kedekatannya dengan saat kematian.

Kalau seseorang dengan karakter buruk melakukan perbuatan baik sesaat sebelum meninggal atau mengingat perbuatan baik yang dilakukannya pada saat-saat terakhirnya, dia akan menerima kelahiran kembali yang menguntungkan. Sebaliknya, kalau seseorang memikirkan perbuatan buruk yang dilakukan sebelumnya, atau melakukan perbuatan buruk sesaat sebelum kematiannya, dia akan mengalami kelahiran yang tidak membahagiakan.

Oleh karena itu, sangat penting mengatur para orangtua atau orang-orang yang dicintai untuk melakukan perbuatan baik saat menjelang kematian mereka, atau mengingatkan mereka yang sedang meregang nyawa akan perbuatan baiknya atau mendorongnya membangkitkan pikiran-pikiran baik selama saat-saat terakhirnya.

3.    Āciṇṇa Kamma - Kamma Kebiasaan
Kamma Kebiasaan adalah perbuatan baik atau buruk, yang dilakukan seseorang secara terus-menerus atau sudah menjadi kebiasaan, atau perbuatan yang dilakukan sekali dan sangat sering diingat kembali.

Kalau tidak ada kamma berat (Garuka kamma) dan kamma menjelang kematian (Āsanna kamma) yang kuat, kamma kebiasaanlah yang pada umumnya akan berperan dalam menghasilkan kelahiran kembali berikutnya.

Perbuatan baik atau buruk yang dilakukan secara teratur menjadi tingkah laku alaminya. Seseorang akan menyadari hal ini dan melakukannya terus-menerus tanpa terpaksa untuk melakukannya.

4.    Kaṭattā Kamma - Kamma Yang Tak Tentu
Kaṭattā Kamma adalah kamma perbuatan apa saja, yang tidak termasuk dalam kategori-kategori yang sebelumnya, yang sudah dilakukan sebelumnya dan sudah dilupakan, tapi yang cukup kuat untuk menghasilkan kelahiran kembali. Kamma jenis ini akan menjadi berlaku ketika tidak ada ketiga jenis kamma lainnya untuk melakukan fungsinya.

Setelah memahami uraian di atas, semoga kita selalu mengisi hidup kita dengan hal-hal yang bermanfaat sesuai dengan kebenaran. Tidak meremehkan perbuatan baik atau buruk walaupun kecil karena semuanya pasti menghasilkan akibat seperti tetesan-tetesan air yang jatuh ke tempayan yang lama-lama akan penuh juga.  

Sumber:
-    Bangunlah Dunia oleh Bhikkhu Revata
-    Karma Pencipta Sesungguhnya oleh DR. Mehn Tin Mon
-    http://suttacentral.net

Dibaca : 7887 kali