x

Meneguhkan Keyakinan

Tasmā hi paṇḍito poso sampassaṁ atthamattano
Buddhe dhamme ca saṅghe ca dhīro saddhaṁ nivesaye.
Oleh karena itu, ia yang bijaksana, setelah mengetahui manfaat kebajikan 
bagi diri sendiri, memperkuat keyakinannya kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Ketika seseorang telah menyatakan diri sebagai umat Buddha, hendaklah ia menjaga keyakinan yang dimilikinya. Sebagai umat Buddha, keyakinan yang utama adalah keyakinan kepada Tiratana; Buddharatana, Dhammaratana, Saṅgharatana. Tiratana merupakan objek penghormatan (pūja) tertinggi. Dengan melakukan penghormatan pada yang patut dihormat, lebih-lebih kepada yang tertinggi, maka seseorang telah memperoleh suatu berkah, berkah utama.

Namun tidak berarti bahwa setelah menyatakan diri berlindung pada Tiratana, seseorang sudah dipastikan memiliki keyakinan yang teguh. Tidak menutup kemungkinan, walaupun seseorang sudah menyatakan diri sebagai umat Buddha, bahkan mungkin disebut sebagai umat Buddha sejak lahir, suatu saat bisa beralih keyakinan. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut diperlukan suatu upaya agar keyakinan yang sudah dipegang tetap kokoh dan bisa berkembang, atau paling tidak bisa dipertahankan. Memiliki keyakinan yang teguh sangatlah penting. Keyakinan merupakan salah satu dari tujuh macam harta: keyakinan, kemoralan, malu berbuat jahat, takut akibat perbuatan jahat, berpengetahuan luas, kemurahan hati, dan kebijaksanaan.

Kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi berkenaan dengan keyakinan terhadap agama Buddha
Berbicara tentang keyakinan, tentu masing-masing orang memiliki kadar keyakinan yang berbeda-beda. Ada yang memiliki keyakinan kuat, ada juga yang memiliki keyakinan lemah. Oleh karena itu, hal-hal berikut dapat terjadi di dalam hubungannya dengan keyakinan seperti:
a. Awalnya bukan beragama Buddha, kemudian beragama Buddha.
Hal ini dapat terjadi dikarenakan seseorang yang pada awalnya tidak mengenal Dhamma, lalu kemudian mengenal Dhamma dan keyakinannya tumbuh. Ada dua contoh yang dapat diberikan di sini. Pertama tentang suku Yamatitam di Kepulauan Maluku. Pada awalnya mereka tidak mengenal agama, khususnya agama yang diakui pemerintah. Setelah mereka mengenal agama Buddha, merekapun menyatakan diri sebagai umat Buddha. Kedua tentang orang dari Flores, umumnya orang Flores tidak mengenal agama Buddha. Tetapi ada seorang yang ketika mengenal Dhamma, kemudian memeluk Agama Buddha, bahkan tidak sekedar menjadi umat Buddha awam, tetapi memilih menjadi bhikkhu.
b. Ketika sudah beragama Buddha, selamanya tetap beragama Buddha.
Contoh yang dapat diberikan di sini berkenaan dengan umat yang sejak menyatakan diri sebagai umat Buddha (berlindung pada Tiratana) hingga detik ini masih memiliki keyakinan terhadap Dhamma, seperti Ibu, Bapak dan Saudara sekalian yang sampai saat ini masih berkeyakinan terhadap Dhamma. Contoh lainnya berkenaan dengan umat Buddha di Kudus. Tahun lalu, pada tahun 2014, terjadi bencana longsor yang menimpa pemukiman umat Buddha yang ada di Kudus sehingga mereka tidak memiliki tempat tinggal lagi. Walaupun tertimpa bencana seperti itu, mereka tidak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk beralih keyakinan. Mereka memiliki prinsip, apapun yang terjadi, mereka akan tetap beragama Buddha. Apabila dari pemerintah mengharuskan mereka bertransmigrasi maka mereka meminta agar semuanya dipindahkan ke satu tempat, jangan sampai terpisah satu dengan yang lain. Hal ini dilakukan agar mereka bisa saling memotivasi. Apabila dipisahkan antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lainnya ke tempat yang berbeda-beda, mereka mengkhawatirkan akan terpengaruh oleh masyarakat mayoritas yang beragama lain, hal itu dapat menyebabkan mereka menganut agama selain agama Buddha. 
c. Awalnya beragama Buddha, kemudian pindah ke agama lain.
Contoh dari hal ini tentunya sudah tidak asing lagi dalam masyarakat. Sebagaimana beberapa orang dari agama yang lain beralih keyakinan menjadi umat Buddha. Beberapa orang yang beragama Buddha juga beralih keyakinan menjadi umat agama lain. Ada istilah mengatakan, beragama bukan karena agama itu benar atau salah, tetapi karena kecocokan. Mungkin hal itulah yang menyebabkan seseorang berpindah keyakinan dari keyakinan yang ini ke keyakinan yang lainnya. Di sini saya akan memberikan contoh tentang umat Buddha di tempat saya (Pulau Lombok), yang mana kejadian ini bisa dikatakan ironis. Seorang lulusan Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) dan sudah mengajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) menikah dengan orang dari keyakinan lain, akhirnya dia pindah agama. Kebetulan guru agama Buddha ini adalah perempuan, karena tradisi pada umumnya mewajibkan istri ikut suami, maka ia pun ikut suaminya yang beragama lain. Dari kejadian tersebut dapat dikatakan bahwa “Rupa mengalahkan Saddhā”.

Bolehkah umat Buddha pindah agama?
Di sini muncul pertanyaan, “Apakah umat Buddha boleh pindah agama?” umat Buddha umumnya memberikan jawaban, “Boleh”. Bisa kita katakan bahwa agama Buddha adalah agama yang toleran. Ketika ada umat Buddha yang pindah agama, kita menganggap itu hal yang wajar. Kita juga beranggapan bahwa setiap agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan, sehingga apabila seseorang pindah keyakinan bukan merupakan masalah, yang penting dalam agama baru yang dianutnya, seseorang bisa berbuat baik juga. Apabila setelah beragama yang baru, seseorang bisa tambah menjadi baik, hal ini kadang menjadi alasan seseorang pindah agama.  

Dalam inti ajaran Buddha dikatakan bahwa, “Tidak berbuat segala keburukan, mengembangkan kebajikan, mensucikan pikiran sendiri, inilah ajaran para Buddha.” Kalau dua kalimat pertama kita jadikan sebagai patokan, yaitu tidak berbuat segala keburukan dan mengembangkan kebajikan, bisa saja agama Buddha kita samakan dengan agama lain. Tetapi apabila kita mengacu pada kalimat yang ketiga, “menyucikan pikiran sendiri”, agama Buddha sangat berbeda dengan agama lain. Hanya dalam agama Buddha diajarkan cara mensucikan pikiran, membersihkan batin, sehingga seseorang bisa terbebas dari kekotoran batin, seperti kebencian, keserakahan, iri hati, dan sebagainya.

Kita yang sudah menyatakan diri berlindung kepada Tiratana, hendaknya berusaha mempertahankan keyakinan yang kita miliki. Walaupun dalam kitab suci tidak pernah dikatakan bahwa setelah menjadi umat Buddha seseorang tidak dibolehkan pindah keyakinan. Tetapi yang perlu kita ingat kembali adalah tekad yang pernah kita ucapkan sebelumnya. Dalam tata cara menjadi umat Buddha (wisuda upāsaka/upāsikā), seseorang mengucapkan kalimat permohonan sebagai berikut: “Bhante, saya berlindung kepada Sang Buddha, yang walaupun telah lama Parinibbāna, beserta Dhamma dan Saṅgha. Mohon Bhante mengetahui, bahwa sejak hari ini saya sebagai upāsaka/upāsikā yang berlindung kepada Tiratana seumur hidup.” Makna Dari pernyataan tersebut, bahwa umat Buddha tidaklah diperbolehkan untuk pindah agama.

Berkenaan dengan “inti” ajaran Buddha dalam kalimat ketiga, yaitu menyucikan batin sendiri, yang mana hal ini menjadi perbedaan yang mencolok antara ajaran dalam agama Buddha dengan agama yang lainnya. Secara khusus yang dimaksud dengan menyucikan batin berarti mencapai tataran kesucian; tataran kesucian pertama (sotāpanna), tataran kesucian kedua (sakadāgāmī), tataran kesucian ketiga (anāgāmī), dan tataran kesucian keempat (arahanta).

Sebelum Sang Buddha Parinibbāna, Beliau ditanya oleh petapa pengembara; Subaddha, yang merupakan siswa terakhir sebelum Beliau mangkat. Subaddha bertanya apakah dalam ajaran lain dapat ditemukan orang-orang suci, baik tingkat pertama, kedua, ketiga, atau keempat. Sang Buddha memberikan jawaban bahwa, dalam ajaran manapun terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan: Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar. Maka dapat dipastikan di sana terdapat orang-orang suci. Sebaliknya bila dalam ajaran tersebut tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka dapat dipastikan di sana tidak terdapat orang-orang suci.

Sebagai umat Buddha, semoga kita selalu ingat bahwa selain menghindari kejahatan dan mengembangkan kebajikan, selalu berupaya melatih sucikan batin sendiri. Dengan demikian keyakinan terhadap Tiratana akan semakin kuat, semakin kokoh.
Sabbe sattā bhavantu sukhitattā

Dibaca : 4419 kali