x

Ketulusan Dalam Perbuatan Penuh Pengabdian

Attānaṁ ce tathā kayirā, yathaññamanusāsati
Sudanto vata dammetha, attā hi kira duddamo’ti.
Hendaknya diri sendiri melakukan seperti yang dinasihatkannya kepada orang lain. 
Ia yang terkendali dengan baik akan dapat membimbing orang lain, 
karena diri sendiri sesungguhnya sukar dikendalikan. 
(Dhammapada 159)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam dunia kehidupan ada istilah dalam melakukan sebuah pengabdian semestinya ada ketulusan yang cukup kuat. Apabila seseorang memiliki cukup rasa tulus dalam melakukan sesuatu untuk siapa pun, tentu akan memperoleh rasa aman dan nyaman dalam hidupnya sehari-hari. Siapa pun yang merasa dirinya aman dan nyaman dalam berasosiasi dengan orang lain, tentu akan damai dan bahagia hidupnya. 

Demikian juga bagi setiap orang yang memiliki hubungan baik dengan orang dalam kehidupan bermasyarakat, tentu harus memiliki sikap penuh pengendalian diri secara benar dan tulus.
Ketulusan seorang umat kepada bhikkhu
Siapa pun yang merasa di posisi sebagai umat, harus memiliki pengendalian diri dengan penuh ketulusan terutama dalam melakukan suatu perbuatan ataupun kewajiban terhadap orang lain, dalam hal ini para bhikkhu di masyarakat. Sebagaimana dikatakan dalam Dīgha Nikāya, Sigalovada Sutta, bahwa para umat perumah tangga memiliki tugas, kewajiban, dan tanggung jawab kepada para bhikkhu, yaitu:
Para umat melakukan perbuatan apapun harus dengan penuh kasih sayang kepada para bhikkhu.
Para umat bilamana menyampaikan suatu ucapan harus dengan penuh kasih sayang.
Bilamana berpikir tentang bhikkhu tentu juga harus dengan pikiran penuh kasih sayang. 
Andaikata kedatangan ataupun berjumpa di manapun tentu juga selalu menyambut para bhikkhu dengan baik dan penuh kasih sayang.
Demikian juga dalam menyokong kebutuhan pokok para bhikkhu harus dengan cara yang terbaik.
Ketulusan seorang bhikkhu kepada umat 
Sebaliknya, sebagai pihak yang diperlakukan sangat baik dan penuh kehormatan, tentu para bhikkhu harus juga berbuat sesuatu yang disertai ketulusan untuk para umatnya, yaitu:
Bhikkhu harus berusaha mencegah umatnya berbuat jahat diminta ataupun tidak diminta. 
Bhikkhu juga menganjurkan umatnya supaya dalam hidupnya berbuat baik. 
Bhikkhu mencintai umatnya dengan pikiran bersih. 
Bhikkhu mengajarkan apabila ada hal-hal yang belum diketahui umatnya. 
Bhikkhu menjelaskan sejelas mungkin apabila masih ada yang diragukan oleh umatnya.
Dan bhikkhu juga memiliki tugas untuk menunjukkan jalan menuju alam kehidupan yang bahagia (alam surga).

Siapapun Harus Menjauhi Penyimpangan
Dengan ketulusan seseorang akan selalu bisa menjaga bagaimana agar tidak timbul penyimpangan yang sangat mengganggu keharmonisan hidup dalam bermasyarakat. Andaikata pun ada masalah yang bisa mengganggu, semestinya dapat diselesaikan dengan jalan dan cara yang bijaksana. Artinya bahwa penyelesaian suatu masalah tentu tidak baik jika memunculkan suatu masalah baru dan tidak menyelesaikan masalah yang sedang ada. Suatu tindakan yang diambil sebagai sebuah gerakan dalam menyelesaikan masalah namun dengan sangat jelas terlihat sebagai masalah baru muncul dan juga jelas tidak membantu persoalan yang ada terselesaikan, maka itu bisa dikatakan sebagai sebuah penyimpangan. Setiap orang seharusnya menyadari secara benar agar tidak melakukan hal demikian. 

Bagaimana menimbang-nimbang agar tindakan yang dilakukan itu justru jauh dari penyimpangan, terhindar dari penyimpangan, harus bebas dari penyimpangan.

Seperti ayat 159 Dhammapada tersebut di atas, juga ada dalam Maṅgala Sutta, Suttanipata, dan Khuddaka Nikāya bahwa dapat membimbing orang lain seperti membimbing diri sendiri juga, apalagi membimbing diri sendiri ke arah yang benar adalah BERKAH UTAMA.

Sekian dan terima kasih

Buku Sumber: 
1.Kitab Suci Dīgha Nikāya, Team DhammaCitta Press, 2009
2.Dhammapada Syair Kebenaran, Ehipassiko Foundation, 2015
3.Kamus Besar Bahasa Indonesia,  soft file (google)

Dibaca : 3549 kali