x

MENJADI TENANG DALAM KETIDAKTENANGAN

Sahassamapi ce vācā, anatthapadasaṁhitā
ekaṁ atthapadaṁ seyyo, yaṁ sutvā upasammati.
“Seandainya ada ucapan kalaupun seribu kata, 
tidak berisi kata bermanfaat, sepatah kata yang bermanfaat
adalah lebih baik, yang setelah didengar menjadikan damai.”
(Dhammapada, Sahassa Vagga: 100)

    DOWNLOAD AUDIO

Pendahuluan
Gosip atau membicarakan orang lain sepertinya sudah menjadi hal yang umum terjadi. Sepanjang hari tanpa sedikit pun kita lewati, perilaku tersebut pasti terjadi. Namun apa yang terjadi jika pembahasan utama dalam perbincangan tersebut adalah diri kita? Hanya ada dua kemungkinan; sadar itu wajar terjadi dan menerimanya atau marah karena tidak selayaknya diri kita dijadikan bahan gosip. Tetapi  apapun kemungkinan respon yang ada, hal itu pasti akan terjadi.

Pembahasan
Gosip pada dasarnya adalah apapun yang dapat dianggap sebagai hal negatif tentang seseorang yang dibicarakan dengan orang lain, di mana mereka tidak mendengarnya langsung dari pihak yang bersangkutan. Gosip bisa berupa sesuatu yang sangat sederhana tanpa adanya niat untuk menyakiti orang tersebut dan bisa pula sesuatu yang membunuh karakter seseorang.
Dalam Kakacūpama Sutta (Majjhima Nikāya) yaitu sutta tentang perumpamaan gergaji.  Buddha mengatakan bahwa ada lima ucapan yang kemungkinan digunakan orang lain ketika berbicara dengan lawan bicaranya:
1.Ucapan mereka tepat atau tidak tepat pada waktunya (kālena vā akālena vā)
2.Benar atau tidak benar (bhūtena vā abhūtena vā)
3.Lembut atau kasar (saṇhena vā pharusena vā)
4.Berhubungan dengan kebaikan atau mencelakakan (atthasaṁhitena vā anatthasaṁhitena vā)
5.Disertai dengan pikiran cinta kasih atau benci (mettacittā vā dosantarā vā) 

Lima kemungkinan tersebut yang akan menentukan hasil dari pembicaraan seseorang dengan lawan bicaranya. Jika apa yang diomongkan berdasarkan kebajikan, cinta kasih, waktu yang tepat, ucapan yang benar, dan lemah lembut, maka hasil dari pembicaraannya pun akan menyenangkan pihak lawan bicara. Sebaliknya, jika omongan tersebut tidak dalam hal yang tepat dan jauh dari kebajikan, hal itu akan membuat pihak lawan bicara tersinggung dan marah. 
Sudah jelas bahwa dalam hidup ini kita tidak akan pernah lepas dari omongan-omongan orang lain, tidak akan pernah bebas dari opini publik. Perilaku baik atau perilaku buruk, keduanya adalah santapan yang lezat untuk dibicarakan bagi mereka yang gemar dengan hidangan “GOSIP”. Lalu bagaimana cara kita menyikapi kemungkinan-kemungkinan ucapan yang orang lain keluarkan untuk kita? 
Dalam Kakacūpama Sutta, Guru Agung Buddha juga mengatakan: 
“... Kalian harus berlatih sebagai berikut; ‘pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh, dan kami tidak akan mengucapkan kata-kata jahat; kami akan berdiam dengan melingkupi orang itu dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih; dan dimulai dengan dirinya, ...”
1.Pikiran tidak mudah terpengaruh
Pikiran yang tidak mudah terpengaruh berarti pikiran yang tidak mudah terpancing dengan omongan-omongan orang. Misalkan kita diberitahu bahwa pegawai kita sudah menipu, lantas dalam hal ini hendaknya kita memastikannya terlebih dahulu, jangan lantas langsung memecat dan menyita barang-barangnya. Memastikan apa yang sebenarnya terjadi merupakan salah satu bentuk pikiran yang tidak mudah terpengaruh.
2.Tidak akan mengucapkan kata-kata jahat atau buruk
Terkendali dan berpikir dengan jernih sebelum berucap merupakan cara bagi kita agar tidak mengucapkan kata-kata yang jahat. Jahat di sini berarti apa yang kita ucapkan merupakan hinaan yang mungkin dapat menyakiti perasaan orang lain. Misalkan kita dituduh mencuri barang milik seseorang, lantas kita yang merasa tidak bersalah mulai tidak menerima dan emosi, kemudian tanpa pikir panjang kita mengumpat dan mencaci orang yang telah menuduh kita. Alih-alih membela diri, kita hanya akan memperburuk keadaan. Tidak mengucapkan kata-kata jahat atau buruk, berarti menjadi tenang dan tidak tergesa-gesa dalam menyikapi suatu hal.
3.Berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih tak 
ada kebencian serta iri hati
Dalam kondisi seperti ini, kita tidak memberikan respon baik tindakan jasmani atau ucapan. Melainkan respon di dalam pikiran, kita cukup berdiam diri sambil memancarkan cinta kasih kepada siapa yang telah sengaja atau tidak sengaja menyakiti diri kita. Misalkan ada orang yang cemburu, tidak senang atas pencapaian kita, lantas orang tersebut mengumpat dan mencaci kita, menumbuhkan gosip yang tidak-tidak atas pencapaian yang diperoleh, yang kita lakukan cukup berdiam, memancarkan cinta kasih kepada orang tersebut, dengan berpikiran semoga orang tersebut berbahagia, semoga ia tersadarkan. Cinta kasih (mettā) merupakan obat mujarab yang menyembuhkan dua pihak, baik si pemberi obat, maupun yang me-nerima obat.
Itulah beberapa hal yang selayaknya kita latih di dalam kehidupan ini. Melatih bagaimana kita menanggapi ucapan atau pembicaraan yang tidak menyenangkan, sehingga apapun ucapan atau gosip yang muncul pada diri kita, tidak akan membuat diri kita menjadi buruk, atau gelisah karenanya. Seperti dalam Akkosa Sutta, Saṁyutta Nikāya Buddha mengatakan: “... Kami yang tidak mencaci siapa pun, yang tidak memarahi siapa pun, yang tidak mencerca siapa pun – menolak menerima darimu cacian dan kemarahan dan semburan yang dilepaskan kepada kami. Itu masih tetap milikmu, ....”
Artinya ketika kita tidak sama sekali menerima cacian tersebut, tidak terpengaruh olehnya, maka cacian tersebut, gosip tersebut, hanya akan menjadi milik ia yang memberikannya. 
Dengan demikian, memiliki sikap tidak mudah terpengaruh, kemudian tidak balik mencaci dengan kata buruk, dan senantiasa berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, akan membuat kita menjadi tenang terkendali di dalam ketidaktenangan. Seperti pada akhir uraian Kakacūpama Sutta Buddha mengatakan “Taṁ vo bhavissati dīgharattaṁ hitāya sukhāyā (hal ini cukup menyejahterakan dan membahagiakan anda semua).”

Sumber:
-Wijaya, Edi & Indra Anggara (alih bahasa). 2013. Kotbah-kotbah Menengah Sang Buddha Majjhima Nikāya (terjemahan dari, The Middle Length Discourses of the Buddha, A translation of the Majjhima Nikāya, by B.¥ āṇamoli & B.Bodhi). Dhammacitta Press, Jakarta. 
-Anggara, Indra (alih bahasa Inggris – Indonesia). 2010. Kotbah-kotbah berkelompok Sang Buddha, Terjemahan baru Saṁyutta Nikāya (diterjemahkan dari bahasa pàli oleh Bhikkhu Bodhi). Dhamma Citta Press, Jakarta. 

Dibaca : 1982 kali