x

Membangun Kesadaran, Awal Kebahagiaan

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Uttiṭṭhe nappamajjeyya, Dhammaṁ sucaritaṁ care
Dhammacārī sukhaṁ seti, Asmiṁ loke paramhi ca.
Bangun jangan lengah! Tempuhlah kehidupan benar. Orang yang menjalani kehidupan benar
akan berbahagia, di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya.
(Dhammpada, 168)

    DOWNLOAD AUDIO

Di saat seseorang mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan atau tidak menguntungkan sering menganggap bahwa kehidupan itu sebagai sebuah musibah atau bencana. Apalagi di saat memilih di antara beberapa pilihan dan yang dipilih ternyata tidak sama dengan harapannya. Tentu hal ini membuat dirinya mulai timbul rasa menyesal dan mengatakan “seharusnya saya memilih bukan yang ini…”. Demikian pula ketika apa yang dimiliki mulai berubah atau berpisah dari dirinya, sebagian orang juga akan mengatakan “seharusnya ini tidak boleh begini…”.

Demikian pula sebaliknya ketika seseorang dalam hidupnya penuh kemudahan, merasa nyaman dan menyenangkan serta apa yang diinginkan terlaksana dengan baik tanpa halangan, orang tidak lagi memandang hidup ini sebagai musibah atau penderitaan. Ketika hidup dalam kondisi yang nyaman dan menyenangkan orang tidak pernah mengatakan “seharusnya saya memilih bukan yang ini…”. Demikian pula ketika apa yang dimiliki belum berubah atau belum berpisah darinya, seseorang juga tidak pernah mengatakan” seharusnya ini tidak boleh begini….”.

Sadarlah
Dalam hidup ini tidak ada yang “seharusnya” karena kehidupan ini adalah tidak ada yang pasti. Sang Buddha menyatakan maraṇaṁ niyataṁ, jivitaṁ aniyataṁ artinya kematian itu pasti, tetapi kehidupan itu tidak pasti. Dari sini kita yang belajar Dhamma dengan berusaha untuk melihat hidup ini sebagaimana adanya sesuai hakikatnya, sehingga kita tidak lagi mengatakan bahwa: “seharusnya hidup saya begitu bukan begini”. Mengapa? karena kita mengerti bahwa kehidupan kita ini, tergantung dari apa yang kita lakukan/perbuat. Demikian pula apa yang kita dapatkan dalam hidup saat ini, sesungguhnya merupakan hasil dari apa yang pernah kita lakukan sebelumnya, yang merupakan salah satu pengkondisi. Sebab, dalam Dhamma adanya hubungan sebab–akibat.

Jalanilah Hidup yang Benar
Setelah kita memahami dan sadar akan kehidupan yang tidak pasti, maka kita seyogyanya mengisi kehidupan kita dengan benar. Mengapa kita perlu menjalani hidup dengan benar? Di dalam Dhammapada syair 168: “Dhammaṁ sucaritaṁ care, dhammacārī sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca, artinya: tempuhlah kehidupan benar, orang yang menjalani kehidupan benar akan berbahagia, di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya”. Dari sini kita tahu bahwa betapa bermanfaatnya cara hidup yang benar. Orang yang hidup dengan benar tidak akan pernah ada penyesalan ataupun merasa sia-sia di waktu hidupnya. Karena siapapun yang menjalankan hidup yang benar, akan senantiasa membawa kedamaian dan ketentraman bagi siapa pun di sekitarnya.

Seandainya kehidupannya itu singkat atau tidak panjang, hidupnya itu sudah sangat beruntung sekali. Karena telah membuat sebuah perbuatan baik. Oleh karenanya, apa yang akan kita lakukan senantiasa kita mengisinya dengan kebajikan, menjauhkan diri dari hal-hal yang buruk serta mengembangkan keluhuran batin kita.
Hari-Hari yang Bahagia;     
Dalam kitab Aṅguttara Nikāya bagian Tikanipata (III, 150) Sang Buddha memberikan nasehat atau petunjuk akan: Hari-hari yang bahagia; bagaimana hari-hari yang bahagia itu:
“Para bhikkhu, makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang pagi hari, maka pagi hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.
Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang siang hari, maka siang hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.
Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang malam hari, maka malam hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.”

Inilah pesan Sang Buddha kepada kita dalam mengisi hidup dalam keseharian. Ternyata untuk memilih hari-hari yang bahagia itu bukan tergantung dari hitungan perbintangan atau bertanya pada peramal, tetapi hari akan menjadi hari yang benar-benar bahagia, jika kita berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran kita dalam keseharian kita.

Kesimpulan
Kehidupan kita tidak ada yang selalu pasti, maka dengan menggunakan kesadaran akan mengetahui kenyataan hidup yang sebagaimana adanya. Selain itu kita perlu pahami bahwa apa yang kita perbuat akan menjadi tanaman kita dan  apa yang kita dapatkan tidak lepas dari buah yang pernah kita lakukan di sebelumnya. Oleh karena itu isilah hari-hari kita dengan berperilaku benar, baik melalui tubuh jasmani, ucapan, dan pikiran. Dengan demikian kesadaran menghantarkan kita pada awal kebahagiaan.

Semoga kita semakin  maju dalam praktik Dhamma dan berbahagia di dalam Dhamma Sang Bhagava.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia dan damai.

Dibaca : 5398 kali