x

Mewujudkan Keluarga Bahagia

Yathāpi puppharāsimhā, Kayirā mālāguṇe bahū
Evaṁ jātena maccena, Kattabbaṁ kusalaṁ bahuṁ
Seperti kumpulan bunga-bunga dapat dirangkai menjadi banyak karangan bunga, demikian pula banyak perbuatan baik dapat dilakukan oleh seseorang yang masih mengalami kelahiran dan kematian.

(Dhammapada syair 53)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Sammāsambuddhassa

Masyarakat Buddhis terbagi menjadi dua kelompok ada yang menjadi perumah tangga (gharāvāsa) dan bukan perumah tangga (pabbajita). Menjadi perumah tangga maupun bukan perumah tangga adalah suatu pilihan hidup berdasarkan kecocokan masing-masing. Ketika seseorang memilih untuk menjadi perumah tangga, dan membangun bahtera rumah tangga tentu memiliki harapan agar terbentuk suatu keluarga yang utuh, harmoni, dan bahagia. Dalam berjalannya waktu tentu ada masalah-masalah yang akan dihadapi kadang susah, terkadang  juga mudah.
Di saat perumah tangga mau membangun suatu keluarga yang utuh, harmoni dan bahagia termasuk juga yang tahan terhadap masalah-masalah, dapat diumpamakan seperti halnya membangun suatu gedung. Gedung akan menjadi kokoh dan tahan berbagai goncangan, tentu karena adanya pondasi yang kokoh dan kuat terlebih dahulu. Seperti halnya pondasi yang menjadi dasar suatu bangunan, demikianlah halnya dalam membangun bahtera keluarga. Pondasi yang kokoh, bukan hanya berasal dari semennya, atau  hanya dari batunya, juga bukan hanya dari pasir atau hanya dari besi saja, akan tetapi dari kesatuan itu semua yang membuat pondasi menjadi kokoh dan kuat. 
Demikian pula dalam membangun suatu keluarga yang utuh, harmoni, dan bahagia tidak hanya bergantung dari suami atau istri tetapi dari masing-masing anggota keluarga. Jika hanya bergantung dari suami semata atau istri semata tentu masih kurang kokoh. Dalam hal ini adalah peran dari suami, istri dan masing-masing anggota keluarga perlu bersatu agar terbentuknya keluarga yang utuh, harmoni, dan bahagia.
     Dalam Saṁyutta Nikāya I, 215 disebutkan bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga akan dapat dicapai apabila masing-masing anggota keluarga dapat melaksanakan:
1.Sacca yaitu memiliki kejujuran dan menepati janji yang dibuatnya.
Dengan memiliki kejujuran dan dapat menepati janji dapat membangun suatu kepercayaan antar sesama anggota keluarga. Kejujuran akan menciptakan kondisi yang harmoni, sebab tidak ada kecurigaan. Banyak perumah tangga yang mengalami masalah, karena mereka tidak mau jujur atau tidak mau terbuka satu sama lainnya sehingga yang ada hanya curiga-curiga saja. Oleh karena itu penting bagi perumah tangga untuk mengembangkan kejujuran. Hargailah setiap kejujuran yang orang lain utarakan sebab segalanya dapat dijelaskan. Ada sebab maka ada akibat, demikian pula seandainya ada yang tidak jujur tentu juga ada sebabnya.
2.Dama yaitu mengetahui cara untuk dapat mengendalikan pikirannya sendiri. 
Banyak masalah yang sederhana menjadi suatu bencana bagi perumah tangga karena tidak dapat mengendalikan pikiran. Oleh karena itu sebagai perumah tangga perlu latihan mengendalikan pikirannya sendiri. Sebab terkadang pikiran ini tidak mudah dikendalikan, bergerak sangat cepat, bagai ikan yang menggelepar di daratan. Dengan mengetahui cara mengendalikan pikiran, hal ini akan membantu pikiran untuk tidak mudah timbul salah pengertian, maupun rasa saling curiga. Inilah pentingnya meditasi bagi perumah tangga agar semakin tahu gerak-gerik pikirannya sendiri, sehingga tidak mudah dibakar oleh pikiran-pikiran yang negatif. Dengan demikian maka keluarga akan tetap utuh, harmoni, dan bahagia karena pikirannya sudah menjadi tenang.
3.Khanti yaitu sikap sabar dalam menghadapi segala macam masalah.
Sabar adalah sikap tahan pada penderitaan. Dalam berumah tangga tentu akan bertemu dengan masalah-masalah yang dapat membuat menderita. Di zaman modern banyak perumah tangga yang selalu berpikir instant, sehingga untuk bersabar agak sulit. Ketika perumah tangga memiliki masalah dalam rumah tangga dan tidak dapat bersabar, umumnya yang ada adalah tidak dapat mengendalikan emosinya. Akibatnya, rumah tangga tidak ada komunikasi sehingga makin mempersulit usaha untuk memperbaiki keharmonisan antar anggota keluarga. Oleh karena itu dengan memiliki kesabaran dalam setiap menghadapi permasalahan yang ada akan mewujudkan keluarga yang utuh, harmoni, dan bahagia.
4.Cāga adalah perilaku yang murah hati dan suka memberi pada siapapun yang memerlukan. 
Kemurahan hati merupakan wujud dari perilaku cinta kasih dan kasih sayang. Seseorang yang memiliki kemurahan hati memiliki pikiran mengharapkan orang lain selalu bahagia. Kemurahan hati akan mengalahkan keegoisan atau sikap mementingkan diri sendiri. Tin-dakan kemurahan hati dapat dilakukan dalam wujud materi maupun bukan materi. Dalam tahap lanjutan, sikap ini sebenarnya adalah sikap untuk dapat saling memaafkan segala bentuk kesalahan yang dilakukan oleh anggota keluarga yang lain. Dengan adanya kemurahan hati, setiap anggota keluarga akan saling mencintai dan hubungan kekeluargaan menjadi semakin erat dan harmoni. 
Dengan mengembangkan ke-empat faktor Dhamma inilah maka keutuhan, keharmonian, dan kebahagiaan dalam rumah tangga akan dapat diwujudkan dalam kehidupan saat ini. Oleh karena itu, marilah kita kembangkan dan praktikkan dalam diri kita masing-masing.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Oleh: Bhikkhu Atthadhiro
(27 Juli 2014)

Dibaca : 3212 kali