x

Latihan Bertahap Untuk Kemajuan Batin

Attasammāpaṇidhi ca Etammaṅgalamuttamaṁ
Membimbing diri dengan benar, itulah berkah utama 

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa 

 

Siddhattha Gotama adalah makhluk agung yang semua kehidupannya terberkahi hal-hal baik, mempunyai sifat-sifat luhur, yang selalu berhasil dalam setiap usaha merealisasi cita-cita, mampu mengentaskan makhluk hidup dari penderitaan. Beliau sebagai seorang pemimpin komunitas bhikkhu, sebagai tokoh dunia, bahkan sebagai guru para dewa dan manusia  mempunyai banyak siswa dan pengikut, dan dipuja hampir di setiap negara di muka bumi ini. Semua bentuk keberhasilan itu sebagai buah usaha serta kebajikan dari sebuah proses yang amat panjang, di mana dalam setiap kehidupan-Nya sang bakal (calon) Buddha ini memenuhi parami yang nantinya parami-parami tersebutlah yang bisa mendukung keberhasilan merealisasi Kebuddhaan.

Melalui penglihatan-Nya yang sempurna, Buddha melihat kebajikan apa sajakah yang bisa mendorong diri-Nya sendiri memperoleh keberhasilan. Melalui kesempurnaan pengetahuan-Nya itu pula Buddha menyampaikan kepada umat manusia agar senantiasa berbuat kebenaran, menjaga perilaku dan sikap, bertutur kata santun yang mengandung kebenaran, serta berusaha memurnikan pikiran dari buah-buah pikir yang buruk, yang jahat, yang tidak berfaedah, sebaliknya berupaya mengembangkan kesadaran, eling, dan waspada.

Buddha dengan sangat gamblang menyampaikan bahwa untuk mencapai kemajuan batin tidak bisa didapatkan dengan instan, namun melalui tahap demi tahap, tidak secara tiba-tiba. Keberhasilan itu bermula dari yang dasar, sedang, sampai dengan tingkat tinggi. Kesemuanya melalui tahapan dan proses yang berkelanjutan.

Untuk mencapai keberhasilan tersebut, Buddha memberikan instruksi untuk terus meningkatkan latihan demi kemajuan batin. Ajaran bertahap ini umumnya ditujukan kepada para perumah tangga yang ingin terus meningkatkan latihannya.


Kerelaan (dāna)

Di saat banyak kepercayaan mengajarkan tentang bagaimana mendapatkan berkah-berkah kebaikan dengan cara berdoa atau dengan tujuan memohon, berharap, dan meminta, namun Buddha menganjurkan untuk mempraktikkan kemurahan hati, memberi dan berbagi. Inilah keistimewaan dalam ajaran Buddha. Setelah kebutuhan dasar berupa pakaian, makanan, tempat tinggal tercukupi, maka hendaknya seseorang berbagi kepada orang lain. Memberikan sebagian miliknya untuk kebahagiaan makhluk lain. Inilah latihan pertama yang perlu dikembangkan, melepaskan kepemilikan, mengikis keserakahan sebagai awal latihan demi kemajuan batin.


Kemoralan (sīla)

Untuk menyempurnakan latihan, seorang umat Buddha patut untuk membersihkan dirinya dari noda-noda keburukan. Noda yang dimaksud adalah perbuatan brutal, jahat yang dapat menimbulkan celaan dan kerugian bagi pihak lain. Berupaya menjaga moralitas dalam berperilaku dan berucap dalam keseharian.

Bukan harapan akan pahala atau rasa takut akan siksaan-siksaan yang mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan atau menahan diri dari perbuatan jahat, namun lebih pada kesadaran akan akibat-akibat yang nantinya diterimanya. Kesadaran itu muncul dari melihat akibat-akibat yang akan terjadi dan ia terima. Ia menahan diri dari keburukan karena keburukan itu akan menghambat laju perkembangan batin demi pencapaian bodhi. 


Kebahagiaan di dalam alam surgawi (sagga)

Merupakan keuntungan yang tak ternilai jika perumah tangga hidup dalam hubungan yang dekat dengan para pabbajita. Pabbajita yang dianggap sebagai ladang yang subur untuk tindakan berjasa (puñña) di dunia ini, menerima dana yang diberikan dengan hormat dan dengan pikiran yang penuh keyakinan. Sebagai akibat, si pendonor sekali pun masih jauh dari Nibbāna, namun bisa terlahir di alam yang amat berlawanan dari keadaan manusia di bumi. Di alam kedewaan (sagga) ini tidak terdapat lagi  kemiskinan, kesulitan, perjuangan, kewajiban dan tugas-tugas seperti di bumi. Kehidupan di alam ini bersifat terang, nyaman, menyenangkan, serta bebas dari tanggung jawab. Semua keadaan yang penuh dengan kenikmatan surgawi diperoleh dari perbuatan baik dengan mengembangkan kerelaan dan menjaga moralitas.


Bahaya-bahaya dalam kenikmatan kesenangan-kesenangan indria (kamadinava)

Setelah seseorang lebih jauh diberitahukan mengenai kesenangan-kesenangan yang akan diperoleh sebagai buah kamma baiknya, sampai pada tahap ini Buddha menjelaskan bahwa menikmati kesenangan indria merupakan penghambat bagi latihan untuk kemajuan batin. Oleh karenanya Buddha menyampaikan bahaya-bahayanya, jika tidak hati-hati seseorang akan terikat dan sulit terlepas dari jeratan siklus tumimbal lahir yang tidak pernah berakhir. 

Oleh karenanya, di dalam kitab Itivuttaka diceritakan ada dewa yang akhirnya menangis karena melihat usianya akan segera berakhir. Tanda-tanda kelapukan muncul seperti rangkaian bunga miliknya layu, pakaiannya menjadi kotor, keringat keluar dari ketiaknya, sinar tubuhnya meredup, karena itu ia gelisah dan tidak mengalami kebahagiaan.

Seseorang mungkin merasa dikecewakan karena keadaannya begitu berbalik, tetapi justru inilah yang menjadi awal untuk terbukanya batin. Seseorang akan menjadi jengah dan muak terhadap kenikmatan indrawi, berusaha melepaskan dan meninggalkannya. 


Mengetahui faedah meninggalkan kesenangan indria (nekkhammanisaṁsa)

Ada sebagian orang yang berpikir, jika seseorang meninggalkan kesenangan indrawi maka ia akan kehilangan kebahagiaan. Dalam Dhamma tidaklah demikian, justru dengan melepaskan keterikatan pada nafsu-nafsu kesenangan tersebut seseorang akan merasa bebas, terlepas dari beban yang membelenggu, sebagai dampaknya justru akan merasa lebih nyaman, damai, dan semakin bahagia.

Sebagai perumah tangga tentu latihan ini menjadi tidak mudah karena banyaknya tanggung jawab yang harus diselesaikan. Tidak sedikit yang sehari-harinya selalu sibuk berjibaku dengan pekerjaan, merawat anak, dan lain-lain. Namun bukan berarti tidak bisa sama sekali, karena latihan ini bisa dilaksanakan secara bertahap. Oleh karena itu perumah tangga harus menyediakan waktu untuk berlatih, misalnya dengan mengikuti pabbajja. Berlatih dengan sungguh-sungguh untuk kemajuan batin, tahap demi tahap meninggalkan kotoran batin berupa keserakahan, kebencian, serta kegelapan batin. 

Dengan cara ini, dalam latihan bertahap seorang siswa berupaya mengembangkan kedermawanan sebagai awal dalam berlatih, berusaha melawan sifat kikir yang menghalangi kemurahan hati, selanjutnya melatih diri  dalam praktik pengendalian diri, menjaga moralitas supaya segala tindakan jasmani, tutur kata, serta pikirannya jernih, bebas dari segala noda kejahatan, dengan suatu harapan untuk memperoleh kesenangan indria, terlahir di alam kedewaan menikmati kesenangan surgawi. Namun kemudian menjadi ‘kecewa’ karena kesenangan indrawi itu bersifat mengikat dan menghalangi kemajuan latihannya dan sebaliknya berusaha untuk meninggalkannya. Berupaya mencari kebahagiaan yang lebih tinggi, Nibbāna (nibbānaṁ paramaṁ sukhaṁ).

Dengan memiliki sikap batin ini, seseorang yang mempunyai niat untuk berlatih tidak mempunyai kesukaran dalam upayanya mengerti ajaran-ajaran yang mendalam. Pada tahap ini seseorang akan merasa siap untuk melatih dirinya dalam mengerti ajaran yang lebih dalam yaitu memahami empat kebenaran mulia sebagai cara untuk membuka mata batin, merealisasi Nibbāna seperti Buddha dan para siswa ariya.


Renungan:

Sewaktu rumahku terbakar, aku akan menyelamatkan benda-benda yang berharga, bukan barang-barang yang tidak berharga. Sama seperti ketika usiaku semakin lama semakin melaju pada batas akhir, aku berupaya menyelamatkan benda-benda berhargaku, harta berupa kebajikan, sehingga ketika rumahku (jasmani) ini terbakar dan hancur, aku bisa membawa harta kebajikan sebagai bekal dalam kehidupan selanjutnya hingga tercapainya kebahagiaan tertinggi Nibbāna.

Dibaca : 6633 kali