x

Pengorbanan Atau Persembahan Yang Tertinggi

Tiṇadosāni khettāni, Dosadosā ayaṁ paja
Tasmā hi vītadosesu, Dinnaṁ hoti mahapphalaṁ
Rumput liar merusak kesuburan sawah atau ladang, kebencian merupakan bencana bagi orang biasa. Karena itu, memberikan persembahan kepada mereka yang terbebas dari kebencian akan memberikan buah yang berlimpah. 
(Dhammapada, Taṇhavagga Syair 357)

    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan saat ini seringkali dihadapkan dengan dua pilihan ketika kita melakukan perbuatan baik, terkadang kita merasa sulit dalam memilih kedua pilihan tersebut. Pilihannya adalah untuk melakukan pengorbanan atau untuk melakukan persembahan yang tujuannya hanya satu yakni “Berbuat Baik”. “Bagaimana cara kita melakukan perbuatan baik dalam membedakan antara pengorbanan dengan persembahan?” Bahkan, perbuatan baik ini menjadi suatu tradisi yang turun-temurun dilakukan oleh seseorang atau kalangan keluarga. Tradisi berbuat baik dalam konteks di lingkungan masyarakat yang kita kenal seperti upacara selamatan dan sadranan hingga saat ini masih dilakukan oleh kalangan masyarakat di zaman modern. Upacara seperti ini dapat kita jumpai di desa-desa atau perkotaan dalam upacara tahunan kirab grebeg, selamatan laut dan lain sebagainya. Sebenarnya upacara pengorbanan yang menggunakan makhluk hidup sebagai salah satu syarat sarana ritual, seperti daging ayam yang disembelih sendiri, kambing berkendit putih yang melingkar di perutnya untuk disembelih, bahkan kepala sapi atau kepala kerbau yang dijadikan syarat dalam upacara pengorbanan dan selamatan.

Pengorbanan dan Persembahan yang Terbaik
Bagaimana cara melakukan pengorbanan dan persembahan yang terbaik di dalam ajaran Buddha? Menurut Dutiya Aggi Sutta (A.N,VII:47,) ada seorang Brāhmaṇa bernama Uggatasarīra yang akan melakukan persiapan untuk suatu pengorbanan besar. 500 sapi jantan, 500 kerbau, 500 sapi muda, 500 kambing, 500 domba telah digiring ke tiang pengorbanan. Kemudian, Brāhmaṇa Uggatasarīra mendatangi Sang Bhāgava bertanya demikian: “Aku telah mendengar Guru Gotama, bahwa mengorbankan api pengorbanan dan mendirikan tiang pengorbanan akan membuahkan manfaat yang besar?” Ketika hal ini ditanyakan, YM. Ānanda berkata kepada Brāhmaṇa Uggatasarīra: Brāhmaṇa seharusnya engkau bertanya kepada Sang Bhagava demikian: “Guru Gotama, aku ingin mengorbankan api pengorbanan dan mendirikan tiang pengorbanan. Sudilah Guru Gotama menasihatiku dan mengajariku sehingga dapat mengarahkan aku pada kesejahteraan dan kebahagiaanku untuk waktu yang lama.” 
Brāhmaṇa, ada tiga api yang harus anda jaga dan pelihara dengan baik, dengan pikiran yang bahagia bahkan anda diwajibkan untuk menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakannya. Apakah api bagi mereka yang layak menerima pemberian? Ibu dan ayah disebut api yang layak menerima pemberian. Karena alasan apakah? Karena dari mereka, maka seseorang berasal mula dan terlahir. Kemudian Brāhmaṇa, apakah yang disebut api perumah tangga? Anak-anak, istri, para budak, para pelayan, dan para pekerja inilah yang disebut api perumah tangga. Dan apakah api mereka yang layak menerima persembahan? Para Petapa dan Brāhmaṇa yang menghindari ke-mabukan dan kelengahan, yang kokoh dalam kesabaran dan kelembutan, yang telah jinak, tenang, dan berlatih untuk mencapai Nibbāna disebut api bagi mereka yang layak menerima persembahan. Oleh sebab itu, inilah Brāhmaṇa ketiga api yang harus dijaga dan dipelihara dengan baik dan dengan bahagia, setelah menghormati, menghargai menjunjung dan memuliakannya. Tetapi, Brāhmaṇa kayu api ini kadang harus dinyalakan, kadang harus dilihat dengan keseimbangan, kadang harus dipadamkan dan kadang harus disimpan.

Persembahan dengan “Keyakinan yang lebih Tinggi”
Dalam Dīgha Nikāya, Kutadanta Sutta, 94-96: 2009, guru Buddha berkata kepada Brāhmaṇa Kutadanta, terdapat tiga cara dan enam belas aturan persembahan yang harus dilakukan dengan cara yang lebih “tinggi” selain melakukan pelepasan makhluk hidup dengan tidak menyakitinya dan membagikan berbagai makanan dan kebutuhan kepada para Petapa dan Brāhmaṇa. Cara yang lebih tinggi di sini ialah: (1) Bila seseorang berdana kepada Arahat atau pertapa atau bhikkhu yang menjalankan moralitas dengan baik. (2) Membangun vihāra dan menyediakan tempat tinggal atau membukakan pintu bagi bhikkhu saṅgha untuk bermalam atau bertempat tinggal. (3) Bila seseorang itu berlindung pada Buddha, Dhamma dan Saṅgha.  (4) Bila seseorang itu praktik atau menjalankan lima sila Pañcasīla Buddhis dalam kehidupannya. (5) Bila seseorang itu praktik dan melatih meditasi hingga mencapai dalam jhāna-jhāna. Dalam Saṁyutta Nikāya (Sahagathavagga 1:32) untuk memperkuat keyakinannya, seorang devatā bertanya kepada Sang Bhagavā. “Mengapa pengorbanan yang mereka lakukan dengan banyak kemewahan tidak sebanding dengan persembahan seseorang yang baik?” Mengapa seratus ribu persembahan dari mereka yang mengorbankan seribu tidak sebanding dengan sebagian kecil dari persembahan yang diberikan olehnya? kemudian Sang Bhagavā menjelaskan sebagai berikut: ‘Karena mereka memberikan selagi berdiam dalam ketidakbajikan, setelah menganiaya dan membunuh yang menyebabkan penderitaan. Persembahan mereka sungguh menyedihkan dan penuh dengan kekerasan, maka tidak sebanding dengan pemberian dari seseorang yang baik. Oleh karenanya, mengapa seratus ribu persembahan dari mereka tidaklah sebanding dengan sebagian kecil persembahan yang diberikan oleh seseorang yang baik.

Simpulan: Ketika seseorang hendak melakukan perbuatan baik, entah dalam bentuk pengorbanan atau persembahan yang kualitasnya lebih baik dan sempurna ialah ketika seseorang mengerti akan manfaat dan tujuan ia dalam melakukan kebaikan tersebut. Jika ia berpikiran untuk berusia panjang dan terlahir dengan sempurna, maka perbuatan baiknya harus memiliki sifat welas asih, yang tentu ia tidak akan mendapatkan kegembiraan dalam kekerasan, menyiksa atau membunuh dalam mengorbankan atau mempersembahkan kebaikan tersebut. Memiliki batin yang dipenuhi sikap welas asih akan bersifat lembut, bebas dari kekejaman, tidak arogan, dan hanya melihat manfaat kebahagiaan makhluk lain. 

Dibaca : 876 kali