x

Dhamma Sumber Kebahagiaan

Attā hi attano nātho ko hi nātho paro siyā
Attanā hi sudantena nāthaṁ labhati dullabaṁ.
Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari. 
(Dhammapada, 160)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menemukan umat Buddha yang ketika menghadapi permasalahan dalam hidupnya lalu mencari solusi yang jauh sekali dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha. Kesulitan serta permasalahan pribadi, dalam bidang usaha (bisnis), keluarga dan sebagainya, umumnya selalu ingin mencari solusi yang instan, tidak mau banyak usaha, apalagi praktik Dhamma. Padahal, Dhamma ajaran Sang Buddha itulah solusinya dalam kehidupan ini untuk bisa hidup bahagia. 
Dalam Mahāparinibbāna Sutta, Sang Buddha memberikan pesan kepada Bhikkhu Ananda: 
Siapa saja, apakah dia seorang bhikkhu, bhikkhuni, upāsaka atau upāsikā yang berpegang pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma, berkelakuan baik sesuai dengan Dhamma, oleh mereka itu Sang Tathāgata dihormati, dimuliakan, dihargai, dan dipuja.
Ananda, oleh karena itu, berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma dan berkelakuan baik sesuai dengan Dhamma. Demikianlah caranya kamu melatih diri.”
Dalam Aïguttara Nikāya, Pañcakanipatapāli (A.III.206), Sang Buddha menjelaskan bahwa sebagai upāsaka-upāsikā hendaknya berusaha untuk mengembangkan Pañca Upāsaka Dhamma atau lima kekayaan seorang upāsaka-upāsikā. Adapun yang dimaksud dengan Pañca Upāsaka Dhamma itu adalah:
1. Memiliki keyakinan (Saddhā) kepada Tiratana.
Keyakinan pada Tiratana (Tiga Permata), yaitu Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Sebagai umat Buddha harus memiliki keyakinan pada Tiratana. Namun harus dipahami bahwa keyakinan pada Tiratana harus disertai dengan pengertian yang benar. Umat Buddha mengerti dan memahami apa itu Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Dalam Saṁyutta Nikāya, Sang Buddha menyatakan Saddhā sadhu addhitthita, “Keyakinan yang benar membawa banyak kebaikan.”
2. Menjaga kesucian Sīla dengan baik. 
Sīla atau moralitas hendaknya dimiliki oleh upāsaka-upāsikā. Dalam hal ini lima sila bagi upāsaka-upāsikā, yaitu: bertekad untuk melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup, mengambil barang yang tidak diberikan (mencuri), perbuatan asusila, kata-kata yang tidak benar (berbohong, memfitnah, berkata kasar, membicarakan hal yang tidak bermanfaat), mabuk-mabukan (melemahkan kesadaran). Pada hari-hari tertentu, yaitu pada hari Uposatha, maka upāsaka-upāsikā bisa menambah latihan Pañcasīla menjadi delapan sīla (Aṭṭhasīla). Dalam Saṁyutta Nikāya Sang Buddha menyatakan: Sīlamaja-rasa sadhu, “Berkah dari pelaksanaan sila tidak akan pernah pudar.”
3. Tidak yakin pada ‘kotuhalamangalika’,
Menerima sesuatu yang baik dan buruk sebagai tanda kemalangan atau keberuntungan (takhayul). Dalam masyarakat banyak sekali suatu peristiwa yang dikait-kaitkan dengan pertanda, hari baik atau buruk, baik itu yang berkenaan dengan ‘mimpi’, tempat keramat, jimat dan sebagainya.
Maka bagi upāsaka-upāsikā yang memiliki pengertian yang benar tidak akan lagi terpengaruh oleh hal-hal tersebut. Dalam Majjhima Nikāya (I:39) pada waktu itu, Brahmana Sundarika Bharadvaja sedang duduk tidak jauh dari Sang Bhagavā dan ia berkata, “Apakah Sang Gotama yang baik akan turun ke Sungai Bahuka untuk mandi? Sang Buddha menjawab “Ada apakah di Sungai Bahuka? Seberapa pentingkah nilai Sungai Bahuka? “Tetapi, Sang Gotama yang baik, banyak orang percaya bahwa mereka dapat disucikan di Sungai Bahuka. Mereka menghanyutkan perbuatan-perbuatan jahatnya di sungai itu.” Kata Brahmana Sundarika Bharadvaja. 
Lalu Sang Bhagavā berucap: Di Bahuka dan di Adhikakka, di Gaya dan di Sundarika, di Sarassati dan di Payaga atau pun di Sungai Bahumati, si bodoh (batin), walaupun ia terus-menerus mandi di dalamnya, tidak akan dapat menghanyutkan perbuatan jahatnya. Apakah yang dapat diperbuat oleh sungai-sungai ini? Mereka tidak dapat menyucikan orang jahat atau orang yang bermaksud jahat. Bagi orang baik, setiap hari adalah (hari) khusus. Bagi orang baik, setiap hari adalah (hari) suci. Orang baik melaksanakan kebaikan setiap hari. Mandi di dalam hal itu, akan melindungi semua makhluk. Bila engkau tidak berdusta, tidak berbuat jahat, tidak mencuri, bila engkau memiliki keyakinan dan murah hati, apa manfaatnya pergi ke Gaya? Gaya adalah serupa dengan sumurmu di rumah.
4. Tidak mencari kebaikan dan kebenaran di luar Dhamma.
Manakala perjalanan hidup seseorang mulai dilanda persoalan dan kesulitan, banyak yang pergi ke tempat-tempat yang dianggap keramat yang dianggap akan menyelesaikan persoalan. Namun upāsaka-upāsikā yang memahami Dhamma tidak akan mendatangi tempat-tempat seperti itu atau sejenisnya.
5. Berbuat kebajikan sesuai dengan Dhamma. 
Upāsaka-upāsikā yang telah mengerti dan memahami Dhamma akan praktik Dhamma baik melalui pikiran, ucapan, maupun perbuatan.
Oleh karena itu hendaknya upāsaka-upāsikā selalu mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan, sehingga selain menambah kebajikan tentu hal tersebut akan menjadi sebab kebahagiaan, baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang. Dengan kebajikan-kebajikan yang dipraktikkan untuk mengikis sedikit demi sedikit kegelapan batin untuk tercapainya kebahagiaan yang tertinggi yaitu Nibbāna.
Semoga semua makhluk berbahagia.   
Referensi :
- Dhammapada, Bahussuta Society
- Buddha Vacana, Yayasan Penerbit Karaniya
- Berita Dhammacakka No. 551, Dhammacakka 06 Maret 2005
- http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/mahaparinibbana-sutta/

Dibaca : 4837 kali