x

SῙLA BENTENG KOKOH PELINDUNG DUNIA

Yassa pāpaṁ kataṁ kammaṁ, kusalena pithīyati 
So imaṁ lokaṁ pabhāseti, abbhā mutto’va candimā’ti.
Seseorang yang meninggalkan perbuatan jahat dan menggantikannya dengan perbuatan baik, maka ia akan menerangi dunia seperti bulan 
yang tidak lagi terhalang oleh awan. 

(Dhammapada Loka Vagga XIII: 173)  

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Araharo Sammāsambuddhassa

Sebagai manusia biasa, kita ditantang untuk berani bertindak dalam menghadapi kehidupan yang keras ini. Tentu saja tindakan yang didasarkan pada kebijaksanaan dan cinta kasih. Semua agama mengajarkan para penganutnya untuk memiliki moralitas; perilaku atau akhlak (sīla) yang baik, menghargai sesama, saling menghormati, cinta kasih, dsb. Dengan harapan dapat menciptakan dunia yang penuh dengan rasa aman, tanpa curiga, tanpa peperangan, dan ratap tangis. Tetapi, apakah cita-cita luhur itu sudah berhasil? ajaran-ajaran tentang moral selalu didengungkan setiap saat, di setiap penjuru tempat ibadah. Tetapi kenapa semakin hari permusuhan semakin sengit, peperangan semakin merajalela, perampokan, pergaulan bebas, penipuan, tidak peduli besar atau kecil, tua atau muda semua dalam kuasa amoral. Hal ini karena kita kurang me-miliki 2 syarat mutlak dalam menjalani kehidupan ini. Yaitu; mempunyai perasaan malu apabila berbuat jahat (hiri) dan takut akan akibat dari perbuatan jahat yang telah dilakukan (ottappa). 
Saudara-saudara, kita terkadang dalam mendengar dan mendalami Dhamma hanya sebatas kulitnya saja. Kenapa? karena ajaran kebaikan itu, memang masuk telinga kanan tetapi sayang keluar lagi lewat telinga kiri, sehingga sangat sulit bagi kita untuk maju secara spiritual. Pepatah mengatakan; “teori tanpa praktik lumpuh, praktik tanpa teori buta”. Sebanyak apapun pengetahuan Dhamma anda kuasai, tetapi apabila tidak dipraktikan itu hanya omong kosong saja. Sebaliknya, jika praktik dilakukan tanpa didasarkan pengetahuan teori maka yang terjadi adalah kefanatikkan membuta. Menjadi orang yang merasa paling benar dan menganggap orang lain sesat. Orang seperti itu bagaikan si buta yang mengikuti petunjuk dari orang buta. 
Teori, pengetahuan, kepandaian harus didasarkan pada kebijaksanaan (paññā) dalam bentuk pandangan benar, bahwa pengetahuan akan digunakan demi manfaat banyak orang dan tidak menimbulkan kerugian, serta berpikiran benar dan penuh cinta kasih demi kebahagiaan semua makhluk serta yang tidak kalah pentingnya adalah nilai moral (sīla) itu sendiri. Tanpa itu semua pengetahuan hanya menjadi ajang kesombongan dan bencana. Apapun pekerjaan, profesi, status, pangkat/ jabatan. Memiliki moralitas, perilaku baik, jujur, setia, dan bijaksana adalah modal utama untuk dapat hidup damai dan harmonis dengan sesama.
Ada banyak cara/jalan yang dilalui umat manusia untuk tetap eksis, dalam mengarungi kehidupan ini. Ada yang berlaku lurus adapula yang serong hati. Sehingga Sang Buddha mengumpamakan, ada 4 jenis manusia dalam menjalankan kehidupannya, hal ini tercantum dalam Aṅguttara Nikāya, Catukkanipāta IV.85, yaitu:
Tamo joti parayano yaitu manusia yang berjalan dari kegelapan menuju cahaya terang. 
Joti tamo parayano yaitu manusia yang berjalan dari tempat yang terang menuju kegelapan. 
Tamo tamo parayano yaitu manusia yang berjalan dari kegelapan menuju tempat yang lebih gelap. 
Joti joti parayano yaitu manusia yang berjalan dari tempat yang terang menuju tempat yang lebih terang benderang. 
Manusia tentu saja berbeda dengan binatang, kelebihan utama umat manusia adalah memiliki akal budi, tahu salah dan benar, bisa memilih serta memilah apa yang pantas atau tidak pantas. Lain halnya dengan binatang, yang hanya berdasarkan naluri untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, dalam dunia binatang terdapat hukum siapa yang kuat ia berkuasa. Berbahagialah kita terlahir sebagai manusia, bisa berlatih berbuat baik, berderma, menjaga moralitas, memiliki pikiran baik, dll. Amat sangat sulit makhluk yang terlahir di alam rendah seperti binatang untuk bisa melatih kebajikan. Kenapa? karena tidak ada tempat yang aman untuk berlatih, yang ada adalah rasa khawatir  takut dibunuh/diburu oleh pemangsa yang lebih kuat. Ada lima tekad latihan atau pantangan yang perlu dihindari (Pañcasīla) yaitu:
1.Pāṇātipātā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyàmi
2.Adinnādānā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi  
3.Kāmesu micchācārā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi 
4.Musāvādā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi
5.Surāmerayamajjapamādaṭṭhānā veramaṇī sikkhāpadaṁ samādiyāmi
Sekaligus lima latihan yang harus dikembangkan (Pañcadhamma) yaitu:
1.Metta karuna
2.Samma ajiva
3.Santutthi
4.Sacca
5.Sati sampajanna
Orang yang bermoral laksana membawa perisai/tameng yang me-lindungi dan  meminimalkan matangnya buah karma buruk. Nama harum orang bermoral melampaui harumnya bunga yang paling harum sekalipun bahkan keharuman/kemasyurannya sampai di alam surga (Dhammapada, Puppha Vagga IV: 54,55,56). Dalam Dighā Nikaya, Mahāparinibbāna Sutta 16, Sang Buddha menyebutkan ada lima manfaat yang diperoleh bagi siapa saja yang melaksanakan sīla yaitu:
1.Kemudahan mendapatkan harta kekayaan yang melimpah melalui usaha yang giat (sīlena bhoga-sampadā)
2.Reputasi/nama baiknya tersebar luas, termasyur namanya di dunia hingga alam surga
3.Tiada rasa canggung penuh percaya diri jika bertemu atau bergaul dengan para bijaksana. Kemana pun ia pergi banyak orang menghormati
4.Meninggal dengan pikiran tenang dan secara otomatis karena moralnya baik ia terlahir di alam yang lebih baik atau surga (sīlena sugatiṁ yanti).
5.Dengan moralitas itu pula ia mampu mencapai padamnya kilesa, lenyapnya keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin. Sehingga kesempurnaan Nibbana dapat terealisasi di sini dan kini (Sīlena nibbutiṁ yanti).

Marilah kita berusaha untuk terus meningkatkan kualitas hidup dengan memiliki rasa malu berbuat salah (hiri) dan takut akan akibat dari perbuatan salah  (ottappa). Demikian pula hendaknya kita membebaskan diri dari penjara ketidakmoralan dalam hidup demi menyongsong hidup yang lebih baik. Oleh karena itu, marilah kita tinggalkan perilaku buruk dan menggantikannya dengan perilaku yang baik. Seperti halnya  bulan purnama bulat sempurna, cahayanya memancar kepada semua makhluk di bumi tanpa terhalang oleh awan. Demikian pula hendaknya moralitas yang kita kembangkan dan praktikkan, mampu memberi rasa teduh dan aman serta memberi kebahagiaan kepada semua makhluk tanpa kecuali.

Sabbe sattā bhavantu sukkhitattā 

Daftar pustaka:
Kitab Suci Dhammapada, diterbitkan oleh Yayasan Abdi Dhamma Indonesia;
Kitab Paritta Suci, diterbitkan oleh Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia;
Kitab Suci Dīgha Nikāya Mahāparinibbāna Sutta;
Kitab Suci Aṅguttara Nikāya Catukkanipāta. 

Dibaca : 5066 kali