x

Memberi Menciptakan Perlindungan

 Attā hi attano nātho, ko hi nātho paro siyā
Attan’āva sudantena, nāthaṁ labhati dullabhan’ti
Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa lagi yang dapat menjadi pelindung bagi diri sendiri. Setelah dapat mengendalikan diri sendiri dengan baik, 
ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.
(Dhammapada 160)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Dalam dunia kehidupan pada umumnya tentu ada saling memberi satu sama lain, khususnya antar manusia; kita saling memberi perhatian, bantuan kebutuhan, pertolongan, nasehat, peringatan dan lain-lain. Bahkan saling memberi maaf antara satu dengan yang lain. Siapa yang pandai berpikir dan bersikap serta bertindak demikian tentu ia yang akan memperoleh akibat baik. 

Saling Memberi
Dalam kehidupan sosial di tengah masyarakat memang harus terjadi saling berhubungan satu dengan yang lain antar sesama manusia secara langsung maupun tidak langsung. Bagaimanapun juga, tidak ada siapa pun yang bisa hidup sendiri tanpa kebersamaan dengan manusia yang lain di masyarakat luas. Apalagi terkait dengan kehidupan dalam masyarakat umat Buddha, ada komunitas bhikkhu saṅgha dan komunitas umat awam (perumah tangga). Hubungan kedua belah pihak tentu tidak mungkin terjalin tanpa ada yang lain, mereka hidup saling bergantung satu dengan yang lain, antara umat perumah tangga dengan para bhikkhu.   

Dalam Itivuttaka 107:111, Khuddaka Nikāya Sang Buddha mengatakan demikian: "Wahai para bhikkhu, para brahmana dan perumah tangga sangat banyak membantu kalian. Mereka menyediakan kebutuhan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan pada saat sakit." 

"Dan kalian, wahai para bhikkhu, sangat banyak membantu para brahmana dan perumah tangga, karena kalian mengajarkan pada mereka Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada tengahnya, dan indah pada akhirnya dengan pengertian dan susunannya yang benar. Kalian menjalankan kehidupan suci dengan sepenuh hati serta dengan murni." 

"Jadi, wahai para bhikkhu, kehidupan suci ini dijalani secara saling menopang, dengan tujuan untuk menyeberangi banjir, dan sepenuhnya mengakhiri dukkha." 

Manfaat Memberi
Manfaat yang akan diperoleh dari perbuatan memberi tentu akan dapat dinikmati oleh si pelaku sendiri.  

Dalam Aṅguttara Nikāya IV.57 dikatakan bahwa; pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di antara suku Koliya, di kota Sajjanela. Suatu pagi Sang Buddha dilayani dengan sajian berbagai makanan yang lezat oleh Suppavasa wanita Koliya, kemudian Sang Buddha berkata demikian:

"Dengan memberikan makanan, Suppavasa seorang siswa wanita yang luhur memberikan empat hal kepada penerimanya. Apakah yang empat itu? Dia memberikan kehidupan yang panjang, keelokan, kebahagiaan, dan kekuatan. Dengan memberikan kehidupan yang panjang, dia sendiri akan memiliki kehidupan yang panjang, manusiawi atau surgawi. Dengan memberikan keelokan, dia sendiri akan memiliki keelokan, manusiawi atau surgawi. Dengan memberikan kebahagiaan, dia sendiri akan memiliki kebahagiaan, manusiawi atau surgawi. Dengan memberikan kekuatan, dia sendiri akan memiliki kekuatan, manusiawi atau surgawi. Dengan memberikan makanan, seorang siswa wanita yang luhur memberikan empat hal kepada penerimanya." 

Dalam Itivuttaka 26; 18-19 Sang Buddha berkata: "Wahai para bhikkhu, seandainya para makhluk tahu, seperti yang aku tahu, buah dari perbuatan memberi serta berbagi, mereka tidak akan makan sebelum memberi; mereka tidak akan membiarkan noda kekikiran menguasai mereka dan mengakar di dalam pikiran. Bahkan seandainya itu adalah makanan terakhir, suapan terakhir, mereka tidak akan menikmatinya tanpa membaginya seandainya ada orang yang dapat diajak berbagi." 

"Tetapi, wahai para bhikkhu, karena para makhluk tidak tahu, seperti yang aku tahu, buah dari perbuatan memberi serta berbagi, maka mereka makan tanpa memberi dan noda kekikiran menguasai serta mengakar di dalam pikiran mereka."  

Memberi Menciptakan Perlindungan 
Berbagai kemudahan dan kelancaran serta keberuntungan dapat diperoleh dari perbuatan memberi yang dilakukan oleh siapapun.  Dalam Aṅguttara Nikāya VIII.35 dapat kita temukan penjelasan mengenai jenis-jenis kelahiran sebagai akibat dari memberi dana. Dikatakan dalam kitab tersebut bahwa seseorang membuat persembahan untuk seorang petapa atau brahmana, mempersembahkan kepadanya makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan; kalungan bunga, wangi-wangian, dan minyak oles; tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan. Pada saat membuat persembahan ini, dia mengharapkan imbalan. Kini dia melihat para bangsawan yang kaya raya, para brahmana yang kaya raya, atau para perumah tangga yang kaya raya, yang bersenang-senang karena diperlengkapi lima macam kenikmatan indera, dan dia berpikir, "O, dengan hancurnya tubuh, setelah kematian, semoga aku terlahir di antara mereka!" Dan dia mengarahkan pikirannya pada buah pikir itu, menjaganya dengan kuat dan mengembangkannya. Buah pikirnya ini mengarah pada apa yang rendah, dan jika tidak dikembangkan menuju apa yang lebih tinggi maka hal ini akan membawanya pada kelahiran kembali yang seperti itu saja. Dengan hancurnya tubuh, setelah kematian, dia akan terlahir kembali di antara para bangsawan yang kaya raya, para brahmana yang kaya raya atau para perumah tangga yang kaya raya. Namun, kunyatakan hal ini hanya untuk orang-orang yang bermoral, bukan untuk yang tak bermoral; karena para bhikkhu, kemurniannyalah yang membuat berhasilnya keinginan hati orang yang bermoral. Demikian yang dikatakan oleh Sang Buddha yang semestinya penting untuk kita renungkan sendiri. 
 
Sekian dan terima kasih

Buku Sumber: 
1. Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, Vihara Bodhivamsa, Klaten, 2003.
2. Itivuttaka, Bandung, 1998.
3. Kitab Suci Dhammapada, Bahusutta Society, 2013. 

Dibaca : 392 kali