x

Budaya/Tradisi Dan Ajaran

Sukhā saṅghassa sāmaggī

(Kerukunan dalam kelompok memberikan kebahagiaan)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Pentingkah Kita Beragama?
Sebagai warga Indonesia, kita dituntut untuk beragama, kalau tidak beragama mungkin orang menyebut kita adalah seorang Atheis, yang umumnya orang mengatakan tak beragama/tak bertuhan.
Sebagai warga Indonesia yang baik akan patuh pada aturan yang berlaku sebab dalam Pasal 28E ayat (2)  UUD 1945 juga menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Selain itu dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 juga diakui bahwa hak untuk beragama merupakan hak asasi manusia. Selanjutnya Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama.
Yang perlu kita sikapi dalam beragama adalah bagaimana ketika kita beragama bisa menjadikan hidup kita lebih baik dan bermanfaat bagi orang banyak tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Hidup ini penuh masalah, dipenuhi dengan berbagai macam konflik dan permasalahan yang sifatnya besar atau kecil sudah merajalela dalam hidup kita. Peranan suatu agama di tengah-tengah permasalahan yang rumit akan sangat bermanfaat dan berguna bagi kehidupan kita.
Peranan suatu agama sangat ditekankan dalam praktik hidup sehari-hari. Jangan hanya belajar, menambah wawasan, mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa mengedepankan ilmu agama maka perilaku hidup sehari-hari akan terlihat buruk di kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Ketika kita beragama, di dalamnya terdapat dua unsur yang sangat penting, yaitu budaya/tradisi dan ajaran.

Unsur Budaya/Tradisi
Sebagian orang percaya pada sebuah kepercayaan atau upacara-upacara yang sudah membudaya dan mendarah daging di masyarakat setempat bahkan menganggap dirinya anti pada ajaran. Seperti halnya adalah kepercayaan tentang Animisme, Dinamisme. Budaya/ tradisi-tradisi seperti itu bukanlah barang asing bagi kita. Budaya semacam itu tidak akan mampu terlepas dari kita semua walaupun kita sebagai orang yang fanatik sekalipun.
Manusia melaksanakan tradisi-tradisi tertentu yang didasarkan pada kepercayaan, keharusan, atau pola hidup suatu kelompok di mana dia dilahirkan. Akan tetapi bagaimanapun juga tradisi itu penting dan berguna. Hal mana, Sang Buddha tidak menyatakan semua tradisi itu keliru, tetapi menasihatkan kita untuk lebih berhati-hati melaksanakannya, yang mana berguna, yang mana tidak berguna. Kita harus menyaring tradisi-tradisi tertentu yang ketinggalan zaman dan tidak berguna setelah suatu masa. Karena banyak tradisi diperkenalkan dan dianut oleh manusia primitif dengan pengertian mereka yang sangat terbatas tentang kehidupan manusia dan alam semesta pada masa itu. Tetapi pada masa kini, dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sudah sangat modern serta pengetahuan tentang alam semesta, kita dapat mengerti fenomena kehidupan alam.
26 abad yang lampau, di jaman Buddha Gotama sudah terjadi pergoncangan antara para Suku Kalama dan guru-guru besar. Dalam Kalama Sutta, para Suku Kalama yang terkenal dengan suku yang harmonis namun mendapatkan goncangan dari guru-guru besar pada waktu itu, yang membuat para Suku Kalama merasa bingung. Ada yang menyatakan bahwa ajaran ini benar, yang lain salah. Buddha Gotama memberikan ajaran, yang salah satu dari sepuluh poin yang diajarkan oleh Sang Buddha adalah “jika tradisi/budaya itu baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, silahkan dipraktikkan. Tetapi, budaya/ tradisi itu tidak bermanfaat dan merugikan berbagai pihak, jangan dilakukan....”.

Bagaimana tradisi yang baik?
1.    Tradisi Puja Bakti
Puja bakti sesungguhnya budaya belakangan yang dilakukan oleh para siswa-siswi Buddha Gotama yang sangat baik dikembangkan. Di dalam puja bakti kita akan tahu banyak hal seperti membaca Palivacana yang baik dan benar sesuai pelafalan Pali, merenungkan sifat-sifat luhur yang diajarkan dalam sutta, gatha, patha, anussati, dan paritta. Di samping itu juga kita melakukan meditasi, mendengarkan Dhamma, berdana dan pattidana. Melakukan puja bakti/laku hormat bisa dilakukan dengan cara, yaitu: Amisa puja (penghormatan dengan mempersembahkan berupa materi) dan patipati puja (laku hormat dengan mempraktikkan Dhamma).
2.    SPD (Sebulan Pendalaman Dhamma)
SPD sebenarnya juga budaya belakangan yang dilakukan oleh umat Buddha di Indoensia. SPD ini sesungguhnya berawal dari ide atau gagasan umat Buddha di Bali. Budaya SPD ini biasanya dilakukan sebulan menyongsong Hari Raya Waisak. Di dalamnya terdapat berbagai macam kegiatan seperti praktik Aṭṭhasīla (melaksanakan delapan moralitas), berdiskusi Dhamma, mendengarkan Dhamma, bermeditasi dan sebagainya.

Bagaiaman budaya/tradisi yang kurang baik?
Seperti halnya yang diajarkan oleh Sang Buddha Gotama bahwa upacara-upacara yang dilakukan seyogyanya tidak merugikan satu sama lain. Jangan membuat upacara tetapi orang lain merasa dirugikan. Contohnya melakukan persembahan kepada leluhur tetapi harus membunuh binatang terlebih dahulu. Hal demikian kurang tepat untuk dilakukan. Ajaran Buddha Gotama mengajarkan tentang cinta kasih dan kasih sayang yang selalu dipancarkan setiap saat tanpa kecuali.

Unsur Ajaran
Budaya/tradisi diibaratkan seperti kulitnya dan ajaran sama halnya dengan intinya. Antara tradisi dan ajaran tidak bisa dipisahkan. Sebelum Sang Buddha Gotama Mahaparinibbana, pada saat itu orang belum mengenal ajaran agama. Pada saat itu dikenal dengan nama ‘Buddhasasana’. Namun, ketika Sang Buddha Gotama sudah mangkat, sebuah agama muncul.
Ajaran Agama Buddha menitik beratkan pada pembebasan dari dukkha. Inti ajaran Sang Buddha sesungguhnya terletak pada Cattaro Ariya Sacca (empat kebenaran mulia). Empat kebenaran mulia itu adalah kebenaran mulia tentang penderitaan (dukkha ariyasacca), kebenaran tentang sebab penderitaan (dukkha-samudaya ariyasacca), kebenaran tentang akhir dari penderitaan (dukkha-nirodha ariyasacca), dan kebenaran tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan (dukkha nirodhagāminī paṭipadā ariya-sacca).
Sebagai kesimpulan bahwa agama Buddha adalah sebuah agama yang mengajarkan kita untuk mengerti, bahwa manusia bukan untuk agama, tetapi agama untuk digunakan manusia. Agama dapat diibaratkan seperti sebuah rakit untuk menyeberangi sungai. Setelah tiba di pantai seberang, seseorang dapat meninggalkan rakit tersebut dan melanjutkan perjalanannya.
Sambil mempraktikkan ajaran agama, kita juga harus bersikap hormat terhadap agama lain. Sulit memang menaruh rasa hormat kepada kepercayaan orang lain, dan sikap buruk terhadap keyakinan orang lain yang tampak ini harus dapat ditoleransi dengan tanpa mengganggu atau menghina agama lain. Banyak agama lain yang telah mengajarkan kepada pengikut-pengikutnya untuk mengambil sikap ini.

Referensi:
1.    Aṅguttara Nikāya
2.    Dhammapada
3.    http://www.samaggi-phala.or.id/
4.    Pepatah Buddhis
5.    Potret Konstitusi, Pasca Amandemen UUD 1945

Dibaca : 4609 kali