x

Arus Kehidupan

Yo sahassaṁ sahassena, saṅgāme mānuse jine
Ekañca jeyyamattānaṁ, sa ve saṅgāmajuttamoti
“Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri.” 
(Syair Dhammapada Sahassa Vagga, 103)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu dengan berbagai orang, dalam berbagai aktivitas, berbagai watak, dan berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintahan, direktur, manajer, karyawan, pedagang, pembantu rumah tangga, tukang sapu jalanan, pemulung, pengamen  dan sebagainya. Kita semua melakukan aktifitas setiap hari untuk mempertahankan dan memperjuangkan hidup ini.

Dalam kehidupan lampau, sekarang, ataupun akan datang, masalah yang sering  dihadapi dan yang sering dibicarakan oleh umat manusia adalah tentang bahagia dan derita. Perkembangan jaman boleh berubah, kemajuan bisa terjadi di mana-mana. Tetapi masalah yang dihadapi adalah tetap sama yaitu tentang jasmani (materi) dan batin (mental). Lalu apakah para umat Buddhis tidak menghadapinya? Tentu kita juga menghadapi hal yang sama pula. Setiap makhluk hidup yang terlahir di dunia ini pasti akan mengalami yang namanya “Bahagia atau Derita”.

Saat kita bahagia seperti bertemu dengan orang yang kita sukai, impian kita tercapai, mendapat keuntungan, dipuji, nama baik, dan sebagainya. Kita jangan lupa semua ini akan berlalu juga, tidak kekal adanya. Begitu pula saat kita derita seperti bertemu dengan orang yang kita benci, gagal dalam karir, rugi, dicela, nama buruk, dan sebagainya. Kitapun tak boleh lupa semua ini pasti akan berlalu juga. Penyebab semua ini karena adanya kondisi pendukung lainnya, yang saling berhubungan. Hal-hal inilah yang sering terjadi dalam kehidupan ini.

Lalu apa yang diajarkan Guru Agung Buddha kepada umat-Nya? 

Lima Vesārajja Kammaṭṭhāna atau Lima Dhamma yang menimbulkan keyakinan pada diri kita sendiri, Dhamma ini dapat dipraktikkan dalam kehidupan ini, yaitu:
1.Saddhā: keyakinan di dalam hal-hal yang harus kita yakini, seperti; yakin pada  Buddha, Dhamma, dan Saïgha. Buddha adalah seorang manusia biasa, yang telah mencapai penerangan sempurna dengan usaha-Nya sendiri. Dhamma adalah ajaran yang Beliau sampaikan pada umat manusia yang ada di muka bumi ini. Salah satu ajaran Guru Agung Buddha yang sudah kita kenal dengan baik adalah dengan sebutan “Ehipassiko” yang berarti mengundang untuk dibuktikan. Apabila suatu perbuatan baik setelah dilakukan bisa menimbulkan kebahagiaan bagi si pembuat maupun si penerima, maka lakukanlah perbuatan itu. Di sinilah keunikan ajaran Guru Agung Buddha tidak memaksakan kehendak-Nya kepada orang lain. Tetapi diselidiki terlebih dahulu, apabila suatu perbuatan setelah dilakukan mendatangkan kebahagiaan kedua belah pihak dan tidak menimbulkan penyesalan, maka lakukanlah hal ini yang akan membawa kita pada perkembangan mental ini. Saṅgha adalah para siswa Guru Agung Buddha yang melatih diri dalam Dhamma Vinaya dalam sebuah perkumpulan. Saat kita penuh keyakinan menyatakan berlindung pada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, saat itu pula pintu kebajikan kita terbuka yang akan membawa kita kepada pembebasan untuk mencapai kebebasan sejati yaitu Nibbāna. Mengapa demikian? Karena kita telah berlindung kepada seorang manusia yang luar biasa luhurnya yang telah mencapai pantai seberang atau Nibbāna, yang menunjukkan jalan kepada umat manusia di dunia ini. Sang jalan telah ditemukan oleh Guru Agung Buddha, tinggal pilihan kita sendiri, dan semua itu tergantung kepada kita seberapa besar usaha kita dalam mempratikkan Dhamma dalam kehidupan ini.

2.Sīla: melatih diri sehingga memiliki prilaku moral yang baik. Berperilaku yang baik yaitu bisa mengendalikan diri dengan baik melalui pintu pikiran, ucapan, dan tindakan. Sebagai umat Buddhis yang baik, tentu dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menjalankan lima latihan penghindaran diri atau disebut “Pañcasīla Buddhis”, yang akan membawa kita menuju ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih bermanfaat dalam kehidupan ini.      
 
3.Bāhusacca: memiliki pengetahuan yang luas, yaitu dengan cara:  
a)Belajar dari melihat dengan visual atau menonton film, tentu di sini film motivasi tentang perjuangan seorang manusia dalam mencapai impiannya. Belajar dari mendengar, kita dapat mendengarkan khotbah Dhamma yang akan disampaikan oleh para Dhammaduta. Belajar dari membaca, saat sedang santai kita dapat mempergunakan waktu itu untuk membaca. Dikatakan, “Pengalaman adalah guru yang terbaik dalam belajar”, sejak kecil, remaja, dewasa dan sampai usia lanjut kita tetap belajar. Belajar itu tiada habisnya.
b)Plaktik, setelah kita bisa menerima apa yang dilihat, didengar, dan dibaca akan memudahkan kita dalam mempraktikkan Dhamma dengan baik.
c)Mencapai hasil, seperti sebuah pohon yang ditanam akan tumbuh, membesar, dan berbuah karena ada yang merawatnya. Demikian pula kalau sila dan samadhi dipraktikkan secara terus-menerus akan membawa manfaat bagi perkembangan batin ini. Timbul pengertian-pengetian baru dalam batin ini. Pengertian ini yang disebut paññā atau kebijaksanaan.

4.Viriyarambha: rajin dan penuh semangat. Dalam belajar dan praktik Dhamma dibutuhkan kemauan dan kemampuan dalam menerima ajaran Dhamma itu sendiri. Semangat di sini sangat dibutuhkan dan harus ditingkatkan agar lebih bersemangat lagi. Tanpa merasa bosan atau jenuh dalam mempraktikkan Dhamma ini. Semangat atau usaha yang tekun dibutuhkan, agar kita tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah-masalah yang  timbul dalam hidup ini. Kata “Pantang Menyerah” akan selalu menumbuhkan energi baru, semangat baru dalam menghadapi hidup ini. Di sini kita bertekad agar selalu berada dalam jalan Dhamma. 

5.Paññā: kebijaksanaan, yaitu mengetahui segala sesuatu hal yang harus diketahui, tentang hal-hal yang berguna atau yang tidak berguna, apa yang baik atau apa yang buruk, apa yang benar atau apa yang salah. Untuk menjadi bijaksana kita butuh belajar dan praktik Dhamma. Dhamma inilah yang akan mengantarkan kita kepada padamnya keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin. Kebijaksanaan inipun akan timbul sehingga membuat pikiran ini melihat secara alamiah akan fenomena alam ini, yaitu anicca; segala sesuatu yang berbentuk adalah tidak kekal adanya, dukkha; segala sesuatu yang berbentuk adalah tidak memuaskan karena akan mengalami perubahan juga, anatta; semua kondisi adalah tanpa inti, mereka terbentuk karena adanya faktor pendukung lainnya. Fenomena alam ini  kita sebut sebagai “Tiga Corak Kehidupan” akan terlihat oleh batin ini sangat jelas dan jernih serta Sang Jalanpun telah kita temukan. 
Lima Dhamma inilah yang harus kita praktikkan dalam kehidupan ini, saat ini, di dalam diri kita masing-masing. A.III.127

Marilah kita tingkatkan kualitas batin ini dalam mengarungi arus kehidupan ini dengan memiliki keyakinan yang kuat kepada Buddha, Dhamma dan Saṅgha, dengan berperilaku yang baik, memiliki pengetahuan atau ketrampilan, rajin dan penuh semangat, disertai kebijaksanaan dan pengertian kita tentang Dhamma itu sendiri, sehingga dapat merealisasikan Nibbāna sebagai tujuan akhir umat Buddha.  

Dibaca : 3938 kali