x

HARMONI KEHIDUPAN

Te tādise pūjayato nibbute akutobhaye, 
Na sakkā puṭṭaṁkhātuṁ imettamapi kenaci.
Ia yang menghormati orang-orang suci yang telah menemukan kedamaian dan telah bebas dari ketakutan, maka jasa perbuatannya tak dapat diukur dengan ukuran apapun. 
(Dhammapada, Buddhavagga, Syair 196)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Pernahkah anda mendengar pepatah dalam bahasa Jawa yang berbunyi, “rukun agawe santoso, crah agawe bubrah?” Pepatah ini patut direnungkan oleh semua orang yang mendambakan hidup dalam kedamaian. “Rukun agawe santoso” berarti kerukunan akan membentuk sebuah kekuatan. Jika setiap orang bisa hidup dengan rukun dan tidak berpandangan subyektif tentang perbedaan, maka masyarakat dan bangsa ini akan kuat. Tetapi, akan terjadi sebaliknya jika kehidupan saat ini jauh dari kerukunan yang dapat kita artikan dari “Crah agawe bubrah” maksudnya ketika semua orang tidak rukun dan selalu konflik maka akan membuat kebersamaan ini menjadi hancur. 

Tatanan kehidupan saat ini mudah rusak karena masyarakatnya tidak menjunjung tinggi kehidupan yang beragam. Perbedaan akan dijadikan alasan untuk  menghina atau menindas yang lain. Tentu semua orang tidak mau hidup dalam suasana seperti itu, setiap orang berharap kehidupannya harmoni. Kehidupan yang harmoni akan menciptakan rasa aman, damai, tentram, bahagia, dan sejahtera. Kehidupan harmoni adalah suatu kehidupan yang didambakan banyak orang. Lalu, “Bagaimana setiap orang dapat mewujudkannya?”

Dalam Dhammapada syair 196, Sang Buddha menjelaskan: “Ia yang menghormati orang-orang suci yang telah menemukan kedamaian dan telah bebas dari ketakutan, maka jasa perbuatannya tidak dapat diukur dengan ukuran apapun.” Jika anda merenungkan syair Dhammapada tersebut, seseorang yang selama masa kehidupannya selalu berbuat jasa kebajikan maka dirinya akan memperoleh kedamaian dan telah terbebas dari ketakutan. Kedamaian merupakan langkah awal dari suatu keharmonisan. 

Keharmonisan menurut Sārāṇīyadhamma Sutta dapat diartikan ketika setiap orang memiliki enam hal yang membuat saling dikenang, saling mencintai, saling menghormati, memiliki sikap saling tolong menolong, menjauhkan diri dari ketiadacekcokan, kerukunan, dan kesatuan. Apakah keenam hal tersebut?
1. Ketika seseorang dapat melakukan perbuatan yang dilandasi dengan pikiran cinta kasih (metta) terhadap semua orang di sekitarnya. Perbuatan baik yang dilandasi dengan pikiran cinta kasih (metta) merupakan perbuatan yang setiap saat anda lakukan melalui tubuh jasmani (kūsala kāya kamma). Perbuatan tersebut meliputi; pertama, tidak melakukan pembunuhan makhluk hidup. Kedua, tidak melakukan pencurian terhadap barang milik orang lain atau hak orang lain anda rampas. Ketiga, tidak melakukan perbuatan asusila atau selingkuh.
2. Ketika seseorang memiliki ucapan yang dilandasi dengan pikiran cinta kasih (metta) terhadap semua orang di sekitarnya. Ucapan yang dilandasi dengan pikiran cinta kasih (metta) tentunya ucapan yang benar (Samma Vāca) ucapan benar meliputi; Pertama, ucapan yang tidak berdusta / berbohong dengan tujuan untuk menipu dan merugikan orang lain (Musāvādā). Kedua, tidak mengucapkan kata-kata memfitnah atau mengadu domba orang lain (Pisunavàca).  Ketiga, tidak mengucapkan kata-kata kasar (Pharusavaca). Keempat,  tidak mengucapkan kata-kata yang tak berguna, omong kosong/menggosip (Samphappālapa). 
3. Ketika seseorang dapat mengembangkan pikiran yang dilandasi dengan cinta kasih (metta) terhadap semua orang di sekitarnya. Pikiran yang dilandasi dengan cinta kasih (metta) meliputi; Pertama, pikiran yang terkendali tentunya pikiran yang tidak dipenuhi dengan ketamakan/keserakahan (Alobha). Kedua, pikiran yang tidak dipenuhi dengan ketidaksenangan atau ketidaksukaan sehingga menimbulkan niat jahat (byāpada), kesombongan (māna), iri hati (Issā), kikir (Macchariya), kekhawatiran (kukkūcca), serta keragu-raguan (vicikicchà). Ketiga, tidak memiliki pandangan yang salah karena ketidaktahuan dan mengetahui secara salah (amoha). Selain itu, mengembangkan pikiran bisa juga dilakukan dengan melatih konsentrasi benar (sammā samādhi), selalu berpikiran ke arah yang positif, memiliki niat yang baik dengan mengharapkan orang lain berbahagia atau ikut berbahagia atas keberhasilan orang lain (mudita citta).
4. Ketika seseorang memiliki  kedermawanan (Cāga) terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.
Kedermawanan adalah ketika seseorang memberikan yang telah diperolehnya dengan melepaskan tanpa mengharap imbalan apapun. Oleh karena itu, setiap orang yang mengharapkan keuntungan material dari sebuah pemberian bukanlah seorang yang dermawan, karena ia hanya melakukan proses tukar menukar perbuatan baik (barter). Setiap orang yang dermawan tidak akan membuat orang lain merasa berhutang budi kepadanya atau menggunakan kedermawanan untuk menguasai mereka. Ia bahkan tidak mengharapkan orang lain berterima kasih. 
5. Ketika seseorang memiliki kesamaan dalam mempraktikkan moralitas (Sīla) dengan semua orang di sekitarnya.
Memiliki kesamaan dalam mempraktikkan moralitas (Sīla) merupakan langkah selanjutnya bagi setiap orang untuk dapat hidup harmoni, mengapa dikatakan demikian? Moralitas (Sīla) Buddhis didasarkan pada hukum universal tentang sebab dan akibat dari perbuatan (Kamma), sehingga setiap orang dapat menilai tindakan yang dilakukan terhadap diri sendiri maupun orang lain. Suatu tindakan akan membawa kebahagiaan dan keuntungan bagi diri sendiri jika tidak menyebabkan derita fisik dari jasmani maupun mental pada makhluk lain. 
6. Ketika seseorang mempunyai kesamaan dalam pemegangan pandangan yang benar (Sammādiṭṭhi) terhadap semua orang di sekitarnya. Apakah yang dimaksud memiliki pandangan yang benar? Menurut Ven. Saṅgharakshita, pandangan benar adalah pandangan sempurna, memiliki pengertian suatu cara kehidupan seseorang akan terwujud ketika pikiran atau kehendak, perbuatan dan ucapan seseorang benar. Pandangan benar adalah suatu pengetahuan atau pemahaman mengenai dukkha, sebab dukkha, penghentian dukkha, serta jalan menuju penghentian dukkha secara benar (Digha Nikaya, 22). Dukkha tersebut dapat dipahami sebagai ketidaksenangan atau ketidakpuasan terhadap kenyataan dari segala sesuatu. 

Semua perbuatan yang dilakukan akan berpulang kepada diri sendiri, jika setiap orang mampu dan mau menciptakan kedamaian dan rasa aman di dalam dirinya maka keharmonisan akan menjadi milik semua orang. Perbedaan pendapat pasti ada di dalam setiap komunitas, akan tetapi janganlah karena perbedaan kemudian dijadikan persoalan dan perselisihan. Dengan saling menghormati, saling mencintai, dan saling mengenang akan perbuatan yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Semoga harmoni dengan kehidupan anda, dan marilah kita bersama-sama menjaga tali kerukunan dan kebersamaan yang sudah kita lakukan setiap minggunya.

Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā… 

Referensi:
Depag Agama Buddha. 2005. Kitab Suci Dhammapada. Dewi Kayana Abadi
Bodhi, Bhikkhu. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya. Vihara Bodhivaṁsa: Klaten
Abhayanando, Bhikkhu. 2008. Senandung Kehidupan. Graha Metta Sejahtera
Dhammananda, Sri. Dr. 2012. Keyakinan Umat Buddha. Ehipassiko Foundation

Dibaca : 6197 kali