x

Membimbing Diri Dengan Benar

Attasammāpaṇidhi, Etammaṅgalamuttamaṁ
Membimbing diri dengan benar, itulah Berkah Utama.
(Maṅgala Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Secara harfiah, kata ganti ”Atta” berarti ”Diri”, kata keterangan ”sammā” berarti ”benar”, sedangkan kata kerja ”paṇidhi” berarti “menuntun, membimbing, atau mengarahkan.” Jadi, rangkaian seluruh kosakata itu bermakna, ”Membimbing diri dengan benar.”

Memang sudah merupakan kecenderungan umat manusia yang wajar untuk berbuat kesalahan, kekeliruan, kekhilafan. Namun, hal-hal semacam ini tidak seharusnya dibiarkan terjadi berulang-ulang dan terus menerus hingga menjadi kaprah. Orang bijaksana senantiasa berusaha sedini mungkin memperbaiki setiap kesalahan, kekeliruan, dan kekhilafan yang pernah dilakukan dengan sadar maupun tak sadar. Usaha perbaikan inilah dalam Agama Buddha dikatakan “membimbing diri dengan benar.” Ungkapan membimbing diri secara benar ini tentunya juga mencakup makna meningkatkan kebajikan, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan yang telah dimiliki hingga menjadi sempurna. Menyadari betapa besar manfaatnya bagi mereka yang mendambakan kemajuan, peningkatan dan perkembangan batiniah, Sang Buddha Gotama bersabda bahwa "Membimbing Diri dengan Benar"  adalah suatu Maṅgala, suatu Berkah Utama. 

Seseorang yang dahulunya tidak mempunyai sila tetapi kemudian mejaga kesusilaan (sīla); atau seseorang yang dahulunya tidak mempunyai keyakinan tetapi kemudian membangkitkan keyakinan (saddhā); atau seseorang yang dahulunya kikir/pelit tetapi kemudian mengembangkan kemurahan hati atau kedermawanan (caga); mereka inilah yang dikatakan "Membimbing Diri dengan Benar." Ini contoh sikap yang nyata dalam mengarahkan diri secara benar. Selain itu tentunya masih ada sikap yang lain lagi, misalnya: dari jahat berubah menjadi baik, dari biadab berubah menjadi beradab, dari kejam berubah menjadi welas asih, dari culas berubah menjadi jujur, dari ceroboh berubah menjadi waspada, dari malas berubah menjadi rajin, dari berkhianat berubah menjadi berbakti, dari pemarah berubah menjadi penyabar, dari pendendam berubah menjadi pemaaf, dan banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu di sini. Patokannya ialah bahwa segala perubahan dari sesuatu yang dipandang oleh agama, tradisi, dan kebudayaan sebagai hal yang negatif beralih ke hal yang positif.

Dalam lingkup yang lebih luas, definisi “Attasammāpaṇidhi” kiranya dapat disepadankan dengan definisi “sammāppadhāna (upaya benar)” sebagaimana yang terdapat dalam Saṁyutta Nikāya: V.9 atau dalam kitab Vibhaṅga, Abhidhamma Pitaka yang menyebutkan empat tahapan yang harus dilakukan untuk membimbing diri dengan benar, yaitu sebagai berikut:
1. Menyadari kejahatan (pāpa) yang    sudah muncul.
2. Mencegah timbulnya kejahatan yang belum muncul.
3. Menimbulkan kebajikan (kusala) yang belum muncul.
4. Mempertahankan/ mengembangkan kebajikan yang sudah muncul. 

Perlukah Mengarahkan Diri Secara Benar?
Dalam Kitab Dhammapada, Attavagga syair 157 berbunyi: "Seseorang yang mencintai dirinya sendiri hendaknya menjaga dan mengarahkan dirinya secara benar". Dari kutipan tersebut, tertampaklah dengan jelas betapa penting upaya mengarahkan diri secara benar. Ini tidak hanya akan membuahkan manfaat terbatas bagi diri sendiri, melainkan juga bagi orang lain. Ditinjau dari segi sosial, seseorang yang mengarahkan diri secara benar tentunya tidak akan menjadi ancaman atau bahaya apa pun bagi masyarakat luas di sekelilingnya. Bahkan lebih jauh, dengan mengarahkan diri secara benar, seseorang dapatlah dianggap telah ikut serta secara nyata dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera, bahagia, makmur, damai, dan sentosa. Dengan menyadari manfaat yang besar tersebut, sudah selayaknya jika setiap orang berusaha mengarahkan diri secara benar.

Memang, cukup sukar untuk dapat mengintrospeksi atau melihat kesalahan, kekeliruan, atau kekhilafan yang terdapat dalam diri sendiri. Jauh lebih sulit lagi ialah memperbaiki kesalahan yang telah terlihat. Namun, ini semua bukanlah suatu hal yang mustahil. Senantiasa terpampang kesempatan yang luas bagi setiap orang untuk memperbaiki serta meningkatkan tataran batinnya hingga mencapai kesempurnaan. Bagaikan nahkoda yang tanggap, yang dengan tangkas membalikkan arah kapal dari rute yang salah sebelum kandas terhajar karang, demikian pula hendaknya orang bijaksana, yang dengan sadar mengarahkan (membalikkan) dirinya dari jalur yang keliru sebelum jatuh terperosok dalam kepekatan.

Penekanan pada Usaha Sendiri
Satu hal yang paling penting dalam membimbing diri dengan benar ini ialah bahwa usaha ini haruslah dilakukan oleh diri sendiri. Usaha ini tidaklah mungkin dapat dilimpahkan atau diserahkan kepada orang lain. Siapapun gerangan orangnya dan apapun juga kedudukannya.

Dalam lingkup yang luas, Sang Buddha Gotama bersabda: "Oleh diri sendiri kejahatan diperbuat, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan dihindari, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau ternoda tergantung pada diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat menyucikan orang lain. " (Dhammapada, Attavagga 165).

Dari sabda di atas dapatlah dinyatakan secara tegas bahwa dalam Agama Buddha, usaha sendiri senantiasa memegang peranan yang paling utama dalam meraih kemajuan, peningkatan, dan perkembangan batiniah. Tanpa usaha sendiri, sangatlah mustahil bagi seseorang untuk mengharapkan adanya orang lain yang akan menganugrahkan kemajuan, peningkatan, dan perkembangan batiniah pada dirinya secara cuma-cuma. Dengan perkataan lain dapatlah dikatakan bahwa apakah seseorang berhasil meraih kemajuan, peningkatan, dan perkembangan batiniah; semua itu tergantung sepenuh pada diri sendiri bukan orang lain, dewa, malaikat, juru selamat, makhluk adikodrati atau siapa pun juga. Dalam banyak kesempatan, Sang Buddha Gotama menandaskan: "Engkau sendirilah yang harus berusaha. Para Buddha hanyalah Penunjuk Jalan." Lebih lanjut, Beliau juga bersabda: "Diri sendirilah pelindung bagi diri sendiri.

Sumber: 
- Dhammadhīro (Penyaji). 2005. Paritta Suci. Jakarta: Saṅgha Theravada Indonesia.
- Sañjīvaputta Jan. 1991. Maṅgala Berkah Utama. Tanpa Kota: Lembaga Pelestari Dhamma.

Dibaca : 4872 kali