x

MENGHADAPI DELAPAN KONDISI DUNIA (AṬṬHALOKADHAMMA) DENGAN SIKAP BIJAK

Selo yathā ekaghano, Vātena na samãrati
Evaṁ nindāpasaṁsāsu, Na samiñjanti paṇḍitā.
“Bagaikan batu karang padat tidak goyah oleh badai sekalipun.
Demikian pula, para bijak tidak goyah baik oleh hinaan maupun pujian.”
(Dhammapada Syair 81)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Pada suatu waktu ada peristiwa istimewa seperti hari ulang tahun kelahiran, tahun baru, atau bahkan hari-hari besar keagamaan. Umumnya masyarakat menggunakan momen demikian untuk berdoa dengan harapan agar mendapatkan kebahagiaan, banyak rejeki, kesehatan, dan tercapai apa yang dicita-citakan. Kebiasaan masyarakat yang mulai menjadi tradisi ini dilakukan karena pada dasarnya setiap manusia mendambakan kebahagiaan. Tidak ada seorang pun yang menginginkan kesusahan dalam hidup. 

Namun demikian, jika seseorang mau kembali menilik ke belakang, ke waktu-waktu yang telah dilewati meskipun hanya kebahagiaan yang diinginkan, pada kenyataannya, acapkali harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Kebahagiaan yang diidamkan tidak diperoleh, namun penderitaanlah yang justru datang menerjangnya. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa kadangkala seseorang mendapatkan apa yang diinginkan, dan bahkan kebahagiaan yang diperoleh pun melimpah lebih dari apa yang diimpikan. Belajar dari pengalaman-pengalaman aktual yang telah lewat, seseorang mengetahui bahwa dalam hidup, bahagia atau derita dan berhasil atau gagal,  merupakan kondisi-kondisi dunia yang tidak dapat dielakkan. 

Berhubungan dengan ini, Sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya IV, 157 menyebutkan terdapat delapan kondisi dunia (aṭṭhaloka dhamma) yang harus dihadapi oleh setiap manusia. Mereka adalah untung – rugi (lābho ca alābho ca), popularitas – ketidakterkenalan (yaso ca ayaso ca), hinaan – pujian (nindā ca pasaṁsā ca), dan suka – duka (sukhañca dukkhañca). Delapan kondisi dunia ini dialami oleh siapapun tanpa terkecuali, baik oleh mereka yang bodoh maupun bijak. Bahkan, Sang Buddha sebagai manusia yang sangat agung serta sempurna baik dalam perilaku moral maupun pengetahuan juga tidak terlepas dari delapan kondisi ini. Beliau tidak hanya memperoleh popularitas, penghormatan, atau pun pujian saja. Tetapi, juga harus berhadapan dengan beragam masalah yang secara umum dianggap masyarakat sebagai negatif.

Sebagai contoh beliau pernah difitnah oleh pertapa wanita bernama Cinca, yang menuduh Sang Buddha telah menghamilinya (Dhammapada Aṭṭhakathā III, 177-80). Jika Sang Buddha saja masih harus berhadapan dengan kondisi-kondisi demikian, bagaimana dengan kita? Oleh karena itu, pada suatu kesempatan Sang Buddha menegaskan bahwa setiap orang; baik diam, sedikit bicara, apalagi yang banyak bicara akan mendapatkan celaan. 

Walaupun delapan kondisi dunia ini tidak dapat dihindari oleh siapapun, pada umumnya manusia bersedih dan tidak suka ketika kondisi-kondisi yang harus dihadapi tidak menguntungkan. Sebaliknya, ketika berada di comfort zone dengan kondisi-kondisi menguntungkan, kemelekatan segera muncul pada dirinya, seakan-akan apa yang didapat tidak akan berubah. Kebiasaan pikiran yang terus diombang-ambingkan oleh suka dan tidak suka berhubungan dengan delapan kondisi dunia ini, merupakan kebiasaan yang tidak sehat. Oleh karena itu, perlu diubah. Terkait dengan hal ini, belajar dan mempraktikkan Dhamma bertujuan untuk mengubah cara pandang maupun sikap kita dalam menghadapi delapan kondisi dunia ini. Dalam praktik Dhamma, kita diajarkan bagaimana agar mampu bersikap secara bijak manakala berhadapan dengan kondisi-kondisi ini. Kita diajarkan untuk mempertahankan batin yang seimbang tidak melekat atau pun membenci dalam kondisi menguntungkan maupun rugi. Sikap ini merupakan kwalitas batin para bijak yang patut dicontoh. Mereka diibaratkan seperti  batu karang yang tidak goyah oleh badai sekalipun. Batin tidak menggenggam walaupun berhadapan dengan obyek-obyek yang menyenangkan, dan tidak resah meskipun diterjang oleh obyek-obyek yang menyakitkan. Salah satu pernyataan dalam Maïgala Sutta menegaskan hal ini yang mana dikatakan bahwa batin seorang bijak tidak akan gemetar meskipun harus bersentuhan dengan fenomena duniawi (puṭṭhassa lokadhammehi cittaṁ yassa na kampati).

Poin penting yang perlu digarisbawahi disini adalah bagaimana seseorang dapat melatih diri agar mampu bersikap tenang seimbang dalam kondisi apapun. Ada banyak faktor Dhamma yang dapat digunakan sebagai panduan batin dalam menyikapi kondisi-kondisi dunia. Beberapa diantaranya adalah:
1. Renungkan hukum kamma (hukum sebab dan akibat) bahwasanya kebahagiaan dan penderitaan disebabkan oleh diri sendiri. Artinya, delapan kondisi dunia yang disebutkan di atas tidak terlepas dari perbuatan diri sendiri. Seseorang mendapatkan keuntungan, popularitas, pujian maupun kebahagiaan karena buah dari perbuatan bajiknya. Sebaliknya; kerugian, nama baik yang tercemar, hinaan maupun penderitaan disebabkan karena perbuatan jahat yang pernah dilakukan tengah berbuah. Dengan merenungkan bahwa seseorang adalah pemilik dan pewaris dari perbuatannya sendiri, seseorang akan mampu menerima dengan hati terbuka, tenang dan seimbang apa pun kondisi yang datang kepadanya.
2. Renungkan hukum anicca (ketidakkekalan) bahwasanya apapun yang berkondisi bersifat tidak kekal, senantiasa berubah, dan tidak dapat dipertahankan. Karena karakteristik dunia adalah demikian adanya, seseorang tidak akan mungkin selamanya mendapatkan keuntungan, popularitas, pujian, dan kebahagiaan, tetapi juga harus mengalami kondisi-kondisi lain yang tidak menguntungkan. Perenungan demikian, jika direnungkan hingga menjadi kokoh dalam batin dan dijadikan sebagai sikap hidup, juga sangat membantu seseorang agar batinnya tidak terus tertekan oleh reaksi suka dan tidak suka. 
3. Renungkan pula bahwa pada hakekatnya hidup adalah dukkha (penderitaan). Melihat bahwa hidup adalah penderitaan bukan merupakan sikap pesimis. Ini adalah cara memandang fenomena sesuai dengan realitas. Melihat dukkha disini berhubungan erat dengan fakta ketidakkekalan yang terjadi pada semua fenomena yang berkondisi. Hidup adalah penderitaan karena sesungguhnya apapun yang dimiliki seseorang termasuk kebahagiaan duniawi atau kebahagiaan-kebahagiaan yang berada di alam tumimbal lahir tidak dapat dipertahankan. Dengan menyadari fakta dukkha ini, seseorang akan mampu bersikap tenang dan seimbang dalam kondisi apapun, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. 
4. Renungkan dan jadikan sikap batin bahwa dalam realitas yang sebenarnya segala sesuatu adalah anatta (tanpa diri, aku ataupun roh). Artinya, apapun kondisi yang ada meliputi fenomena hidup maupun benda tidak hidup pada hakekatnya tidak memiliki pemilik ataupun yang dimiliki. Semua yang terjadi di dunia hanya merupakan proses dari sebab-musabab yang saling bergantungan antara satu fenomena dengan fenomena lainnya, sementara dalam fenomena-fenomena ini tidak ditemukan ‘inti’, ‘diri’ ataupun ‘aku’. Berhubungan dengan topik bahasan tersebut, jika melihat jauh ke dalam batin, seseorang akan menemukan sebab mengapa ia marah ketika dirugikan atau dihina, ditimbulkan karena dalam batinnya ada kecenderungan bahwa ada ‘diri’ atau ‘aku’ lain yang merugikan dan menghinanya dan ada ‘diri’ atau ‘aku’ ini (dalam dirinya) yang dirugikan atau dihina. Kecenderungan yang sama juga ada ketika seseorang begitu bergembira dan melekat terhadap pengalaman-pengalaman yang menguntungkan dirinya. Dengan melihat bahwa tiada diri dalam apapun proses kehidupan termasuk dalam delapan kondisi dunia di atas, seseorang menjadi lebih mampu bersikap tenang dan seimbang dalam menapaki kehidupannya.
5. Jadikanlah apapun kondisi dunia termasuk pengalaman-pengalaman pahit yang menghimpit sebagai media untuk pengembangan batin. Berkenaan dengan hal ini, pada umumnya manusia melihat pengalaman yang tidak menyenangkan sebagai beban hidup penyebab penderitaan, sehingga harus segera dilenyapkan. Sebaliknya, dalam ajaran Sang Buddha, pengalaman pahitpun dapat dijadikan sebagai media untuk pengembangan batin. Justru pada saat seseorang dihimpit oleh pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan, ia mendapatkan kesempatan untuk melihat dan mengamati batinnya sejauh mana ia memiliki kesabaran. Oleh karena itu, Sang Buddha pernah menegaskan bahwa kritikan seseorang justru harus dianggap sebagai guru, karena disitulah seseorang dapat melatih kesabaran sekaligus mengintrospeksi dirinya lagi, apakah dirinya sudah  benar atau masih salah. Cara yang sama hendaknya dilakukan dalam menghadapi apapun kondisi yang tidak menyenangkan. Dengan cara demikian, seseorang akan tetap bersikap seimbang dalam menghadapi setiap fenomena termasuk apapun yang tidak menyenangkan. 

Selamat mempraktikkan Dhamma!!!

Dibaca : 4376 kali