x

Dampak Kamma Baik Dan Buruk Bagi Si Pelaku Sendiri

Yaṁ kammaṁ karissāmi kalyānaṁ vā pāpakaṁ vā tassa dāyādo bhavissāmi’ti
Perbuatan apa pun yang akan kulakukan, baik atau pun buruk; 
perbuatan itulah yang akan kuwarisi.

(Abhiṇhapaccavekkhaṇa)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam Dhamma, kita sebagai umat Buddha diajarkan bahwa siapa pun yang melakukan tindakan atau pun perbuatan, maka dialah yang akan menerima buah/hasil/akibat dari perbuatannya itu. Dan, apa pun yang kita perbuat itu, baik atau pun buruk, itu pulalah yang akan kita terima sebagai buah atau hasil atau akibatnya.  
Dalam Kitab Aṅguttara Nikāya IV 232, Sang Buddha bersabda, “Para bhikkhu, empat jenis kamma ini dinyatakan oleh-Ku setelah Aku merealisasikannya melalui pengetahuan langsung. Apakah yang empat itu?”
Ada kamma gelap dengan hasil yang gelap; ada kamma terang dengan hasil yang terang; ada kamma gelap dan terang dengan hasil yang gelap dan terang; ada kamma yang tidak terang atau tidak gelap dengan hasil yang tidak gelap atau tidak terang, yang menuju pada hancurnya kamma.
 
1) Kamma Buruk – Hasil Buruk
Dan apa, para bhikkhu, kamma gelap dengan hasil yang gelap? Di sini, para bhikkhu, seseorang membangkitkan bentukan niat jasmani, niat berucap atau niat mental yang menyebabkan penderitaan. Setelah melakukannya, dia terlahir kembali di dunia yang menderita. Ketika dia terlahir kembali di dunia yang menderita, kontak-kontak yang menyebabkan penderitaan menyentuhnya. Karena disentuh oleh kontak-kontak yang menyebabkan penderitaan, dia mengalami perasaan yang menimbulkan penderitaan, yang amat menyakitkan, seperti misalnya yang dialami oleh para makhluk di neraka. Inilah yang disebut kamma gelap dengan hasil yang gelap.

2) Kamma Baik – Hasil Baik 
Dan apa, para bhikkhu, kamma terang dengan hasil yang terang? Di sini, para bhikkhu, seseorang membangkitkan bentukan niat jasmani, niat berucap atau niat mental yang tidak menyebabkan penderitaan. Setelah melakukannya, dia terlahir kembali di dunia yang tidak menderita. Ketika dia terlahir kembali di dunia yang tidak menderita, kontak-kontak yang tidak menyebabkan penderitaan menyentuhnya. Karena disentuh oleh kontak-kontak yang tidak menyebabkan penderitaan, dia mengalami perasaan yang tidak menderita, yang amat menyenangkan, seperti misalnya yang dialami oleh para dewa di Keagungan Yang Cemerlang.87 Inilah yang disebut kamma terang dengan hasil yang terang.

3) Kamma Buruk dan Baik – Hasil Buruk dan Baik 
Dan apa, para bhikkhu, kamma gelap dan terang dengan hasil yang gelap dan terang? Di sini, para bhikkhu, seseorang membangkitkan campuran dari bentukan niat jasmani, niat berucap, atau niat mental yang menyebabkan penderitaan dan bentukan niat jasmani, niat berucap atau niat mental yang tidak menyebabkan penderitaan. Setelah melakukannya, dia terlahir kembali di dunia yang menderita dan juga yang tidak menderita. Ketika dia terlahir kembali di dunia seperti itu, kontak-kontak yang menyebabkan penderitaan dan sekaligus yang tidak menyebabkan penderitaan menyentuhnya. Setelah disentuh oleh kontak-kontak seperti itu, dia mengalami perasaan yang menderita dan juga yang tidak menderita, suatu campuran dan kumpulan dari kesenangan dan penderitaan, seperti misalnya yang dialami oleh manusia dan beberapa dewa serta makhluk di alam rendah. Inilah yang disebut kamma gelap dan terang dengan hasil yang gelap dan terang.

4) Kamma Bukan Buruk pun Bukan Baik – Hasil Bukan Buruk pun Bukan Baik 
Ada kalimat yang tercantum dalam Aṅguttara Nikāya IV.232 yang berbunyi: kamma yang tidak-gelap-pun-tidak-terang, dengan hasil yang tidak-gelap-pun-tidak-terang, yang menuju pada hancurnya kamma? Niat untuk meninggalkan kamma gelap dengan hasil gelap, dan untuk meninggalkan kamma terang dengan hasil terang, dan untuk meninggalkan kamma gelap-dan-terang dengan hasil gelap-dan-terang - inilah yang disebut kamma yang bukan-gelap-pun-bukan-terang dengan hasil yang bukan-gelap-pun-bukan-terang yang menuju pada hancurnya kamma.
Hal tersebut dapat dijelaskan dan sangat jelas terkait dengan adanya petunjuk, saran, nasihat, anjuran yang seringkali kita dengar yang berbunyi: lakukanah, tanamlah, berbuatlah baik sebanyak mungkin, demi kebahagiaan hidup anda di masa yang akan datang.
Setiap orang bisa memiliki tabungan/deposito/timbunan kebajikan yang banyak, maka di masa yang akan datang dia akan dapat memetik buah kamma baiknya itu. Sehingga dia akan dapat memanfaatkan waktu luang untuk menetralisir hidupnya, berjuang untuk tidak berbuat jahat, bahkan juga bisa berjuang untuk mencapai kebebasan karena waktu luangnya tidak perlu terlalu banyak dibuang untuk mencari materi lagi. Jadi, kebajikan itulah yang dijadikan modal untuk berjuang mencapai pembebasan, kamma buruk yang tersisa sampai habis tidak dibikin tambahan lagi, kamma baik menemani hingga tamat/habis seluruhnya, tercapailah Nibbāna.

 
Namun apakah semudah itu?

Selakan berpikir untuk memahami sendiri secara bak dan benar. Selamat berjuang…!

Antara Pelaku dengan Perbuatan

Sebagaimana yang dijelaskan di atas, apa pun yang diperbuat pelaku itu pulalah yang akan diwarisi oleh pelaku sendiri, baik atau pun buruk dia akan terwarisi. Andaikata pelaku menghindari, menjauhi, mengelakkan diri dari, tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan/mencelakakan orang lain/makhluk lain, maka dia pulalah yang akan terhindar dari kerugian atau pun keadaan apa pun yang mencelakakan. Dia pulalah yang akan terbebas dari jeratan derita dengan berjuang keras secara baik dan benar.

Semoga tercapai apa yang diusahakan.

(Aṅguttara Nikāya IV, 232)

Sumber: 
1. Kitab Suci Aṅguttara Nikāya II, Klaten
2. A Chanting Guide, The Dhammayut Order in the United States of America 1994
3. Paritta Suci, Saṅgha Theravāda Indonesia, Edisi Pembaruan 2005   

Dibaca : 3723 kali