x

PALING DICINTA

Sabbā disā anuparigamma cetasā, nevajjhagā piyataramattanā kvaci;
Evaṁ piyo puthu attā paresaṁ, tasmā na hiṁse paramatta kāmo’ti.
Setelah melintasi segala penjuru dengan pikiran, seseorang tidak menemukan di manapun yang lebih ia sayangi daripada dirinya sendiri. Demikian pula bagi setiap orang, dirinya sendiri adalah yang paling disayangi. Oleh karena itu, ia yang menyayangi diri sendiri seharusnya tidak mencelakai orang lain. 

(Saṁyutta Nikāya, Sagāthāvagga, Kosalasaṁyutta)

    DOWNLOAD AUDIO

”Aku mencintaimu, Aku sangat mencintaimu, Aku siap melakukan apapun untukmu, Aku rela mati demi kamu.” Seperti itulah kira-kira ungkapan orang-orang dalam menyatakan perasaan cintanya kepada orang yang dicintainya, apakah itu oleh pasangan suami-istri atau oleh pasangan yang memulai pendekatan (pacaran). Bagi yang sudah berkeluarga, menganggap yang paling dicintai adalah pasangannya, atau mungkin anaknya. Mendengar ungkapan seperti itu, terlihat bahwa seseorang sangat mencintai pasangannya, melebihi cintanya pada apapun. Benarkah demikian? Pada umumnya seperti itulah kenyataan yang kita ketahui. Bisa jadi kita sendiri menyetujui pendapat demikian.

Sebenarnya yang paling dicintai 

Siapa sebenarnya yang paling seseorang cintai atau sayangi? Suatu ketika Raja Pasenadi bertanya kepada Ratu Mallikā; “Adakah, Mallikā, seseorang yang lebih engkau sayangi daripada dirimu sendiri?” Ratu Mallikā menjawab; “Tidak ada Baginda, orang yang lebih kusayangi daripada diriku sendiri.” Ditanya dengan pertanyaan yang sama, Raja Pasenadi pun menjawab serupa, bahwa yang lebih disayangi adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Raja Pasenadi kemudian menjumpai Sang Buddha, menceritakan percakapannya dengan Ratu Mallikā. Sang Buddha, setelah memahami maknanya menyatakan syair berikut: 
“Setelah melintasi segala penjuru dengan pikiran, seseorang tidak menemukan di manapun yang lebih ia sayangi daripada dirinya sendiri. Demikian pula bagi setiap orang, dirinya sendiri adalah yang paling disayangi. Oleh karena itu, ia yang menyayangi diri sendiri seharusnya tidak mencelakai orang lain.”
Ternyata bukan orang tua, pasangan, kerabat, anak, teman, atau orang lain yang sebenarnya paling seseorang cintai dan sayangi, melainkan dirinya sendiri.

Yang dicintai sumber kesedihan

Ketika seseorang bersama dengan yang dicintai akan ada perasaan bahagia. Dengan demikian, seseorang  beranggapan kebahagiaan itu bersumber dari yang dicintainya. Pemahaman Buddhis malah sebaliknya, yang dicintai justru sumber kesedihan. Benarkah?

Suatu ketika cucu Visakha, Sudatta, meninggal dunia. Visakha merasa sangat kehilangan dan bersedih. Ia lalu pergi menghadap Sang Buddha. Melihat Visakha yang bersedih, Sang Buddha berkata; “Visakha, tidakkah kamu menyadari banyak orang meninggal dunia di Savatthi setiap hari? Jika kamu memperhatikan mereka semua seperti engkau memperhatikan cucumu, kamu pasti akan terus menangis dan berkabung tanpa henti....” Sang Buddha lalu membabarkan syair Dhammapada 213 berikut: “Dari cinta timbul kesedihan, dari cinta timbul ketakutan. Bagi orang yang telah bebas dari cinta, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.” 

Apakah kita benar-benar mencintai diri sendiri?

Setelah kita mengetahui bahwa sesungguhnya yang paling kita cintai adalah diri sendiri, sudahkah kita benar mencintai diri sendiri? Bagaimanakah yang dimaksud dengan mencintai diri sendiri?

Suatu ketika Raja Pasenadi memberitahu Sang Buddha tentang perenungan yang muncul dalam dirinya. Mendengar apa yang disampaikan oleh Raja, Sang Buddha menyetujui apa yang menjadi perenungan Raja. Kemudian Sang Buddha mengulangi apa yang diungkapkan Raja; “Siapakah yang memperlakukan diri mereka sebagai kekasih dan siapakah yang memperlakukan diri mereka sebagai musuh? Mereka yang melibatkan diri dalam perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran memperlakukan diri mereka sebagai musuh. Bahkan, walaupun mereka mengatakan, ‘kami menganggap diri kami sebagai kekasih.’ Mereka sebenarnya memperlakukan diri mereka sebagai musuh. Atas alasan apakah? Karena mereka memperlakukan diri mereka dengan cara yang sama seperti terhadap orang yang dimusuhi. Tetapi, mereka yang melibatkan diri mereka dalam perbuatan baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran memperlakukan diri mereka sebagai kekasih. Bahkan, walaupun mereka mengatakan, ‘kami menganggap diri kami sebagai musuh.’ Mereka sebenarnya memperlakukan diri mereka sebagai kekasih. Atas alasan apakah? Karena mereka memperlakukan diri mereka dengan cara yang sama seperti terhadap orang yang dikasihi.”

Jadi intinya, orang yang gemar melakukan kebajikan adalah orang yang sangat mencintai dirinya sendiri. Dengan melakukan kebajikan maka kelak ia akan memetik kebahagiaan. Ia berbahagia karena perbuatan bajik yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

Mencintai orang lain adalah wujud cinta pada diri sendiri

Cinta terhadap diri sendiri tidak berarti kemudian menjadi narsisme atau egois. Cinta terhadap diri sendiri justru diwujudkan melalui sikap dan tindakan terhadap orang lain, tidak hanya dalam bentuk konsep semata. 
Ada enam cara yang perlu dikembangkan sebagai wujud cinta kepada diri sendiri juga kepada orang lain: 
1.Mempertahankan tindakan cinta kasih melalui jasmani baik ketika di depan maupun di belakang.
2.Mempertahankan tindakan cinta kasih melalui ucapan baik ketika di depan maupun di belakang.
3.Mempertahankan tindakan cinta kasih melalui pikiran baik ketika di depan maupun di belakang.
4.Berbagi perolehan tanpa rasa enggan.
5.Memiliki perilaku bermoral.
6.Memiliki pandangan benar.

Dengan mengembangkan enam prinsip tersebut, Sang Buddha mengatakan bahwa itu adalah cara yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati, menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan, dan persatuan.

“Mencintai diri sendiri dilakukan dengan mencintai orang lain. Mencintai orang lain berarti mencintai diri sendiri”


Referensi:
Bodhi, Bhikkhu. Tanpa tahun. Seri Tipitaka Khotbah-khotbah Berkelompok Sang Buddha Buku 1 Sagathavagga. Terjemahan oleh Indra Anggara. 2010. Jakarta Barat: Dhammacitta.
Bodhi, Bhikkhu. 2012. Seri Tipitaka Khotbah-khotbah Numerikal Sang Buddha Jilid 3. Terjemahan oleh Indra Anggara. 2015. Jakarta Barat: Dhammacitta.
Sangha Theravada Indonesia. 2005. Paritta Suci. Jakarta Utara: Yayasan Sangha Theravada Indonesia. 
Alima. 2013. Ringkasan dan Petikan Ajaran Sang Buddha Siddharta Gotama; Kumpulan latar Belakang dan Bait-bait Dhammapada. Tanpa Kota: Tanpa Penerbit.

Dibaca : 5045 kali