x

Issā Dan Macchariya (Iri Hati & Kekikiran)

Ayasā’va malaṁ samuṭṭhitaṁ, taduṭṭhāya tam’eva khādati
Evaṁ atidhonacārinaṁ, sakakammāni nayanti duggatiṁ
Seperti karat yang timbul dari besi, kemudian akan menghancurkan besi itu sendiri.
Demikian pula, perbuatan buruk dilakukan oleh para pelaku kejahatan,
Yang kemudian akan menghancurkan dirinya sendiri.

(Dhammapada syair 240)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam Sakka Pañha Sutta (Sutta ke-21 dari Dīgha Nikāya), dijelaskan bahwa: Sakka, raja para dewa, mengajukan pertanyaan kepada Sang Buddha: “Dengan belenggu apakah, Yang Mulia, makhluk-makhluk seperti dewa, manusia, asura, naga, gandhabba, dan jenis apa pun yang ada, walaupun mereka ingin hidup tanpa kebencian, tanpa menyakiti satu sama lain, tanpa bermusuhan, dan tanpa memfitnah, ingin hidup dalam kedamaian, tetapi mereka masih tetap hidup dalam kebencian, menyakiti satu sama lain, bermusuhan, dan memfitnah?” Sang Buddha menjawab: “Raja para dewa, adalah belenggu issā (iri hati) dan macchariya (kekikiran) yang membelenggu makhluk-makhluk sehingga walaupun mereka ingin hidup tanpa kebencian, tanpa menyakiti satu sama lain, tanpa bermusuhan, dan tanpa memfitnah, ingin hidup dalam kedamaian, tetapi mereka masih tetap hidup dalam kebencian, menyakiti satu sama lain, bermusuhan, dan memfitnah.” Ini adalah jawaban Sang Buddha, dan Sakka gembira, berseru: “Jadi, demikian Sang Buddha. Jadi, demikian Yang Sempurna menempuh sang jalan! Melalui jawaban Sang Buddha, aku telah mengatasi keraguanku dan melenyapkan keraguanku!”

Issā/Iri Hati

Adalah perasaan tidak suka yang dimiliki seseorang terhadap orang lain yang lebih baik daripada dirinya. Tidak ingin melihat seseorang lebih makmur dan lebih kaya daripadanya. Rata-rata orang-orang tidak ingin melihat atau mendengar siapapun yang melebihinya dalam hal kekayaan, status sosial, penampilan fisik, kecerdasan, atau pengetahuan. Akan menjadi bertambah iri ketika objek yang menyebabkan iri itu adalah orang yang berprofesi sama, atau yang memiliki status sosial yang sama, terlebih lagi pada orang yang tidak disukai. Demikianlah; seorang anak akan iri terhadap anak lainnya, seorang wanita akan iri terhadap wanita lainnya, juga ada iri di antara para karyawan, guru-guru, bahkan kadang kala terjadi juga pada para bhikkhu.

Iri hati hanya memunculkan kamma buruk tanpa memberikan keuntungan apapun. Iri hati membuat seseorang menjadi tidak bahagia bahkan bersifat merusak. Menurut ajaran Sang Buddha dalam Cūḷakammavibhaṅga Sutta, iri hati mengarah menuju ke alam rendah dan jika terlahir kembali menjadi manusia, orang yang iri hati tidak memiliki pengaruh dan pengikut hanya memiliki sedikit teman. 

Lawan dari iri hati adalah kegembiraan simpatik/muditā, yang membuat kita ikut senang pada kemakmuran dan kesejahteraan orang lain. Ini akan mendukung kebahagiaan kita karena membuat kita gembira atas keberuntungan orang lain. Menurut Cūḷakammavibhaṅga Sutta, bergembira atas kemakmuran orang lain akan mengarah menuju kelahiran kembali di alam surga dan jika terlahir kembali sebagai manusia, ia akan menjadi seorang yang memiliki banyak pengikut dan berpengaruh serta banyak teman.

Macchariya /Kekikiran
Adalah keinginan untuk menimbun sesuatu dan tidak mau berbagi kepada orang lain. Karena kekikiran, orang tidak pernah berdana walaupun hartanya berlimpah. Mereka hanya menimbun hartanya saja mereka tidak berbagi dengan keluarganya, bahkan untuk dirinya sendiri mereka merasa sayang menggunakan kekayaannya, dan bisa  juga mereka mencegah orang lain yang ingin berdana. Kekikiran akan mengkondisikan kemelekatan, orang yang kikir tidak ingin orang lain mengetahui apa yang ia miliki, apalagi membagi kekayaannya kepada orang lain, ia sangat melekati segala yang ia miliki, tidak mau berpisah dengan segala yang menjadi miliknya. Kekikiran membuat seseorang menjadi tidak bahagia, tidak tenang, dan jengkel jika ada orang lain melakukan sesuatu terhadap barang yang menjadi kepemilikannya. Seorang yang kikir tidak ingin orang lain menggunakan hartanya. Seseorang yang diliputi perasaan kikir, ingin menjauhkan siapapun dari hal-hal di mana ia terikat. Muncul perasaan, hanya ia sajalah yang berhak untuk menggunakan benda-benda yang ia miliki. Hanya ia saja yang berhak berteman dengan si A atau si B. Seorang yang memiliki kekikiran bisa menjadi posesif, lihatlah akhir-akhir ini! Terutama di kota-kota besar, kaum pria dan wanita mengancam pasangannya karena tidak senang melihat pasangan memiliki hubungan yang dekat dengan lawan jenis. Seorang suami atau istri akan cemburu dan cemberut pada orang yang menatap pasangannya, ia tidak tahan melihat pasangannya berbicara akrab dengan orang lain. Bahkan, ada pasangan yang begitu marahnya melihat istri atau suaminya melakukan percakapan bersahabat dengan orang lain yang berbeda jenis kelamin.

Menurut Sang Buddha dalam Cūḷakammavibhaṅga Sutta, kekikiran membuat seseorang tidak berdaya dalam kehidupan berikutnya, mengarah ke alam rendah bahkan ke alam neraka. Jika ia terlahir di alam manusia maka dia akan terlahir miskin dan sulit sekali untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.  

Lawan dari macchariya/kekikiran adalah cāga/kemurahan hati/dermawan yaitu gemar memberi, melepaskan sesuatu yang dimiliki demi kebahagiaan makhluk lain. Dikatakan dalam sutta yang sama bahwa; orang yang dermawan, suka berdana, akan mencapai alam-alam bahagia/surga, dan jika terlahir sebagai manusia ia akan menjadi kaya dan makmur.

Seperti karat yang timbul dari besi, kemudian akan menghancurkan besi itu sendiri. Demikian pula, perbuatan buruk dilakukan oleh para pelaku kejahatan, yang kemudian akan menghancurkan dirinya sendiri. Iri hati dan kekikiran ini bagaikan karat, karat akan menghancurkan besi, iri hati dan kekikiran akan menghancurkan pelakunya, hidupnya akan menjadi tidak tenang, selalu diliputi kecemburuan, kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran, tidak ada kedamaian, tidak ada kebahagiaan. Dengan kekuatan iri hati dan kekikiran ini, akan mengantarkan seseorang ke alam-alam penderitaan.
 
Kisah Tissa Thera

Suatu saat seorang Thera bernama Tissa tinggal di Savatthi. Pada suatu hari, ia menerima seperangkat jubah yang bagus dan merasa sangat senang. Ia bermaksud mengenakan jubah tersebut keesokan harinya. Tetapi pada malam hari ia meninggal dunia. Karena melekat pada seperangkat jubah yang bagus itu, ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal di dalam lipatan jubah tersebut. Karena tidak ada orang yang mewarisi benda miliknya, diputuskan bahwa seperangkat jubah tersebut akan dibagi bersama oleh bhikkhu-bhikkhu yang lain. Ketika para bhikkhu sedang bersiap untuk membagi jubah di antara mereka, si kutu sangat marah dan berteriak, "Mereka sedang merusak jubahku!"

Teriakan ini didengar oleh Sang Buddha dengan kemampuan pendengaran luar biasa Beliau. Maka Beliau mengirim seseorang untuk menghentikan perbuatan para bhikkhu dan memberi petunjuk kepada mereka untuk menyelesaikan masalah jubah itu setelah tujuh hari. Pada hari ke delapan, seperangkat jubah milik Tissa Thera itu dibagi oleh para bhikkhu. Kemudian Sang Buddha ditanya oleh para bhikkhu mengapa Beliau menyuruh mereka menunggu selama tujuh hari sebelum melakukan pembagian jubah Tissa Thera. Kepada mereka Sang Buddha berkata, "Murid-murid-Ku, pikiran Tissa diliputi dengan kekikiran dan melekat pada seperangkat jubah itu pada saat dia meninggal dunia, dan karenanya ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal dalam lipatan jubah tersebut. Ketika engkau semua bersiap untuk membagi jubah itu, Tissa si kutu sangatlah menderita dan berlarian tak tentu arah dalam lipatan jubah itu. Jika engkau mengambil jubah tersebut pada saat itu, Tissa si kutu akan merasa sangat membencimu dan ia akan terlahir di alam neraka (niraya). Tetapi sekarang Tissa telah bertumimbal lahir di alam dewa Tusita, dan sebab itu Aku memperbolehkan engkau mengambil jubah tersebut.

"Sebenarnya, para bhikkhu, kekikiran, dan kemelekatan sangatlah berbahaya, seperti karat merusak besi di mana ia terbentuk, begitu pula kekikiran dan kemelekatan menghancurkan seseorang dan mengirimnya ke alam neraka (niraya). Seorang bhikkhu sebaiknya tidak terlalu menuruti kehendak atau melekat dalam pemakaian empat kebutuhan pokok."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:
”Seperti karat yang timbul dari besi, kemudian akan menghancurkan besi itu sendiri. Demikian pula, perbuatan buruk dilakukan oleh para pelaku kejahatan, yang kemudian akan menghancurkan dirinya sendiri.” 

Dhammapada Atthakatha, Syair 240.

Dibaca : 5244 kali