x

Menjaga Eksistensi Agama Buddha Merupakan Tanggung Jawab Bersama

  Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Imāya dhammānudhamma paṭipattiyā buddhaṁ, dhammaṁ, sanghaṁ pūjemi.
Melalui praktik Dhamma yang sesuai dengan Dhamma, saya  menghormat
 Buddha, Dhamma dan, Sangha.

    DOWNLOAD AUDIO

Setelah beberapa ratus tahun kekosongan agama Buddha di Indonesia, agama Buddha mulai bangkit kembali di pulau Jawa dengan datangnya Bhikkhu Narada Thera dari Sri Lanka. Kemudian agama Buddha mengalami kebangkitan kembali pasca kemerdekaan dengan penyebaran Dhamma yang dilakukan oleh para rohaniawan Buddhis yang mengabdikan diri pada Buddha Dhamma. Perkembangan agama Buddha tidak terlepas dari peranan masyarakat pada umumnya dan masyarakat Buddhis pada khususnya.

Akan tetapi sampai saat ini masih banyak masyarakat Buddhis yang belum mengerti peranannya dalam perkembangan agama Buddha. Masyarakat Buddhis, khususnya para perumah tangga memiliki anggapan bahwa kewajiban untuk menjaga dan melestarikan Buddhasāsana merupakan tugas dari kelompok Pabbajita atau para Dhammaduta. Hal ini disebabkan oleh minimnya pemahaman tentang pentingnya peranan masyarakat Buddhis dalam pelestarian Buddhasāsana.

Seperti orang pada umumnya yang memiliki sebuah barang, suatu saat juga akan rusak karena sering digunakan. Namun apa-bila dalam penggunaannya seseorang merawatnya dengan baik dan berhati-hati tentu barang tersebut akan lebih awet dan bertahan lebih lama. Demikian pula dengan Ajaran Buddha, suatu saat akan dilupakan oleh umat manusia, tetapi apabila masyarakat Buddhis turut aktif melestarikan ajaran Buddha dengan baik, maka secara tidak langsung hal ini akan menjaga keberlangsungan Buddhasāsana. 

Lalu sebagai umat Buddha, apakah yang harus dilakukan agar agama Buddha tetap eksis? Cara yang dapat dilakukan seseorang untuk menjaga Buddhasāsana, diantaranya:
Belajar Dhamma (Pariyati)
Belajar Dhamma merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan oleh masyarakat Buddhis untuk menjaga eksistensi agama Buddha. Dengan belajar Dhamma akan mengkondisikan ajaran Buddha dapat diketahui dan dipelajari. Mempelajari Dhamma bukan hanya menjadi kewajiban para pabbajitā pada khususnya, namun ajaran Buddha juga hendaknya dipraktikkan dan dipelajari oleh semua umat Buddha pada umumnya. Belajar Dhamma dapat menunjang seseorang dalam mempraktikkan Dhamma itu sendiri, dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan mempelajari Dhamma akan menumbuhkan keinginan atau dorongan untuk mengaplikasikan ajaran tersebut dalam kehidupan kesehariannya. 

Namun demikian, masih ada sebagian orang yang beranggapan bahwa belajar teori tidak begitu penting yang terpenting adalah praktik atau pernyataan tentang “percuma belajar Dhamma tetapi tidak dipraktikkan”. Tentu anggapan atau pernyataan seperti ini merupakan pandangan yang kurang tepat. Karena antara teori dan praktik merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, yang keduanya diperlukan dalam pencapaian pembebasan. Jika seseorang hanya praktik tanpa mau belajar teori maka akan membawa pada praktik yang salah dikarenakan tidak mengerti bagaimana cara untuk pelaksanaan yang benar. Ia hanya akan terombang-ambing atau bahkan tanpa arah yang jelas sehingga tidak berkembang dalam latihannya. Seperti seseorang yang pergi berlayar tanpa membawa peta dan kompas sebagai penuntun yang menunjukkan jalan atau arah tujuan. Ia hanya akan terombang-ambing di tengah samudra tanpa arah yang jelas. Oleh karena itu selain praktik umat Buddha juga sangat penting untuk belajar Dhamma. Melalui belajar secara teori inilah yang nantinya akan menuntun seseorang bagaimana untuk praktik yang benar dalam kesehariannya. 

Seperti yang kita ketahui dalam agama Buddha dikenal tiga tahapan proses pencapaian pencerahan yaitu pariyati (belajar teori), paṭipati (praktik) dan paṭivedha (hasil dari praktik). Di mana belajar teori atau pariyati merupakan tahap awal, juga sebagai dasar yang perlu dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh pedoman yang benar. Demikian juga dengan masyarakat Buddhis, dalam proses pencapaian tujuan akhir, mutlak untuk mempelajari Dhamma yang benar sesuai dengan ajaran Sang Buddha. 

Banyak jalan yang bisa dilakukan untuk mempelajari dan mengenal Dhamma ajaran Sang Buddha, seperti dengan membaca buku-buku Dhamma, mendengar ceramah (Dhammadesana) dari para bhikkhu baik secara langsung seperti mengikuti forum seminar/talk show, maupun dengan cara tidak langsung seperti sumber-sumber yang berasal dari TV, CD, DVD, internet, yang saat ini sedang marak keberadaannya, serta yang bersumber dari media-media lainnya. Masyarakat Buddhis dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas serta kesempatan-kesempatan tersebut untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang Dhamma. Selain menambah pengetahuan, kegiatan seperti di atas juga termasuk salah satu tindakan menjaga kelestarian Dhamma. Dhamma bisa dikenal dan dipelajari hingga saat ini, karena masyarakat Buddhis mau mempelajari, dan memperkenalkan atau mengajarkan Dhamma itu sendiri ke generasi berikutnya. Namun jika sudah tidak ada orang yang mau mempelajari, dan mengajarkan Dhamma kepada orang lain, secara tidak langsung eksistensi Dhamma tersebut tidak akan bisa bertahan sampai sekarang. Berdasarkan kenyataan tersebut maka seseorang yang belajar Dhamma serta mempraktikkanya secara otomatis turut serta menjaga kelestarian dari Buddhasāsana. 

Praktik Dhamma (Paṭipati)
Praktik Dhamma merupakan hal yang penting dalam pelestarian Buddhasāsana. Praktik Dhamma dalam agama Buddha biasa disebut dengan paṭipati atau tahap pelaksanaan dari Dhamma. Seseorang yang ingin memperolah manfaat dari Dhamma, selain belajar secara teori mereka juga dianjurkan untuk bisa mengaplikasikan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Jika sesorang hanya sekadar mempelajari namun tidak mempraktikkan ajaran Buddha, tentu apa yang telah dipelajari tidak akan membawa kemajuan dalam diri seseorang (masyarakat Buddhis) untuk mencapai tujuan akhir. Namun jika seseorang selain belajar secara teori dan berusaha untuk melaksanakannya maka akan membawa manfaat dan kemajuan spriritual secara positif dalam dirinya. 

Agama Buddha adalah suatu agama yang menekankan pada pada perbuatan baik dan kebijaksanaan dari pada kepercayaan. Oleh karena itu untuk memperoleh keseimbangan dan keharmonisan hidup, umat Buddha tidak cukup hanya membaca buku Dhamma, begitu pula dengan hanya memiliki suatu pengetahuan teoritis Buddha Dhamma. Juga sebaliknya, tidak cukup secara membuta mengikuti tradisi Buddhisme tanpa suatu pengetahuan akan makna yang sesungguhnya. Buddha selalu menganjurkan para umat termasuk para pabbajita untuk mempraktikkan Dhamma. Bagi umat awam, hal ini kadang-kadang terdengar begitu sulit. Setelah mendengar kata “mempraktikkan (patipati)” mungkin saja mereka berpikir kalau harus menjadi bhikkhu atau sāmaṇera yang tinggal di vihāra atau hutan untuk bisa mempraktikkan Dhamma. Padahal sesungguhnya praktik Dhamma tidak hanya untuk sāmaṇera dan para bhikkhu tetapi untuk semua umat Buddha.

Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat banyak cara untuk mempraktikkan Dhamma. Seseorang bisa melaksanakan ajaran Buddha dimulai dari latihan seperti melalui latihan berdāna, menjalankan sīla dan juga melatih samādhi. Dengan melaksanakan ketiga hal ini maka niscaya seseorang akan memperolah kebijaksanaan. 

Dalam pelaksanaannya, ketiga prilaku bajik ini yaitu dāna, sīla dan samādhi hendaknya dilakukan bersamaan. Bukan dilakukan dengan satu persatu. Umat Buddha hendaknya menggunakan kesempatan dalam hidupnya untuk selalu berusaha melaksanakan ketiganya dengan tekun dan penuh semangat. Semakin sering seseorang melaksanakan ketiga kebajikan ini, semakin besar pula kebajikan yang ia miliki. 

Dalam masyarakat, terdapat cukup banyak orang yang berusaha melakukan salah satu dari ketiga hal tersebut. Pelaksanaan seperti ini memang tidak salah, namun sebenarnya kurang lengkap. Meditasi, misalnya merupakan salah satu latihan untuk mengembangkan kesadaran pada setiap saat ketika seseorang sedang mengerjakan sesuatu, berbicara maupun berpikir. Jadi meditasi bukan hanya sekadar duduk diam mematung dengan satu posisi tertentu saja. Oleh karena itu, apabila seseorang memisahkan meditasi dari dāna dan sīla, maka orang tersebut memerlukan penjelasan lebih lanjut bahwa meditasi adalah upaya mengembangkan kesadaran setiap saat. Adapun pelaksanaan kerelaan dan kemoralan merupakan praktik nyata dari pengembangkan kesadaran tersebut. Semakin tinggi tingkat kesadaran seseorang, maka semakin baik pula kemoralan yang ia miliki. Oleh karena itu, seseorang yang ingin maju dalam Dhamma hendaknya melaksanakan kerelaan, kemoralan, dan konsentrasi secara serentak di setiap saat.  Ketiga hal ini jika di praktikkan setiap saat, selain membawa kemajuan bagi yang melaksanakannya juga ikut melestarikan Buddhasāsana.

Berdasarkan uraian di atas sangat jelas bahwa pada dasarnya apapun yang dilakukan oleh para pabbajjitā maupun gharavāsa dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan teori Dhamma (pariyati), praktik Dhamma (Paṭipati) dan penembusan Dhamma (Paṭivedha), itu semua merupakan bentuk pelestarian Dhamma.

Sumber:
Dhammasiri, S. 2005. Relevansi Agama Buddha Dalam Kehidupan Sosial. Tanpa Kota: Graha Metta Sejahtera.
Uttamo Bhikkhu. 1994. Hidup Sesuai Dhamma. Jakarta: Pratana Printing.
Uttamo Bhikkhu. 2004. 100 Tanya Jawab Dengan Bhikkhu Uttamo Bagian Satu. Blitar: Vihara Samaggi Jaya. 
Uttamo Bhikkhu. 2006. 100 Tanya Jawab Dengan Bhikkhu Uttamo Bagian Tiga. Blitar: Vihara Samaggi Jaya.
Willy, Yandi Wijaya (Ed).2009. Dhamma Dana Para Dhammaduta. Yogyakarta. Vidyasena Production.

Dibaca : 4699 kali