x

TIGA JENIS DEWA

Hiri ottappasampanna sukkhadhammasamahita                                                        Santo sappurisa  loke devadhammati vuccare’ti

Mereka yang dikaruniai dengan sifat-sifat kedewaan adalah mereka yang memiliki rasa malu untuk berbuat jahat dan takut akan akibat-akibat perbuatan jahat serta teguh dalam Dhamma (praktik-praktik kebajikan mulia)

(Devadhamma Jataka, Khuddaka Nikāya)


    DOWNLOAD AUDIO

4 Keinginan Wajar 
Dalam Pattakamma Sutta dari Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, satu kesempatan Upāsaka Anathapindika mendatangi Sang Buddha. Di hadapan Beliau, Anathapindika mengungkapkan bahwa dirinya sebagai umat awam menginginkan empat hal dalam hidup-nya, yaitu: menjadi kaya dengan jalan Dhamma (benar), sehat dan panjang usia, termashyur, dan setelah hidup berakhir dapat terlahir kembali di alam bahagia. 

Kelebihan Surgawi
Tak dapat dipungkiri semua agama memberikan gambaran indah tentang alam surga. Demikian pula dalam agama Buddha, meski surga bukanlah kebahagiaan tertinggi, jika kita menelaah kitab suci akan ditemukan kelebihan alam surgawi dibandingkan alam manusia, antara lain:
1. Usia kehidupan surgawi lebih panjang dibanding usia kehidupan manusia.
2. Makhluk surgawi (dewa-dewi) mudah mendapat apa yang diinginkan, kebajikan yang mereka miliki memudahkan mereka untuk mendapatkannya.
3. Makhluk surgawi tidak punya rasa lelah/capek.

Tiga Jenis Dewa
Dalam kitab komentar dijelaskan bahwa dewa ada tiga jenis, yaitu: 
1. Sammati deva: dewa karena kesepakatan atau perjanjian, contohnya adalah para pejabat, raja-ratu, presiden.  
2. Upapatti deva: dewa karena kelahiran, yang dimaksud adalah dewa dan brahma yang sebenarnya.
3. Visuddhi deva: dewa karena kesucian, yang dimaksud adalah Buddha dan Arahat.

“Hidup adalah mudah bagi orang yang tidak tahu malu, yang suka menonjolkan diri seperti burung gagak, suka memfitnah, tidak tahu sopan santun, pongah, dan menjalankan hidup kotor.”
“Hidup adalah sukar bagi orang yang tahu malu, yang mencari kesucian, yang tanpa pamrih dan rendah hati, yang menjalankan hidup bersih, dan penuh perhatian.” 
(Dhammapada 244 & 245)

Istana Vihara
Cerita yang terdapat di dalam Kitab Suci Vimānavatthu ini adalah sebuah gambaran kisah surgawi yang didapat dari perbuatan kebajikan yang sangat sederhana. Kisah tersebut sebagai berikut:
Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthi di Jetavana. Pada waktu itu, Visākhā, umat awam agung itu, telah dibujuk oleh teman-teman dan pelayan-pelayannya untuk berjalan-jalan di taman pada suatu hari perayaan. Setelah mandi dan diminyaki dengan baik, dia menyantap makanan yang enak, menghias diri dengan seperangkat hiasan “Mahaladapasadhana (perambat besar)”. Lalu dengan dikelilingi lima ratus pendamping, dia berangkat dari rumah dengan upacara besar dan dengan sejumlah besar pengikut. Sementara berjalan menuju taman itu, Visākhā berpikir, “Apa yang ada bagiku di sana, di dalam hiburan kosong seolah-olah saya adalah gadis muda? Sebaiknya saya pergi ke vihara, memberi hormat kepada Yang Terberkahi dan para bhikkhu mulia yang memberikan inspirasi pada pikiran, dan saya akan mendengarkan Dhamma.” Maka dia pergi ke vihara, berhenti di satu sisi, melepaskan perhiasan “perambat besar”, dan memberikannya ke tangan seorang pelayan. Lalu, dengan khusuk dia memberi penghormatan kepada Yang Terberkahi, dan duduk di satu sisi. Dia mendengarkan Dhamma, dan melakukan upacara mengelilingi Sang Buddha, dan kemudian meninggalkan vihara.
Berjalan belum jauh, Visākhā berkata kepada pelayannya itu, “kemarilah perhiasan itu, akan saya pakai lagi.” Ternyata pelayan itu telah membungkus perhiasan itu dan menaruhnya di vihara. Karena dia berjalan ke sana ke mari, dia lupa mengambilnya lagi ketika tiba waktunya untuk pergi. Dia mengaku, “saya lupa, perhiasan itu pasti ada di sana. Saya akan mengambilnya.” Segera dia beranjak akan kembali. Namun Visākhā berkata, “jika telah ditaruh di vihara dan dilupakan, maka saya akan mempersembahkannya untuk manfaat vihara.” Visākhā kembali lagi ke vihara, menghampiri Yang Terberkahi, menyapa Beliau dengan hormat dan menyatakan niatnya sambil berkata, “Bhante yang terhormat, saya akan membangun vihara. Semoga Yang Terberkahi mengizinkan karena belas kasihan kepada saya.” Yang Terberkahi memberikan persetujuan dengan berdiam. Setelah Visākhā memberikan dana perhiasan yang bernilai  90.000.000 x 10 juta itu, Y.M. Maha Moggallana Thera mengawasi pekerjaan baru itu. Vihara itu selesai dalam waktu sembilan bulan. Untuk Sang Buddha, Yang Terberkahi, dan Saṅgha para bhikkhu, dibuatlah istana yang cocok untuk tempat tinggal mereka, yang memiliki seribu ruang dikatakan ada lima ratus ruang di lantai bawah dan lima ratus ruang di lantai atas. Istana ini bagaikan istana dewa, yang lantainya menyerupai mosaik permata, dihias dengan untaian yang dirangkai indah, dengan kayu yang dipoles halus. Bagian-bagiannya dibuat dengan perbandingan yang baik, dengan dinding pilar, atap, tiang, hiasan dinding, tiang pintu, jendela, anak tangga, dan seterusnya yang diatur dengan baik dan menyenangkan. Dibangun juga berbagai bangunan tambahan, seperti misalnya sel meditasi, paviliun, jalanan setengah terbuka, dan sebagainya. Ketika vihara itu telah selesai dibangun dan setelah melakukan persembahan yang menghabiskan 90.000.000 x 10 juta keping emas, Visākhā melihat kemegahan (bangunan besar) itu ketika dia memasuki istana tersebut bersama lima ratus pengiringnya. Dengan sukacita dia berkata kepada mereka, “Jasa kebajikan apapun yang telah saya peroleh karena telah membangun istana seperti ini, ikutilah bersukacita di dalamnya; saya melimpahkan kepada kalian jasa-jasa kebajikan yang ada di dalamnya karena berpartisipasi.” “Demikianlah adanya, demikianlah adanya,” kata mereka dengan pikiran penuh keyakinan. Mereka semua pun bersukacita.
Pada saat itu, ada seorang pengikut awam perempuan yang berpartisipasi dalam pelimpahan jasa itu dengan pikiran khusus. Dia meninggal tak lama kemudian, dan terlahir di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Melalui kekuatan jasanya, di sana muncul baginya satu istana besar yang dapat bergerak melalui langit, indah dengan banyak rumah berpinakel, dengan taman-taman hiburan, kolam-kolam teratai dan jenisnya, enam belas yojana panjang dan lebar serta tingginya. Dengan sinarnya sendiri, istana itu bersinar sepanjang seratus yojana. Dan ketika dewi itu pergi (kemanapun juga), istana dan seribu peri pergi bersamanya.

Sumber:
- Kamus Umum Buddha Dhamma, Panjika,Trisattva Buddhis Center Jakarta 2004
- Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama 2000
- Vimànavatthu, Vihara Bodhivamsa Klaten

Dibaca : 3612 kali