x

Perilaku Yang Bijaksana

Asevanā ca bālānaṁ, Panditānañca sevanā 
Pūjā ca pūjanāyanaṁ, Etamaṅgalamuttamaṁ
Tak bergaul dengan orang-orang dungu, bergaul dengan para 
Bijaksanawan, dan menghormat yang patut dihormat, itulah berkah utama.

(Maṅgala Sutta, Khuddaka Nikāya, Khuddhakapāṭha)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa


Kisah  Perayaan  Balanakkhatta


“Suatu waktu perayaan Balanak-khatta dirayakan di Savatthi. Selama perayaan ini, beberapa pemuda melumuri tubuhnya dengan debu dan kotoran sapi, berkeliling kota sambil berteriak-teriak. Perbuatan mereka menyusahkan masyarakat. Mereka juga berhenti di setiap pintu dan tidak akan pergi sebelum diberi uang. 

Waktu itu, beberapa murid Sang Buddha yang hidup berumah tangga berdiam di Savatthi. Melihat kejadian tersebut, mereka mengirimkan utusan untuk menghadap Sang Buddha, meminta Beliau untuk tetap tinggal di vihara dan tidak ke kota selama tujuh hari. Mereka mengirimkan makanan ke vihara, dan mereka sendiri tinggal di dalam rumah.

Pada hari ke delapan, ketika perayaan telah usai, Sang Buddha dan muridnya diundang ke kota untuk makan siang. Mereka membicarakan tindakan para pemuda yang kasar dan memalukan itu selama perayaan berlangsung. Sang Buddha memberikan komentar bahwa hal itu adalah wajar, bahwa kebodohan dan ketidaktahuan akan membuat seseorang melakukan perbuatan yang memalukan.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 26 dan 27 berikut ini:

Orang dungu yang berpengertian dangkal, terlena dalam kelengahan.

Sebaliknya, orang bijaksana senantiasa menjaga kewaspadaan, seperti menjaga harta yang paling berharga.

Jangan terlena dalam kelengahan,

Jangan terikat pada kesenangan-kesenangan indria.

Orang yang waspada dan rajin bersamadhi, akan memperoleh kebahagiaan sejati.”


Banyak sekali budaya atau tradisi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, yang mana budaya atau tradisi ini masih dipertahankan secara turun-temurun sejak dahulu kala. Untuk lebih mudah dipahami dan tidak salah mengartikan apa itu budaya dan tradisi maka kita perlu memahami artinya.

Pengertian Budaya:

1.Pikiran, akal budi;

2.Adat istiadat; 

3.Sesuatu mengenai kebudayaan yang   sudah berkembang (beradab, maju);

4.Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah.

Sedangkan Tradisi artinya adalah, 

1.Adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; 

2.Penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar.


Jadi karena sudah jadi budaya dan tradisi, umumnya hal tersebut sudah jadi kebiasaan, dan masyarakat yang melihat, menjumpai hal tersebut, tidak lagi mempersoalkan.


Sebagai umat Buddha kita tentu harus berpedoman pada Dhamma, sebagai upasaka-upasika menjalankan lima latihan moralitas (Pañcasīla Buddhis). Pada suatu ketika Suku Kalama pernah bertanya pada Sang Buddha ajaran mana yang baik yang harus diikuti, karena mereka menjadi bingung setelah ajaran-ajaran itu saling bertentangan ketika ada beberapa Brahmana atau Petapa mengajarkan ajaran mereka masing-masing. Sang Buddha menjelaskan bahwa jangan percaya atau mengikuti begitu saja tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau kalian berpikir ’Petapa itu adalah Guru kami.’ Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, ‘hal-hal ini adalah tidak bermanfaat, hal-hal ini dapat dicela; hal-hal ini dihindari oleh para Bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktikkan, menuju kerugian dan penderitaan’, maka kalian harus meninggalkannya.’


“Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, ‘Petapa itu adalah guru kami.’ Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, ‘Hal-hal ini adalah bermanfaat, hal-hal ini tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktikkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan’, maka kalian harus menjalankannya.


Menyimak apa yang telah Sang Buddha nyatakan di dalam Kalama Sutta, hendaknya kita bisa bersikap sesuai dengan Dhamma, karena hal tersebut akan mengarahkan kita pada kesejahteraan dan kebahagiaan. Di dalam Kitab Theragāthā, Khuddaka Nikāya dinyatakan ‘Seorang yang bijaksana seharusnya tak berkawan dengan para pendendam, pemarah, pendengki, ataupun mereka yang bergembira atas penderitaan orang lain. Sesungguhnya, bergaul dengan orang-orang yang berperilaku buruk adalah tidak menguntungkan. Seseorang yang bijaksana seharusnya berkawan dengan mereka yang percaya (yakin pada Dhamma), pemurah, bijaksana, dan juga mereka yang tekun belajar. Sesungguhnya, bergaul dengan orang-orang yang berperilaku baik adalah berkah.’


Dalam Kitab Itivuttaka, Khuddaka Nikāya, Sang Buddha menyatakan ‘Jika seseorang yang tidak melakukan kejahatan berkawan dengan seorang yang jahat, ia sendiri akan dicurigai sebagai orang jahat, dan reputasinya akan runtuh. Sesuai dengan teman-teman yang dimilikinya, sesuai dengan orang yang diikutinya, demikianlah seseorang akan terbentuk, seperti orang-orang yang berhubungan dengannya. Seperti pengikut dan yang diikuti, penyentuh dan yang disentuh, sebatang anak panah yang dilumuri dengan racun, mencemari seluruh anak panah yang tak beracun, sehingga semuanya tercemar. Seseorang yang teguh yang tidak ingin dicemari, selayaknya tidak berteman dengan orang dungu. Jika seseorang mengikat sekerat ikan yang telah busuk dengan seutas rumput kusa, rumput itu juga akan berbau busuk. Demikian pula dengan seseorang yang mengikuti orang dungu. Jika seseorang membungkus kayu cendana dengan selembar daun, daun itu juga akan berbau harum. Demikian pula dengan seseorang yang mengikuti orang bijaksana. Dengan mengingat contoh tentang daun pembungkus, dan mengerti hasilnya, seseorang seharusnya bersahabat dengan orang bijaksana, dan jangan bersahabat dengan orang dungu,’

Semoga semua makhluk berbahagia.


Referensi:

Paritta Suci, Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia, 2012

Buddha Vacana, Yayasan Penerbit Karaniya, 1995

http://kbbi.web.id/budaya

http://kbbi.web.id/tradisi

www.samaggi-phala.or.id


Dibaca : 2729 kali