x

KISAH RAJA PASENADI DARI KOSALA

Ārogyaparamā lābhā, Santuṭṭhãparamaṁ dhanaṁ 
Vissāsaparamā ñātī, Nibbānaṁ paramaṁ sukhaṁ.
Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar, Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga, Kepercayaan adalah saudara yang paling baik, Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi.
 (Dhammapada 204)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Suatu hari Raja Pasenadi dari Kosala pergi ke Vihara Jetavana setelah menyelesaikan makan pagi. Dikatakan raja memakan seperempat keranjang (kira-kira setengah gantang, 1 gantang = 10 liter) nasi dengan kari daging pada hari itu. Maka pada saat mendengarkan khotbah Sang Buddha, dia tertidur dan mengantuk sepanjang waktu. Melihat raja mengantuk, Sang Buddha menasehati dia untuk memakan sedikit nasi setiap harinya, dan mengurangi sedikit demi sedikit nasi sehingga mencapai jumlah minimum dari seperempat belas jumlah nasi yang biasa dimakan. Raja melaksanakan nasehat yang dikatakan Sang Buddha. Dengan memakan sedikit nasi dia menjadi kurus, dan merasa lebih ringan. Raja menikmati kesehatan yang baik. Ketika dia mengabarkan itu kepada Sang Buddha, Beliau berkata kepadanya, “O Raja! Kesehatan adalah keuntungan/anugerah yang paling besar. Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga. Kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Nibbàna adalah kebahagiaan tertinggi.”

Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar. 
Selama ini banyak orang berpandangan keliru bahwa keuntungan terbesar adalah mendapatkan materi yang melimpah. Karenanya orang bekerja sangat keras, sangat keras kadang sampai mengabaikan kesehatannya. Secara Dhamma keuntungan terbesar bukan materi, ingat sifat materi adalah berubah. 

Keuntungan terbesar adalah kesehatan.
Sehat secara Dhamma bukan hanya sehat fisik/jasmani, melainkan juga sehat mental/spiritualnya. Untuk mencapai kesehatan jasmani dan batin (mental/spiritual), dalam Aṅguttara Nikāya, Pañcakanipatapali, Sang Buddha memberikan “lima tips” yang dikenal dengan istilah Āyussa Dhamma:
1.Sappāyakāri: mengetahui cara mengurus diri agar sehat. 
2.Sappāye Mattaññu: mengetahui cara mengira-ngira barang yang disenangi.
3.Pariṇatabhoji: mengetahui makanan yang bermanfaat.
4.Kālacari: mengetahui cara mempergunakan waktu.
5.Brahmacāri: mengetahui cara mengendalikan nafsu indera dan bebas dari pelanggaran sīla.                                                                                                                                                                                                                                                              
“Jika orang berbuat jahat kepadamu, itu tandanya kamu orang baik, sebab hanya pohon yang ada buahnya yang dilempari batu” (anonim)

Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga. 
Sama seperti halnya keuntungan, banyak juga orang beranggapan bahwa kekayaan yang paling berharga adalah materi; uang yang banyak, tanah di mana-mana, mobil mewah, rumah megah, dsb. Ini pandangan yang keliru, Dhamma menjelaskan bahwa kekayaan paling berharga adalah kepuasan.

Kepercayaan adalah saudara yang paling baik. 
Kepercayaan orang lain akan tumbuh pada seseorang jika orang tersebut menjaga nilai-nilai kejujuran. Jujur yang tidak hanya di mulut tapi juga tindakan. Nibbāna adalah kebahagiaan tertinggi. Ajaran Buddha mengakui adanya kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan surgawi. Tapi kebahagiaan ini bukanlah kebahagiaan tertinggi, karena dua kebahagiaan akan ada akhirnya, ada batasnya ketika topangan jasa kebajikan habis maka kebahagiaannya pun berakhir, saṁsāra (lingkaran kelahiran-kematian masih dialami).  Kebahagiaan tertinggi adalah Nibbāna, kebahagiaan yang memutuskan saṁsāra, kelahiran-kematian dihentikan. Buddha menunjukkan cara untuk merealisasi kebahagiaan tertinggi, yaitu dengan mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariyatthangikamagga): Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencaharian Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Keheningan Benar. Dalam Janavasabha Sutta, Dīgha Nikāya, dinyatakan bahwa pelaksanaan Jalan Mulia Berunsur Delapan akan memunculkan Pengetahuan Benar (Sammā Ñāṇa) dan Kebebasan Benar (Sammā Vimutti).

Sumber:
-Dhammapada Atthakatha, Vidyasena Production, 2012.
-Kamus Umum Buddha Dharma, Trisattva Buddhist Center, 2004.
-Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama, 2000.

Oleh: Bhikkhu Dhammiko (Minggu, 26 April 2015) 

Dibaca : 3014 kali