x

Berdoa Atau Tidak Berdoa Setelah Berbuat Baik

“Yathā vārivahā pūrā paripūrenti sāgaraṁ, Evameva  ito dinnaṁ petānaṁ  upakappati.” (Tirokuḍḍa Sutta Bait 8)  
“Icchitaṁ patthitaṁ tumhaṁ khippameva samijjhatu, sabbe pūrentu saṅkappā cando paṇṇaraso yathā, maṇi jotiraso yathā.” (Dhammapada Atthakatha bagian 2. Nomor 1. Kisah Samavati) 

    DOWNLOAD AUDIO

Sering kita mendengar ada pro dan kontra mengenai boleh atau tidaknya berdoa setelah seseorang berbuat baik, apakah ia berdana kepada orang biasa, kepada vihara atau  kepada Bhikkhu Saïgha.
Mari kita lihat kehidupan di jaman Sang Buddha yang dialami oleh upasaka-upasika. Para bhante setelah menerima dana dari upasaka-upasika maupun dari umat awam umumnya akan mendoakan dengan doa anumodana seperti yang sering kita dengar. 
“Yathā vārivahā pūrā paripūrenti sāgaraṁ, Evameva  ito dinnaṁ petānaṁ  upakappati.” (Tirokuḍḍa Sutta Bait 8)  
“Icchitaṁ patthitaṁ tumhaṁ khippameva samijjhatu, sabbe pūrentu saṅkappā cando paṇṇaraso yathā, maṇi jotiraso yathā.” (Dhammapada Atthakatha bagian 2. Nomor 1. Kisah Samavati) 
Artinya: “Seperti sungai yang meluap airnya akan mengalir memenuhi lautan, begitu pula persembahan yang disampaikan oleh sanak keluarga akan menuju kepada mereka yang sudah meninggal.”
“Semoga semua keinginan dan harapanmu terpenuhi, semoga semua cita-citamu terkabul bagaikan bulan purnama sempurna  atau bagaikan intan berkilauan.”
Setelah kita mendengar artinya anumodana yang diucapkan oleh bhante, maka sesungguhnya apapun yang kita inginkan, yang kita cita-citakan didoakan oleh bhante agar terkabul jadi kenyataan.
Seperti yang dialami oleh upasika yang bernama Patipujika Kumari yang ada pada Dhammapada Atthakatha bagian 4. Nomor 4 Kisah Patipujika Kumari.
Patipujika Kumari adalah seorang wanita dari Savatthi. Dia menikah pada usia 16 tahun dan mempunyai 4 orang putra. Patipujika Kumari merupakan seorang wanita yang baik budi dan murah hati, suka memberikan dana makanan dan kebutuhan lainnya kepada para bhikkhu. Dia juga sering pergi ke vihara dan membersihkan halaman, mengisi tempat air, dan memberikan pelayanan lainnya.
Patipujika Kumari juga mempunyai kemampuan mengingat kehidupan sebelumnya (Jatissara) di mana dia adalah salah seorang istri Dewa Malabhari, yang tinggal di alam Surga Tavatimsa. Dia juga ingat bahwa dia telah meninggal dunia di alam surga ketika para dewa sedang berjalan-jalan dan menikmati kesenangan di taman surga dan memetik bunga-bunga surgawi.
Maka setiap saat Patipujika berdana kepada para bhikkhu atau perbuatan baik lainnya, dia berharap dapat dilahirkan kembali di alam Surga Tavatimsa sebagai istrinya Dewa Malabhari, suaminya dahulu.
Suatu hari Patipujika jatuh sakit dan meninggal dunia pada sore itu juga. Seperti yang Patipujika inginkan, dia dilahirkan kembali di alam Surga Tavatimsa sebagai istrinya Dewa Malabhari. Seratus tahun di alam manusia sama dengan satu hari satu malam di alam Surga Tavatimsa. Dewa Malabhari dan istri-istrinya yang lain masih bermain-main di taman surga dan kepergian Patipujika hampir tidak dirasakan oleh mereka. Maka, ketika Patipujika kembali bergabung dengan mereka, Dewa Malabhari menanyakan “kemana Patipujika pagi hari tadi?” Patipujika kemudian menceritakan kematiannya di alam Surga Tavatimsa, dan kelahirannya kembali di alam manusia. Pernikahannya dengan seorang manusia dan juga tentang bagaimana dia sudah mempunyai 4 orang putra, kematiannya di alam manusia dan lahir kembali di alam surga Tavatimsa.
Ketika para bhikkhu mendengar kematian Patipujika, mereka bersedih. Kemudian menghadap Sang Buddha dan melaporkan kematian Patipujika, orang yang sering memberikan dana makanan pada pagi hari, sudah meninggal pada sore hari.
Sang Buddha menjawab bahwa kehidupan suatu makhluk sangat sebentar. Dan sebelum mereka puas dengan kesenangan-kesenangan inderanya, kematian sudah menjemputnya. Kemudian Sang Buddha membabarkan Dhammapada syair 48 berikut: ”Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indera, yang pikirannya kacau dan tidak pernah puas akan berada di bawah kekuasaan sang penghancur (Kematian).”
Cerita yang lainnya, seperti yang dialami oleh Raja Bimbisara di kota Rajagaha yang ada pada Khuddaka Nikāya, Sutta Pitaka, judul Tirokuḍḍa Sutta (Khotbah di luar dinding).
Setelah Sang Buddha tiba di kota Rajagaha, Raja Bimbisara menemui Sang Buddha mendengarkan ceramah Dhamma, berhasil mencapai tingkat kesucian Sotapanna lalu esok harinya mengundang Sang Buddha dengan Bhikkhu Saṅgha yang berjumlah banyak untuk datang makan di istana kerajaan. Makhluk-makhluk halus kelaparan yang merupakan sanak keluarga yang sudah meninggal dari Raja Bimbisara datang mendekat dan menunggu dengan harapan, “Sekarang Raja Bimbisara akan memberi pelimpahan jasa dana itu kepada kami” setelah Sang Buddha dengan Bhikkhu Saṅgha selesai makan, tetapi Raja Bimbisara hanya memikirkan tempat berdiamnya Sang Buddha. Akibatnya Raja sama sekali tidak memberikan pelimpahan jasa dana itu kepada siapapun. Karena mendapati bahwa harapan mereka tidak terkabul, di malam itu para makhluk halus kelaparan datang ke ruang kamar Raja Bimbisara dengan mengeluarkan suara lengkingan yang mengerikan dan menakutkan. Raja terganggu oleh suara itu dan ketakutan, maka pada pagi harinya Raja memberitahu Sang Buddha, “Yang Mulia Bhante, saya mendengar suara yang sedemikian menakutkan semalaman. Apakah yang akan terjadi pada diriku? Sang Buddha berkata “Jangan takut, Raja yang Agung tidak ada celaka yang akan datang dari suara itu, yang terjadi adalah ada sanak keluargamu di masa lampau yang terlahir kembali sebagai makhluk halus kelaparan.  Selama satu interval jaman Buddha mereka selalu mengharapkan Raja Bimbisara memberikan dana kepada Sang Buddha dan Bhikkhu Saṅgha lalu kemudian memberi pelimpahan jasa dana itu kepada mereka makhluk halus kelaparan. Namun kemarin Raja tidak memberi pelimpahan jasa. Karena mendapati bahwa harapan meraka makhluk halus kelaparan itu sirna, lalu mereka mengeluarkan suara lengkingan yang mengerikan tersebut”. Raja Bimbisara bertanya “Yang Mulia Bhante, apakah mereka makhluk halus kelaparan akan memperolehnya jika saya memberi pelimpahan jasa dana sekarang? “Ya, Raja yang Agung“. “Kalau demikian, Yang Mulia Bhante sudilah menerima undangan makan dari saya untuk hari ini bersama dengan Bhikkhu Saṅgha”. “Sang Buddha menerimanya”.
Maka Raja Bimbisara kembali ke istana tempat tinggalnya. Setelah menyuruh menyiapkan dana makanan yang melimpah, Raja memberitahu waktunya sudah siap. Sang Buddha bersama Bhikkhu Saṅgha pergi menuju ke kerajaan dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Makhluk-makhluk halus kelaparan tersebut datang berdiri di luar dinding dan sebagainya, sambil berpikir, “ Hari ini mungkin kami akan memperoleh berkah pelimpahan jasa dana. Maka Sang Buddha membuat agar makhluk-makhluk halus kelaparan itu semuanya tampak terlihat oleh Raja. Ketika Raja memberikan air persembahan, Raja lalu mempersembahkan jasa kebajikan itu dengan berdoa semoga pelimpahan jasa ini untuk sanak saudara yang sudah meninggal. “Pada waktu itu juga, kolam-kolam surgawi yang tertutup teratai muncul untuk para makhluk halus. Makhluk-makhluk halus itupun mandi dan minum sepuasnya. Akhirnya kelelahan dan kehausan mereka mereda dan warna kulit mereka berubah menjadi keemasan. Ketika Raja Bimbisara memberi bubur, hidangan dan makanan  lainnya kepada Sang Buddha dengan Bhikkhu Saṅgha lalu Raja memberi pelimpahan jasa kepada para leluhurnya, dan para leluhur mendapat makanan surgawi yang muncul untuk mereka. Kemudian Raja mempersembahkan jubah, sandal, tempat tinggal kepada Sang Buddha dengan Bhikkhu Saṅgha lalu Raja memberikan pelimpahan jasa dana itu kepada sanak saudaranya, maka pakaian, sandal, dan tempat tinggal surgawi muncul untuk mereka para makhluk-makhluk halus. Keajaiban ini tampak terlihat oleh semua yang hadir di tempat itu seperti yang Sang Buddha perlihatkan. Akhirnya Raja Bimbisara merasa sangat puas. 
Setelah makan dan sudah kenyang, Sang Buddha mengucapkan bait-bait dengan tujuan untuk memberikan berkah kepada Raja Bimbisara dengan Anumo-dana ini “Di luar dinding mereka berdiri dan menunggu.....”.
Bapak, Ibu, Saudara, Saudari demikianlah Raja Bimbisara yang awalnya tidak berdoa memberi pelimpahan jasa kepada sanak saudara leluhurnya, membuat para leluhurnya kecewa dan menunjukkan rasa kekecewaannya dengan datang ke ruang tidur Raja Bimbisara membuat suara lengkingan yang mengerikan.
Kemudian Sang Buddha memberitahu cara berdoa pelimpahan jasa dana kepada sanak keluarga para leluhur, dengan kesaktian-Nya memperlihatkan pemberian doa dan pelimpahan jasa, dana tersebut diterima oleh sanak keluarga para leluhur mereka mendapat makanan dan minuman surgawi dan terlahir sebagai dewa seperti yang disaksikan oleh Raja Bimbisara dan seluruh hadirin.
Semoga uraian Dhamma ini dapat memberikan inspirasi kepada Bapak, Ibu, Saudara, Saudari bahwa pelimpahan jasa dana sangat diharapkan oleh sanak keluarga yang sudah meninggal dan juga berkah berdana bisa mencapai apa yang dicita-citakan, seperti dua contoh cerita di atas. 
Semoga semua makhluk berbahagia.

Dibaca : 9891 kali