x

JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN

Uttiṭṭhe nappamajjeyya, dhammaṁ sucaritaṁ care.
Dhammacāri sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca'ti.
Bangun jangan lengah, Tempuhlah kehidupan benar.
Barang siapa menempuh kehidupan benar, Maka ia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia berikutnya.
(Dhammapada syair 168)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

 



Semua makhluk hidup termasuk manusia mencari kebahagiaan, menginginkan kebahagiaan, tidak ada yang menginginkan penderitaan. Tetapi sayang sekali, kebanyakan dari kita berpikir bahwa kebahagiaan tersebut datang dari faktor luar, dari kenikmatan penglihatan, suara, aroma, rasa, sentuhan maupun objekobjek pikiran. Mata kita menginginkan dan mencari pemandangan yang indah dan menyenangkan. Kita banyak menghabiskan waktu untuk menonton pertunjukan, film, video ataupun televisi. Telinga kita menginginkan dan mencari suara yang merdu, musik yang indah maupun pujian-pujian. Hidung kita menghendaki aroma yang wangi, harum, dan lembut. Lidah kita menginginkan rasa yang enak dan manis, makanan dan minuman yang lezat serta nikmat. Kita makan bukan untuk mempertahankan tubuh, tetapi untuk memuaskan nafsu keinginan kita. Kita makan berlebihan dan kemudian mencoba keras untuk menurunkan berat badan. Tubuh kita menginginkan sentuhan yang lembut dan halus, tempat duduk dan tempat tidur yang nyaman dan empuk. Pikiran kita selalu berkelana dan mengembara di alam khayal dan fantasi, menghayalkan masa depan yang cemerlang ataupun mengingat kenangan indah masa lalu.

 

Kita berpikir bahwa keenam objek indria ini dapat memberikan kebahagiaan dan kepuasan sejati  bagi kita, dan perbuatan kita pun mengikuti pikiran tersebut. Jadi dengan tubuh ini, kita mencari berbagai kenikmatan melalui keenam objek indria kita, dengan melupakan bahaya dari sensasi kenikmatan tersebut, melupakan bahwa semakin kita menikmati kesenangan indria, semakin kita melekat kepadanya. Perasaan senang yang muncul karena menikmati objek-objek tersebut akan menimbulkan nafsu keinginan yang berlebihan, dan bergantung atas nafsu keinginan yang berlebihan tersebut, kita mendapatkan diri kita melekat pada keenam objek indria sampai kita tidak dapat melepaskannya. Kita melekat kepada keenam objek indria tersebut dan kita diperbudak oleh keenam objek indria tersebut.

 

Bagaimana kita sampai diperbudak oleh kenikmatan-kenikmatan sensual. Contoh; kadang-kadang kita memiliki luka di bagian tubuh dan menimbulkan rasa sangat gatal, sehingga kita harus menggaruknya. Tetapi kita juga mengetahui bahwa semakin kita sering menggaruknya, maka luka itu akan menjadi semakin parah. Tetapi kita tidak dapat mengendalikan pikiran kita untuk tidak menggaruknya, kita terus menggaruk luka tersebut. Mengapa kita terus menggaruknya? ini dikarenakan ketika kita sedang menggaruk luka tersebut kita merasa puas dan nyaman walaupun membuat luka itu semakin parah. Tetapi kita tidak peduli akan akibatnya, yang lebih penting adalah kepuasan dan kenikmatan yang muncul dari garukan tersebut. Adalah sama halnya dengan semua kenikmatan sensual. Ketika anda menikmati kesenangan sensual, tentu saja anda akan merasa puas dan senang, tetapi luka-luka yang diakibatkannya tidak dapat diremehkan. Sang Buddha membandingkan kenikmatan sensual sebagai seseorang yang memegang obor yang menyala dengan berlari melawan arah angin. Karena ia berlari melawan arah angin, maka api dari obor tersebut akan mengarah ke belakang dan mengenai orang tersebut. Hanya dengan melepaskan obor yang menyala itu maka ia akan terhindar dari terbakar api obor tersebut.

 

Adalah hal yang penting untuk dimengerti bahwa kenikmatan yang kita peroleh dari keenam objek indria tidak akan pernah membawa kita dalam kebahagiaan yang kekal. Jika begitu, apakah jalan menuju kebahagiaan kekal itu? jalan menuju kebahagiaan kekal itu adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan. Dan, apakah Jalan Mulia Berunsur Delapan itu? Jalan Mulia Berunsur Delapan itu adalah Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencaharian Benar, Daya Upaya Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar.

 

Apakah Pandangan Benar itu? Pandangan Benar adalah pemahaman atau pengertian  tentang Empat Kebenaran Mulia yaitu Kebenaran Mulia tentang penderitaan, Kebenaran Mulia tentang penyebab penderitaan, Kebenaran Mulia tentang lenyapnya penderitaan, dan Kebenaran Mulia tentang jalan untuk menuju lenyapnya penderitaan.

 

Apakah Pikiran Benar itu? Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari nafsu indria, pikiran yang bebas dari kebencian, dan pikiran yang bebas dari kekejaman.

 

Apakah Ucapan Benar itu? Ucapan Benar adalah ucapan yang bebas dari kebohongan, fitnah, caci maki atau omong kosong yang tidak bermanfaat.

 

Apakah Perbuatan Benar itu? Perbuatan Benar adalah perbuatan yang menghindari pembunuhan makhluk hidup, pencurian, dan penyalahgunaan seksual.

 

Apakah Mata Pencaharian Benar itu? Mata Pencaharian Benar adalah mata pencaharian yang tidak merugikan makhluk lain dan juga tidak merugikan diri sendiri. Misalnya; Mata pencaharian yang tidak mengakibatkan pembunuhan, penipuan. Mata pencaharian yang menghindari lima macam perdagangan yang tidak diperkenankan yaitu berdagang senjata, makhluk hidup, daging, minuman yang memabukkan, dan racun. 

 

Apakah Daya Upaya Benar itu? Sehubungan dengan hal ini, seseorang harus membangkitkan hasrat untuk berusaha, berjuang mengarahkan pikirannya dalam mencegah timbulnya keinginan tidak baik yang belum muncul, melenyapkan keinginan tidak baik yang telah ada, membangkitkan keinginan baik yang belum muncul dan akhirnya, ia harus membangkitkan hasrat untuk berusaha, berjuang mengarahkan pikirannya untuk menjaga kelangsungan, menumbuhkan, mengembangkan, dan memenuhi keinginan baik yang sudah ada.

 

Apakah Perhatian Benar itu? Sehubungan dengan hal ini, seseorang harus melakukan perenungan untuk memperhatikan dengan sungguh-sungguh batin dan badan jasmaninya, sehingga dapat mengendalikan diri terhadap godaan nafsu keinginan duniawi. Yang terakhir, apakah Konsentrasi Benar itu? Sehubungan dengan hal ini, seseorang harus berlatih meditasi untuk memusatkan pikirannya agar pikirannya dapat terkonsentrasi pada objek meditasi dengan kuat dan terpusat, mencapai jhana.

 

Namun, Jalan Mulia Berunsur Delapan tersebut adalah jalan yang sangat panjang, kadang rata dan kadang berlubang-lubang, disertai dengan tikungan dan kelokan yang sangat tajam, dan jika kita ingin menempuh jalan itu dengan langkah yang mantap tanpa tergelincir, kita memerlukan suatu pertolongan. Pertolongan yang dimaksud adalah perlindungan Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).

 

Selamat mempraktikkan Dhamma. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Referensi :

1. Dhammapada

2. Buddha Vacana

3. Jalan Menuju Kebahagiaan

Dibaca : 3371 kali