x

Terlahir Sebagai Manusia Sungguh Menguntungkan Dan Membahagiakan

Kiccho manussapaṭilābho, kicchaṁ maccāna jīvitaṁ

Kicchaṁ saddhammassavaṇaṁ, kiccho buddhānaṁ uppādo'ti.

Sugguh sulit untuk dapat terlahir sebagai manusia, sungguh sulit untuk dapat bertahan hidup, sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Dhamma, sungguh jarang terjadi kemunculan para Buddha


(Dhammapada 182)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa


Sungguh sulit untuk dapat terlahir sebagai manusia

Saat ini kita sudah terlahir sebagai manusia. Terlahir sebagai manusia adalah suatu hal yang sungguh sangat menguntungkan dan membahagiakan. Karena apa? Karena untuk dapat terlahir sebagai manusia adalah sangat sulit. Kita terlahir sebagai manusia sebagai akibat dari buah karma kebajikan yang kita lakukan di masa lampau. Tanpa buah dari kebajikan yang kita lakukan di masa lampau, saat ini kita tidak mungkin dapat terlahir sebagai manusia.


Bagaimana sulitnya untuk dapat terlahir sebagai manusia? Di dalam khotbah-Nya yang berjudul Nakhasikha Sutta, Sang Buddha menjelaskan betapa sulitnya untuk dapat terlahir sebagai manusia dengan perumpamaan debu yang ada di ujung kuku Sang Buddha. Sang Buddha mengambil secuil debu dari tanah dan menempelkan debu tersebut di kuku-Nya dan bertanya kepada para bhikkhu lebih banyak mana jumlah debu yang ada di kuku-Nya jika dibandingkan dengan jumlah debu yang ada di tanah, para bhikkhu menjawab bahwa jumlah debu yang ada di kuku Sang Buddha itu terlalu sedikit dan dapat diabaikan bila dibandingkan dengan jumlah debu yang ada di tanah yang jumlahnya jauh lebih banyak. Kemudian Sang Buddha melanjutkan bahwa bagi mereka yang terlahir sebagai manusia, setelah kematiannya, untuk dapat terlahir kembali sebagai manusia adalah sangat sedikit sekali seperti jumlah debu yang ada di ujung kuku-Nya. Sedangkan mereka yang akan terlahir kembali di alam-alam rendah/apaya yaitu: alam neraka, alam binatang, alam setan/peta, dan alam raksasa/ asura setelah kematiannya sebagai manusia adalah sebanyak debu yang ada di tanah. Jadi betapa sulitnya untuk dapat terlahir sebagai manusia telah ditunjukkan dengan jelas dalam khotbah Sang Buddha tersebut.


Untuk mendapatkan kehidupan anda seperti sekarang ini adalah sesulit seperti yang dijelaskan di atas. Alam manusia adalah alam kehidupan bahagia di samping alam dewa/surga. Di samping alam-alam kehidupan bahagia, ada juga alam-alam kehidupan menyedihkan di mana para makhluk yang terlahir di alam-alam ini jauh dari kesenangan atau kebahagiaan, penuh dengan penderitaan, kesukaran, ketakutan, kekhawatiran, ketidaknyamanan dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Alam-alam kehidupan menyedihkan ini terdiri dari: alam neraka, alam binatang, alam peta/setan, dan alam asura/ raksasa. 


Semua makhluk hidup termasuk kita pernah terlahir di alam-alam menyedihkan ini jauh lebih banyak jumlahnya daripada kelahiran kita di alam-alam bahagia. Hal ini berarti bahwa kita telah menghabiskan lebih banyak waktu sambil menderita di alam-alam menyedihkan. Apakah kita menginginkan kehidupan yang demikian? Tentu saja tidak.


Lalu apa yang harus kita lakukan? Saat ini kita sudah terlahir sebagai manusia, sedangkan untuk dapat terlahir sebagai manusia adalah sangat sulit. Apabila kita tidak ingin terlahir kembali di alam-alam menyedihkan setelah kematian kita, tentu saja kita harus memanfaatkan kelahiran kita sebagai manusia saat ini dengan baik-baik/sungguh-sungguh dengan belajar dan mempraktikkan Dhamma dengan sungguh-sungguh, dengan banyak berbuat kebajikan dan tidak berbuat kejahatan. Apabila kita belajar dan mempraktikkan Dhamma dengan sungguh-sungguh, maka kelahiran kita sekarang ini mampu mencegah kelahiran kembali di alam-alam yang lebih rendah dan mampu mengkondisikan kelahiran kita yang lebih baik di masa mendatang. Kehidupan yang kita miliki sekarang adalah kehidupan yang sangat berharga.


Sungguh sulit untuk dapat bertahan hidup

Walaupun sudah terlahir sebagai manusia, tidak mudah untuk menjalani kehidupan sebagai manusia. Bertahan hidup adalah hal yang menjadi masalah besar bagi seseorang setelah dia menjadi manusia, karena untuk dapat bertahan hidup adalah sangat sulit. Untuk dapat bertahan hidup kita membutuhkan pakaian, makanan, tempat tinggal, obat-obatan, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Tidak semua orang bisa memperoleh kebutuhan ini dengan mudah. Ditambah lagi dengan adanya bencana alam seperti: banjir, gunung meletus, kebakaran hutan, badai tropis, tsunami, dan bencana-bencana lainnya. Tidak semua orang bisa hidup sampai usia lanjut, ada yang meninggal dalam umur belasan, dua puluhan, bahkan ada yang meninggal semasih bayi dan usia balita.


Sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Dhamma

Tidak semua orang di dunia ini bisa mendengarkan Dhamma ajaran Sang Buddha. Dibandingkan dengan orang yang bisa mendengarkan Dhamma, jauh lebih banyak orang yang tidak mengenal Dhamma. Padahal apabila bisa mendengarkan Dhamma akan membawa manfaat yang sangat besar. Di dalam Aṅguttara Nikāya, Sutta Pitaka, dinyatakan ada lima manfaat mendengarkan Dhamma:

1.Mendengar apa yang belum didengar.

2.Apabila sudah mendengar, akan mengerti dengan lebih jelas.

3.Meninggalkan/melenyapkan keragu-raguan.

4.Memberikan pengertian benar.

5.Membuat batin/pikiran menjadi tenang dan bahagia.


Sungguh  jarang terjadi kemunculan para Buddha

Tidak setiap kalpa muncul seorang Buddha (lamanya satu kalpa = lamanya satu masa dunia). Bisa puluhan, ratusan, ribuan bahkan sampai seratus ribu kalpa tidak muncul seorang Buddha. Apabila tidak ada seorang Buddha atau Dhamma ajaran-Nya, maka akan sangat sulit bagi makhluk hidup yang bisa terbebas dari dukkha/penderitaan.


Kesimpulan

Kehidupan kita yang sekarang ini adalah kehidupan yang sangat berharga dan mulia. Karena apa? Karena kita bisa mengatasi keempat kondisi sulit ini. Gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk belajar dan mempraktikkan Dhamma, untuk banyak berbuat kebajikan. Jangan gunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.


Sabbe sattā bhavantu sukhitattā


Dibaca : 998 kali