x

Hidup Bahagia

Padakkhiṇaṁ kāyakammaṁ, Vācākammaṁ padakkhiṇaṁ
Padakkhiṇaṁ manokammaṁ, Paṇidhī te padakkhiṇā
Padakkhiṇāni katvāna, Labhantatthe padakkkhiṇe
Setelah melakukan kebaikan-kebaikan, yaitu; bertindak baik, berucap baik, berpikir baik, berpengharapan baik, pahala-pahala baiklah yang akan diperoleh. 

(Jaya Paritta)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar istilah ‘bahagia’, apa sebenarnya bahagia itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘bahagia’ artinya keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan), sedangkan ‘kebahagiaan’ artinya kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir dan batin).

Dalam Dhamma Vibhāga (Penggolongan Dhamma), kebahagiaan dibagi lagi sebagai berikut:
Kebahagiaan (sukha)
a. Kebahagiaan jasmaniah, yaitu berdasarkan atas indria-indria jasmani (kāyika-sukha)
b. Kebahagiaan batin, yaitu merupakan hasil dari sumber-sumber yang ada di dalam batin (cetasika-sukha)
Kebahagian jasmaniah adalah ketika jasmani dalam keadaan sehat, tidak terganggu oleh rasa lapar atau haus, dan tidak menderita berbagai macam penyakit, maka dikatakan berada di dalam suatu kondisi kebahagiaan. Ini disebut kebahagiaan jasmaniah (kāyika-sukha).

Apabila pikiran terserap di dalam kegembiraan, apakah karena terpenuhinya keinginan-keinginan indria atau karena telah melakukan suatu perbuatan baik, atau pun karena kegiuran yang timbul dari pandangan terang, maka pikiran dikatakan berada dalam kebahagiaan. Keadaan demikian disebut kebahagiaan batin (cetasika-sukha).

Lebih jauh pengertian lain dari kebahagiaan (sukha)
a. Kebahagiaan dengan mata kail berumpan (sāmisa-sukha)
b. Kebahagiaan tanpa mata kail berumpan (nirāmisa-sukha)
Dalam kehidupan sehari-hari yang umum dianggap sebagai hidup bahagia adalah yang ada kaitannya dengan kesenangan-kesenangan indria, yang berkaitan dengan hal-hal luar atau benda-benda materi, misal senang karena memakan makanan yang enak (lidah), senang karena memakai baju baru, senang karena mencium bebauan yang wangi, bentuk-bentuk yang terlihat oleh mata, suara-suara yang didengar oleh telinga dan sentuhan-sentuhan yang dirasa oleh tubuh. Kebahagiaan atau kegembiraan apa pun yang timbul dari kelima untaian itu disebut sebagai kebahagiaan dari kesenangan. Ini disebut kebahagiaan dengan mata-kail berumpan, karena kebahagiaan tersebut berhubungan dengan kemelekatan. Hal ini memiliki keburukan-keburukan tersembunyi (seperti kesedihan, ratap tangis, dan lain-lain) apabila benda materi tersebut hilang atau berubah karena suatu proses berlalunya waktu, tidak tetap keberadaannya karena selalu berubah.

Kebahagiaan yang timbul dari perasaan-perasaan keagamaan, seperti kegiuran dan pandangan terang atau peninggalan (menghindari) kesenangan-kesenangan indria, adalah disebut kebahagiaan tanpa mata-kail berumpan.

Menurut komentar, kebahagiaan berdasarkan mata-kail berumpan adalah kebahagiaan yang menjadikan seseorang tenggelam dalam arus roda perputaran kelahiran dan kematian (samsāra) dengan penderitaan yang tidak dapat dipisahkan sebagai mata-kail berumpan. 

Sedangkan kebahagiaan tanpa mata-kail berumpan adalah kebahagiaan yang memungkinkan seseorang untuk menghancurkan roda perputaran kelahiran dan kematian, memberikan padanya suatu pandangan terang di atas keduniawian.

Hari-hari yang bahagia
Sang Buddha mengatakan “siapa pun juga, baik pagi, siang ataupun malam, yang melaksanakan Perbuatan Benar, Ucapan Benar, dan Pikiran Benar, akan mendapatkan kebahagiaan baik pada pagi, siang ataupun malam” (Aṅguttara Nikàya I, 294).
Apakah Perbuatan Benar itu? Perbuatan Benar adalah perbuatan menghindari pembunuhan, menghindari pencurian dan menghindari perbuatan asusila.
Apakah Ucapan Benar itu? Ucapan Benar adalah ucapan yang bebas dari kebohongan, fitnah, caci maki, gossip atau pun omong kosong yang tidak bermanfaat.
Apakah Pikiran Benar itu?  Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari kekotoran batin, pikiran tentang cinta kasih, dan pikiran yang suka menolong makhluk lain.

Inilah yang senantiasa selalu dipraktikkan melalui pikiran, ucapan maupun badan/jasmani sehingga kebahagiaan hidup yang sebenarnya dapat diperoleh bukan hanya dalam kehidupan sekarang tetapi juga dalam kehidupan yang akan datang. Perbuatan baik apapun yang dilakukan melalui pikiran, ucapan dan perbuatan hendaknya jasa-jasa kebajikan tersebut kita niatkan, bertekad bukan untuk sekedar mendapatkan kebahagiaan hidup yang sifatnya masih berkaitan dengan duniawi ataupun surgawi, tetapi jauh lebih tinggi lagi adalah untuk tercapainya kebahagiaan yang tertinggi, yaitu Nibbāna. Sehingga mengarahkan pada kebahagiaan yang memungkinkan seseorang untuk menghancurkan roda perputaran kelahiran dan kematian (samsāra) atau tercapainya kebahagiaan yang tertinggi (Nibbāna).

Semoga semua makhluk berbahagia.

Referensi:
• Paritta Suci, Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia, 2012
• Buddha Vacana, Yayasan Penerbit Karaniya
• Dhamma Vibhāga, Penggolongan Dhamma, Vidyasena Vihāra Vidyaloka
• www.samaggi-phala.or.id
• http://kbbi.web.id/bahagia

Dibaca : 3155 kali