x

TANTANGAN BHIKKHU DI ERA GLOBALISASI

Yesaṁ sannicayo natthi ye pariññātabhojanā suññato animitto ca
Vimokkho yassa gocaro ākāse’va sakuntānaṁ gati tesam durannayā.
Mereka yang tidak lagi mengumpulkan harta duniawi, yang sederhana dalam makanan, 
yang telah mencapai kebebasan maka jejak mereka tidak dapat dilacak
bagaikan burung-burung di angkasa.
(Dhammapada, VII: 92)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Sang Buddha menjelaskan bahwa dunia ini diliputi oleh penderitaan dan sampai sekarang pun penderitaan itu tetap masih ada. Penderitaan memang akan tetap ada meskipun saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat dan menjanjikan kemudahan bagi manusia, namun penderitaan dan masalah-masalah dunia ini tidaklah pernah sirna.

Walaupun saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang, tetapi ini tidak dapat begitu saja meningkatkan kualitas batin seseorang, bahkan ini dapat meningkatkan egoistis orang. Dunia terus berkembang, akan tetapi manusia cenderung kurang memiliki pengendalian diri terhadap masalah-masalah yang dihadapinya. Demikian pula menjadi seorang bhikkhu, banyak sekali tantangannya baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Apalagi pengaruh teknologi informasi yang mengakibatkan mereka menjadi tidak sabar untuk berusaha dan menunggu agar masalah yang sedang dihadapinya itu berubah. Mereka ingin segera keluar dari masalah yang dihadapi, untuk itu mereka menggunakan cara apa saja tanpa mau tahu apakah cara itu baik atau tidak. Justru teknologi mengajarkan tentang hal-hal yang instan, hal ini sama artinya dengan mengajarkan ketidaksabaran.

Kita bisa lihat ketika seseorang kehilangan pengendalian diri dan kesabaran, maka akan menjadi pemicu kendurnya latihan. Kemudian konflik terjadi pada diri sendiri atau disebut perang batin. Hilangnya pengendalian diri dan kesabaran akan mengakibatkan pertengkaran, suburnya egositas, dan sebagainya. Orang yang kurang memiliki pengendalian diri dan kesabaran, dalam menghadapi persoalan akan jatuh ke dalam pikiran-pikiran yang tidak realistis. Pikiran yang tidak terlatih ibarat laut yang bergelombang yang akan selalu kacau dan penuh dengan persoalan, juga hampir tidak ada tempat untuk kesabaran.   

Apa tantangan bhikkhu yang diajarkan oleh Sang Buddha tetap eksis sampai sekarang? Tentunya tetap eksis dikarenakan apa yang dijelaskan oleh Sang Buddha dalam Catuma Sutta Majjhima Nikāya II, Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu, “Para bhikkhu, ada empat bahaya yang didapat bagi seorang yang terjun ke dalam air. Apakah ke-empat bahaya itu? Bahaya dari ombak, bahaya dari buaya, bahaya dari pusaran air, dan bahaya dari ikan buas/hiu. Ini adalah empat macam bahaya yang dapat terjadi juga dalam Dhamma dan Vinaya.”

Apakah bahaya dari ombak? Apabila sahabat brahmana mendesak dan menyuruhnya, “Demikian engkau harus keluar, demikian engkau harus kembali, demikian engkau harus melihat ke depan, demikian engkau harus melihat ke sekeliling, demikian harus beranjali, demikian harus membawa jubah dan mangkuk.” Bila ia berpikir begini, “Ketika aku hidup berumah tangga dulu, aku terbiasa menyuruh dan mendesak orang lain, tetapi sekarang aku didesak dan disuruh oleh orang muda sebaya seperti anakku sendiri.” Ia merasa tidak puas dan marah lalu meninggalkan latihan, dia kembali kepada kehidupan duniawi dan menjadi umat awam. Para bhikkhu, ia meninggalkan vinaya dan kembali pada kehidupan duniawi karena marah; inilah yang disebut sebagai orang yang ditakut-takuti bahaya ombak. Bahaya dari ombak ini adalah sama artinya dengan amarah.

Apakah bahaya dari buaya? Apabila sahabat brahmana mendesak dan menyuruhnya, “Ini boleh kau makan, ini tak boleh kau makan, ini boleh kau ambil, ini tak boleh kau ambil, ini boleh kau cicipi, ini tak boleh kau cicipi, ini boleh kau minum, ini tak boleh kau minum…engkau tidak boleh minum apa yang tidak diperbolehkan, engkau harus makan pada waktu yang tepat, engkau tidak boleh makan pada waktu yang salah…dan seterusnya. “Dulu ketika aku masih hidup sebagai perumah tangga, aku makan yang aku suka, aku tidak mengambil yang tidak aku suka,…tetapi bila seorang kepala rumah tangga yang setia memberi aku makanan yang mewah, padat, dan lembut pada waktu yang salah, seolah ia menguji mulutku”. Oleh karena itu ia meninggalkan latihan, dia kembali kepada kehidupan duniawi. Inilah yang disebut sebagai orang yang ditakut-takuti bahaya buaya. Bahaya dari buaya ini sama artinya dengan kerakusan (pada makanan dan minuman).

Apakah bahaya dari pusaran air? Bila dia berpikir begini, “Dulu ketika aku menjalani kehidupan rumah tangga, memanjakan dan memberikan diri dengan lima saluran kesenangan indera, aku mendapatkan kebahagiaan. Karena adanya harta di rumahku, mungkin saja aku menikmati kekayaan sekaligus melakukan hal yang terpuji.” Dia meninggalkan latihan, kembali kepada kehidupan duniawi. Inilah yang disebut sebagai seorang yang ditakut-takuti bahaya pusaran air. Bahaya dari pusaran air ini sama artinya dengan lima saluran kesenangan indera.

Apa bahaya dari ikan buas/hiu? Begini, para bhikkhu, beberapa orang dari perumah tangga, menjalani kehidupan kebhikkhuan, berpikir begini “meskipun aku dibebani dengan kelahiran, usia tua…mungkin akhir dari bentuk penderitaan yang menyeluruh ini  dapat terlihat. Ia lalu menjalani kehidupan kebhikkhuan, memakai jubahnya pagi hari mengambil mangkuk dan jubah luarnya, memasuki sebuah desa, sebuah pasar untuk ber-piṇḍapāta dengan indera yang tak terkendali. Dia melihat seorang wanita yang berpakaian kurang sempurna dan kurang tertutup rapi, ketika dia melihat wanita itu nafsu menguasai pikirannya dan dengan pikiran yang dikuasai oleh nafsu, dia meninggalkan latihan lalu dia kembali kepada kehidupan duniawi. Para bhikkhu, ia yang meninggalkan vinaya dan kembali kepada kehidupan duniawi karena wanita inilah yang disebut sebagai seorang yang ditakut-takuti bahaya ikan buas/hiu. Bahaya dari ikan buas/hiu ini sama artinya dengan wanita.

Itulah para bhikkhu, empat bahaya yang dapat terjadi pada seorang yang menjalani Dhamma dan Vinaya dalam kehidupan kebhikkhuan. Demikian apa yang disabdakan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu bersenang hati dengan apa yang disabdakan oleh Sang Bhagava. 
Demikianlah tantangan para bhikkhu yang tetap eksis dan menjadi bahaya laten bagi siapa pun yang menjalani kebhikkhuan.

Sumber:  Middle Length Sayings (Majjhima Nikāya) II, 132-134

Dibaca : 6619 kali