x

Memberi Adalah Berkah Utama

Dānañca dhammacariyā ca, etammaṅgalamuttamaṁ’ti

Berdana, melakukan kebajikan, itulah berkah utama

    DOWNLOAD AUDIO

Memberikan bagian dari apa yang dimiliki untuk meringankan penderitaan orang lain atau makhluk lain itulah berdana. Tujuan dari berdana yang sesungguhnya bukanlah suatu perbuatan memberi dengan harapan mendapatkan imbalan atau balasan atas perbuatannya itu, baik dalam kehidupan yang sekarang maupun dalam kehidupan yang akan datang. Dalam berdana harus didorong oleh keinginan untuk membebaskan diri dari kemelekatan dan nafsu keinginan yang besar terhadap sesuatu yang dimiliki. Dengan berdana seseorang tidak akan memberatkan dirinya dalam suatu tumpukan keinginan, tetapi membuat seseorang berempati terhadap penderitaan orang lain. Berdana/memberi adalah perbuatan baik yang paling mudah dilakukan, dan memberi adalah awal dari semua kebajikan, memberi merupakan pintu yang memungkinkan tumbuhnya sifat-sifat baik yang mungkin belum muncul pada seseorang. Memberi merupakan salah satu berkah utama seperti yang terdapat dalam Maṅgala Sutta. Untuk memotivasi kita dalam memberi, sehingga kita mendapatkan berkah, simaklah penjelasan dari Sang Bhagavā yang disampaikan kepada Ratu Mallikā dan Bhante Sāriputta serta bhikkhu-bhikkhu lainnya, sebagai berikut:

Pertanyaan Ratu Mallikā
Dalam Aṅguttara Nikāya kelompok empat (IV:197) Ratu Mallikā mendatangi Sang Bhagavā, dan menanyakan tentang empat hal: 
1. Mengapakah beberapa perempuan di sini berpenampilan buruk, cacat, tidak menyenangkan dilihat, miskin, dan juga tidak berpengaruh? 
2. Mengapakah beberapa di antaranya berpenampilan buruk, cacat, dan tidak menyenangkan dilihat; tetapi kaya, dengan banyak kekayaan dan harta; dan juga berpengaruh? 
3. Dan mengapakah beberapa perempuan di sini berpenampilan baik, menarik, dan anggun, memiliki kecantikan; tetapi miskin dan juga tidak berpengaruh? 
4. Dan mengapakah beberapa di antaranya berpenampilan baik, menarik, dan anggun, memiliki kecantikan; dan kaya, dengan banyak kekayaan dan harta; dan juga berpengaruh?

Sang Bhagavā menjelaskan: 
1. Seorang perempuan yang mudah marah dan mudah gusar, bahkan jika dikritik sedikit ia akan kehilangan kesabaran dan menjadi jengkel, melawan, dan keras kepala; ia memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. Ia kikir, tidak suka memberi, dan ia  irihati, kesal dan marah akan perolehan, kehormatan, penghargaan, pemujaan yang diberikan kepada orang lain. Ketika ia meninggal dunia dari keadaan itu, jika ia kembali ke dunia ini, maka di mana pun ia terlahir kembali ia akan berpenampilan buruk, cacat, dan tidak menyenangkan dilihat, miskin, dan tidak berpengaruh.
2. Perempuan lainnya yang mudah marah dan mudah gusar, bahkan jika dikritik sedikit ia akan kehilangan kesabaran dan menjadi jengkel, melawan, dan keras kepala; ia memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. Tetapi ia tidak kikir, senang memberi, dan ia tidak irihati, tidak kesal atau marah akan perolehan, kehormatan, penghargaan, pemujaan yang diberikan kepada orang lain.  Ketika ia meninggal dunia dari keadaan itu, jika ia kembali ke dunia ini, maka di mana pun ia terlahir kembali ia akan berpenampilan buruk, cacat, dan tidak menyenangkan dilihat, tetapi ia akan kaya, dengan banyak kekayaan dan harta, dan berpengaruh. 
3. Perempuan lainnya lagi tidak mudah marah dan tidak mudah gusar, bahkan jika dikritik banyak ia tidak akan kehilangan kesabaran dan tidak menjadi jengkel, tidak bersikap bermusuhan, dan tidak keras kepala; ia tidak memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. Tetapi ia kikir, tidak suka memberi, dan ia  irihati, kesal dan marah akan perolehan, kehormatan, penghargaan, pemujaan yang diberikan kepada orang lain. Ketika ia meninggal dunia dari keadaan itu, jika ia kembali ke dunia ini, maka di mana pun ia terlahir kembali ia akan berpenampilan baik, menarik, dan anggun, memiliki kecantikan; tetapi ia akan miskin, dan tidak berpengaruh.
4. Dan perempuan lainnya lagi tidak mudah marah dan tidak mudah gusar, bahkan jika dikritik banyak ia tidak akan kehilangan kesabaran dan tidak menjadi jengkel, tidak bersikap bermusuhan, dan tidak keras kepala; ia tidak memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. Dan ia tidak kikir, senang memberi, juga ia tidak irihati, tidak kesal atau marah akan perolehan, kehormatan, penghargaan, pemujaan yang diberikan kepada orang lain. Ketika ia meninggal dunia dari keadaan itu, jika ia kembali ke dunia ini, maka di mana pun ia terlahir kembali ia akan berpenampilan baik, menarik, dan anggun, memiliki kecantikan; memiliki banyak kekayaan dan harta, dan berpengaruh.

Pertanyaan Bhante Sāriputta
Dalam Aṅguttara Nikāya kelompok empat (IV:79) Bhante Sāriputta mendatangi Sang Bhagavā dan menanyakan tentang empat hal:
1. Mengapakah seseorang yang melakukan bisnis berakhir dengan kegagalan? 
2. Mengapakah seseorang yang melakukan bisnis, memperoleh keuntungan tidak sesuai dengan yang diharapkannya? 
3. Mengapakah bagi orang lainnya lagi yang melakukan bisnis memperoleh keuntungan sesuai dengan yang diharapkannya? 
4. Dan mengapakah bagi orang lainnya lagi yang melakukan bisnis memperoleh keuntungan melebihi yang diharapkannya? 

Sang Bhagavā menjelaskan:
1. Seorang mendatangi seorang petapa atau seorang brahmana dan mengundangnya untuk meminta apa yang dibutuhkannya, tetapi ia tidak memberikan apa yang diminta. Ketika ia meninggal dunia, jika ia kembali ke alam ini, apa pun bisnis yang ia lakukan akan berakhir dengan kegagalan. 
2. Seorang lainnya mendatangi seorang petapa atau seorang brahmana dan mengundangnya untuk meminta apa yang dibutuhkannya, Ia memberikannya tetapi tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Ketika ia meninggal dunia, jika ia kembali ke alam ini, apa pun bisnis yang ia lakukan tidak memperoleh keuntungan sesuai dengan yang diharapkannya. 
3. Seorang lainnya lagi mendatangi seorang petapa atau seorang brahmana dan mengundangnya untuk meminta apa yang dibutuhkannya. Ia memberikannya dan memenuhi harapannya. Ketika ia meninggal dunia, jika ia kembali ke alam ini, apa pun bisnis yang ia lakukan akan memperoleh keuntungan sesuai dengan yang diharapkannya. 
4. Seorang lainnya lagi mendatangi seorang petapa atau seorang brahmana dan mengundangnya untuk meminta apa yang dibutuhkannya. Ia memberikannya dan bahkan sampai melebihi harapannya. Ketika ia meninggal dunia, jika ia kembali ke alam ini, apa pun bisnis yang ia lakukan akan memperoleh keuntungan melebihi yang diharapkannya. 
Inilah alasan mengapa bagi seseorang di sini bisnis yang ia lakukan berakhir dengan kegagalan, bagi orang lainnya bisnis yang ia lakukan memperoleh keuntungan tidak sesuai dengan yang diharapkannya, bagi orang lainnya lagi bisnis yang ia lakukan memperoleh keuntungan sesuai dengan yang diharapkannya, dan bagi orang lainnya lagi bisnis yang ia lakukan memperoleh keuntungan melebihi yang diharapkannya.

Pemberian dari orang baik
Dalam Aṅguttara Nikāya kelompok lima (V:148) Sang Bhagavā menjelaskan kepada para bhikkhu tentang lima pemberian dari orang baik, dan buah yang akan dipetiknya, yaitu: 
1. Memberi dengan penuh keyakinan; maka di mana pun akibat dari pemberian itu berbuah, ia menjadi kaya, dengan harta kekayaan berlimpah, dan ia menjadi tampan/cantik, anggun, memiliki penampilan yang menarik. 
2. Memberi dengan penuh hormat; maka di manapun akibat dari pemberian itu berbuah, ia menjadi kaya, dengan harta kekayaan berlimpah, dan anak-anak serta istrinya, para pelayan dan para pekerjanya patuh, menyimak, dan mengarahkan pikiran mereka untuk memahami. 
3. Memberi pada waktu yang tepat; maka di manapun akibat dari pemberian itu berbuah, ia menjadi kaya, dengan harta kekayaan berlimpah, dan memperoleh keuntungan-keuntungan yang lain sesuai dengan waktunya. 
4. Memberi dengan murah hati; maka di manapun akibat dari pemberian itu berbuah, ia menjadi kaya, dengan harta kekayaan berlimpah, dan dapat menikmati lima jenis kenikmatan indria. 
5. Memberi tanpa merendahkan dirinya atau orang lain; maka di manapun akibat dari pemberian itu berbuah, ia menjadi kaya, dengan harta kekayaan berlimpah, dan tidak ada kerusakan pada hartanya dari sumber mana pun, apakah dari api, banjir, raja-raja, pencuri, atau pewaris yang tidak disukai. 
Dalam Aṅguttara Nikāya kelompok tujuh (VII:52) Bhante Sāriputta mendatangi Sang Bhagavà, dan menanyakan tentang; 
1. Apa yang menyebabkan suatu pemberian yang diberikan tidak menghasilkan buah yang besar? 
2. Dan apa yang menyebabkan suatu pemberian yang diberikan menghasilkan buah yang besar? 
Sang Bhagavā menjelaskan bahwa: 
1. Suatu pemberian yang diberikan tidak menghasilkan buah yang besar, karena: Seseorang memberikan suatu pemberian dengan pengharapan, dengan pikiran melekat, mengharapkan imbalan, ia memberikan suatu pemberian, dengan berpikir: “Setelah meninggal dunia, aku akan memanfaatkannya; Memberi akan membuat dia menjadi baik; Memberi dipraktikkan sebelum ayah dan kakekku, aku tidak boleh meninggalkan kebiasaan masa lampau ini; Aku memasak, orang-orang ini tidak memasak, tidaklah benar bahwa aku yang memasak tidak memberi kepada mereka yang tidak memasak; Seperti halnya para bijaksanawan masa lampau mengadakan pengorbanan besar itu, demikian pula aku akan memberikan suatu pemberian; Ketika aku sedang memberikan suatu pemberian, pikiranku menjadi tenteram, sukacita, dan kegembiraan muncul.”  
2. Suatu pemberian yang diberikan menghasilkan buah yang besar, karena: ia tidak memberikan suatu pemberian dengan pengharapan, tidak dengan pikiran melekat, tidak mengharapkan imbalan, ia memberikan suatu pemberian, dengan berpikir: ‘Ini adalah suatu hiasan pikiran, suatu perlengkapan pikiran.’

Dibaca : 4464 kali