x

Kekayaan Umat Buddha

Pamādamanuyuñjanti, bālā dummedhino janā 
Appamādañca medhāvī, dhanaṁ seṭṭhaṁ’va rakkhan’ti.
Orang dungu yang tidak menyadari hal-hal yang sesungguhnya berharga
terhanyut mengikuti nafsunya dalam kelengahan.
Sebaliknya orang-orang bijaksana memelihara kewaspadaannya,
Seperti menjaga harta yang sangat berharga.

(Dhammapada Bab II Syair 26)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Dalam kehidupan sehari-hari sering sekali kita mendapat atau mendengar bahkan kitapun merasakan sendiri tentang kekayaan. Sebagaimana orang mengerti tentang makna dari kekayaan itu sendiri, orang banyak berjuang dan berusaha ingin mendapatkan kekayaan itu dengan hasil yang banyak. Namun jika kita dapat melihat melalui kacamata Dhamma, kekayaan yang berbentuk materi itu sendiri tidak akan selamanya kita dapat memilikinya. Namun semua kekayaan itu akan mengalami perubahan (anicca) di saat apapun dan kondisi apapun. Tetapi kita amat sulit untuk menjadi sadar akan perubahan itu yang akan membawa kesedihan (dukkha)  dan ratap tangis yang luar biasa jika kita tidak memahami Dhamma itu sendiri. Karena pada awalnya itu semua adalah hal yang tidak kekal dan tidak mempunyai inti (anatta), jadi banyak unsur yang menjadikan materi itu bersatu dan terbentuk menjadi bentuk kekayaan harta yang terlihat oleh mata dan kita gunakan untuk hidup sehari-hari.
Tetapi kekayaan itu sendiri akan membawa penderitaan jika kita tidak memahami ajaran Buddha dengan seksama. Karena apapun bentuk dari materi itu sendiri adalah hanya sebagai sarana kita untuk bertahan hidup, dan memberikan kekuatan pada tubuh kita ini. Namun pada umumnya orang tidak puas dengan kekayaan yang dimilikinya, sehingga mencari kekayaannya dengan cara yang salah, antara lain dengan cara merampok, mencuri, menipu, ataupun lainnya. Memang benar hidup itu tidak akan ada artinya jika tidak ada kekayaan (sandang, pangan, papan), tetapi kita harus mengetahui dengan benar “Apa fungsi kekayaan itu untuk kita?” dan hendaknya  mencari dan memiliki kekayaan yang sesuai dengan cara Dhamma. Kekayaan itu bukan hanya yang berbentuk materi saja, namun ada juga kekayaan yang bukan materi. Kekayaan inilah yang akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan kita juga kebahagiaan banyak makhluk hidup. Kekayaan ini ada lima, yaitu:
1.Kita mempunyai keyakinan atau memiliki (saddha) yang berkeyakinan kepada Dhamma ajaran mulia Sang Buddha, yang telah diajarkan kepada kita semua, sehingga kita tidak ragu-ragu lagi dalam Dhamma-Nya dan kitapun memiliki keyakinan yang amat kuat terhadap apa yang sekarang kita ketahui dan pelajari, percaya terhadap segala sesuatu yang menjadi atau kenyataan (tahu, mengerti) dengan sungguh-sungguh, merasa itu pasti dan tentu tidak salah lagi. 
2.Ia yang memiliki kesempurnaan (sīla) yang menjadi landasan kemoralan hidup. Tanpa sīla yang dijalankan dengan baik, maka akan sangat sulit dan sangat sukar diperolehnya kekayaan itu. Namun pada kenyataannya dalam kehidupan kita sehari-hari kemoralan itu masih saja ada yang sulit kita jalankan dengan sungguh-sungguh, entah itu (lima sīla) atau (delapan sīla atau sepuluh sīla) dan sebagainya. Hal itu secara sadar atau tidak sadar, pada kenyataannya memang sulit untuk kita akui dengan sejujur-jujurnya. Kemoralan ini sangat penting untuk kita praktikkan dengan giat dan semangat. Orang yang melaksanakan sila (kebajikan moral), akan mendapat pahala dan kekayaannya akan bertambah besar. Orang yang rajin mengerjakan apa yang harus dikerjakannya, berkelakuan baik, dan mempunyai keyakinan yang kuat, tidak berbuat hal-hal yang memalukan dalam masyarakat, apakah mereka dari golongan para kesatria, para brahmana, para orang berkeluarga ataupun para pertapa, jika mereka meninggal, mereka akan meninggal dengan tenang dan pada saat kehancuran tubuh mereka setelah kematian, mereka akan terlahir kembali dalam keadaan bahagia di alam surga (suggati). 
3.Ia yang tidak terpengaruh oleh hal yang belum pasti seperti “firasat atau tanda-tanda lainnya” tetapi ia hendaknya lebih mempercayai (kamma) sebagai buah dari apa yang ia tanam atau lakukan. Akan lebih baik jika kita tidak terlalu percaya dan tidak terpengaruh oleh hal yang belum pasti; ‘ini itulah, katanya beginilah, rasanya begitulah, akan beginilah’, tidak menjadi masalah yang rumit jika kita tidak terpengaruh oleh semacam itu, dan kitapun akan menjadi lebih percaya diri dengan tujuan yang positif. Tidak terlalu bergantung pada tanda-tanda atau firasat, namun kita akan menjadi dewasa jika kita mampu memupuk rasa percaya terhadap Dhamma. 
4. Ia tidak mencari orang “yang pantas untuk diberi” (dakkhiṇeyyaṁ), tetapi ia akan memberi kepada mereka yang sedang membutuhkan bantuan kita, dan selalu memberi tanpa harus memilih orangnya dan tidak membeda-bedakan akan status. Namun jika kita ada waktu, ada dana, ada kesempatan, mengapa kita tidak memanfaatkan dengan baik. Yang pasti, tujuan kita adalah membantu dan memberi dengan kerelaan, itu sudah barang tentu kita akan mendapatkan banyak manfaat, sebaliknya juga mereka akan mendapatkan manfaat dari kita. Jadi kita tidak menyia-nyiakan hal ini menjadi hal yang tidak pasti, tetapi kitalah yang mengubah hal itu yang menjadi pasti dan tentu kita dapatkan. 
5.Ia yang memiliki kebijaksanaan (paññā) atau siapa saja yang dermawan, suka menolong dan memberi dana kebutuhan para bhikkhu ataupun umat lain. Yang harus kita perhatikan adalah pengertian terhadap Dhamma yang sesuai dengan ajaran Sang Buddha, sehingga pada saat kita berbuat baik untuk orang lain, yaitu kita menabung kebajikan, menabung kekayaan untuk hidup yang selanjutnya dan untuk saat ini juga. Jangan sampai kita mengeluh karena terlambat mengerti Dhamma. Namun, sebelum kita menyesal akan lebih baik kita mencoba ajaran ini, kita buktikan.  
Inilah lima cara yang dapat kita lakukan dengan cara mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh, tekun, rajin dan semangat. Kekayaan ini yang dapat dikembangkan para umat atau upasāka dan upasãkā. Jika memang latihan kita belum seberapa sempurna namun kita mau dan berusaha mengubah cara berpikir kita, pasti akan bisa membuat hidup kita lebih berarti dan menjadi orang yang memiliki kekayaan yang lebih berarti. Kekayaan ini bukan kekayaan yang bermateri, namun kekayaan ini yang akan membawa kebahagiaan untuk mereka yang mau dan berusaha mengembangkan lima cara ini. Tidak perlu canggung (kurang mahir atau tidak terampil dalam menggunakan sesuatu karena belum biasa mengerjakannya), terkadang kita kikuk karena jarang praktik. Mari kita buktikan supaya menjadi orang yang berhasil dalam Dhamma.
Sumber:
Digha Nikaya Mahaparinibbāna Sutta  Bab I 
Dhamma Vibhāga kelompok lima-pañcaka (A.III. 206) 
Oleh: H. R. H. The Late Patriach Prince Vajirananavarorasa
Diterbitkan Oleh: Vidyāsena Vihāra Vidyāloka 
Jl. Kenari Gg. Tanjung I 231 Yogyakarta – 55165 (0274) 542919

Dibaca : 4031 kali