x

BERKAH MĀGHA PŪJĀ

Kesabaran, ketabahan adalah cara melatih batin terbaik

Para Buddha bersabda: ‘Nibbāna adalah yang tertinggi’.


    DOWNLOAD AUDIO

Sang Bhagavā, sang pengetahu, penglihat, yang maha suci, yang telah mencapai penerangan sempurna, telah membabarkan Ovādapāṭimokkhā ini, dengan tiga syair berikut ini:
Kesabaran, ketabahan adalah cara melatih batin terbaik. Para Buddha bersabda: “Nibbāna adalah yang tertinggi”. Seseorang yang melukai orang lain, menyakiti orang lain, bukanlah seorang pertapa, seorang samana.
Tak berbuat segala kejahatan
Mengembangkan kebajikan
Menyucikan pikiran sendiri
Ini adalah ajaran para Buddha
Tak mengumpat, tak menyakiti
Terkendali dalam tata susila
Tahu ukuran dalam hal makan
Hidup di tempat yang tenang
Berusaha mengembangkan pikiran luhur
Ini adalah ajaran para Buddha

Sīla, samādhi, dan paññā telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā,  pengetahu, penglihat, yang maha suci, yang telah mencapai penerangan sempurna, melalui aneka uraian.

Bagaimanakah sīla telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā? Sīla telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā baik dengan uraian tingkat dasariah (heṭṭhima) maupun dengan uraian tingkat yang lebih tinggi (uparima). 

Bagaimanakah Sīla telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat dasariah? Sang Bhagavā bersabda: “Di Ajaran ini, siswa mulia (ariyasavako) adalah ia yang: menghindari pembunuhan makhluk hidup; menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan; menghindari perbuatan asusila; menghindari ucapan bohong; dan menghindari minuman keras, barang madat yang menyebabkan lemahnya kesadaran. Demikianlah sīla diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat dasariah.

Bagaimanakah sīla telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat yang lebih tinggi?  Sang Bhagavā bersabda: “Di Ajaran ini, seorang bhikkhu melaksanakan sīla dengan baik, mengendalikan diri sesuai dengan Paṭimokkha, sempurna dalam tindak tanduk dan bepergiannya, melihat bahaya dari kesalahan walaupun kecil, berlatih dengan bertekad menaati peraturan-peraturan.” Demikianlah sīla diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat lebih tinggi.

Bagaimanakah samādhi telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā? samādhi telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā baik dengan uraian tingkat dasariah (heṭṭhima) maupun dengan uraian tingkat yang lebih tinggi (uparima).

Bagaimanakah samādhi telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat dasariah? Sang Bhagavā bersabda: “Di Ajaran ini, siswa mulia (ariyasavako), dengan menggunakan Nibbāna sebagai obyek, mencapai keteguhan pikiran (samādhi), mencapai penyatuan pikiran (cittassekaggata). Demikianlah samādhi telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat dasariah.

Bagaimanakah samādhi telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat lebih tinggi? Sang Bhagavā bersabda: “Di Ajaran ini, seorang bhikkhu terbebas dari nafsu indria, terbebas dari bentuk pikiran yang tidak baik, memasuki dan berdiam dalam jhāna pertama (paṭhama-jhāna), (yakni keadaan batin) yang bergembira dan bahagia yang ditimbulkan dari ketenangan (vivekaja pītisukha), yang disertai dengan pengarahan pikiran pada objek (vitakka), pengukuhan pikiran pada objek (vicāra). Kemudian, setelah menenangkan vitakka dan vicāra, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna kedua (dutiya-jhāna), (yakni keadaan batin) yang bergembira dan bahagia yang ditimbulkan dari keteguhan (samādhija pītisukha), tanpa disertai dengan vitakka dan vicāra. Selanjutnya, karena melenyapkan kegembiraan (pītti), ia berada dalam keadaan batin seimbang (upekkhā), perhatian (sati) dan kesadaran murni (sampajāna). Ia mengenyam kebahagiaan jasmaniah yang oleh para Ariya dikatakan sebagai “Ia yang seimbang batinnya, penuh perhatian, dan mencapai kebahagiaan” Ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ketiga (tatiya-jhāna). Kemudian, dengan melenyapkan perasaan bahagia dan tidak bahagia; melenyapkan kegembiraan hati (somanassa) dan kesedihan hati (domanassa) yang telah dirasakan sebelumnya, ia memasuki dan berdiam dalam jhana keempat (catuttha-jhāna), (yakni keadaan batin) yang tiada derita maupun bahagia, yang disertai perhatian murni yang ditimbulkan dari keseimbangan (upekkhā-satipārisuddhi). Demikianlah samādhi telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat yang lebih tinggi.

Bagaimanakah paññā telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā?  Paññā telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā baik dengan uraian tingkat dasariah (heṭṭhima) maupun dengan uraian tingkat yang lebih tinggi (uparima).

Bagaimanakah paññā telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat dasariah?  Sang Bhagavā bersabda: “Di Ajaran ini, siswa mulia (ariyasavako) memiliki kebijaksanaan yang mampu melihat muncul dan tenggelamnya pañcakkhandhā; yang mampu mengantar ke lenyapnya dukkha secara benar dengan penembusan total. Demikianlah paññā, telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat dasariah.

Bagaimanakah paññā telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat lebih tinggi? Sang Bhagavā bersabda: “Di Ajaran ini, seorang bhikkhu mengetahui dengan benar sebagaimana adanya, bahwa ini adalah penderitaan; mengetahui dengan benar sebagaimana adanya, bahwa ini adalah asal mula penderitaan; mengetahui dengan benar sebagaimana adanya, bahwa ini adalah akhir dari penderitaan; mengetahui dengan benar sebagaimana adanya, bahwa ini adalah jalan menuju akhir penderitaan.” Demikianlah paññā telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā dengan uraian tingkat lebih tinggi.

Samādhi yang dilandasi dengan pengembangan sīla, akan memberi hasil besar (mahapphala), memberi keuntungan besar (mahānisaṁsā). Paññā, yang dilandasi dengan pengembangan samādhi, akan memberi hasil besar, memberi keuntungan besar. Pikiran (citta), yang dilandasi dengan pengembangan paññā, akan sempurna, terbebas dari segala noda batin, yakni:
Kāmāsava: noda batin berupa nafsu indria
Bhavāsava: noda batin berupa kesenangan kemenjadian
Avijjāsava : noda batin berupa ketidaktahuan
Pada saat menjelang padam sempurna (parinibbāna), Sang Bhagavā menyampaikan pesan terakhir: “Kini O, para bhikkhu, Ku beritahukan kepadamu bahwa, Segala sesuatu yang muncul dari perpaduan faktor pembentuk sewajarnya mengalami kehancuran (vayadhammā saṇkhārā). Sempurnakanlah tugas kalian dengan tanpa lengah (appamādena sampādetha).”

Selanjutnya Sang Bhagavā bersabda: “O, para bhikkhu, seperti halnya suatu ungkapan bahwa, ‘Dari berbagai tapak kaki semua makhluk hidup yang ada di atas bumi ini, semua tapak kaki itu dapat masuk ke dalam tapak kaki gajah. Tapak kaki gajah dikatakan tertinggi karena ukuran besarnya. Demikian pula, O, para bhikkhu, dari berbagai kebajikan (kusaladhamma), semua kebajikan itu bermula dari kewaspadaan, masuk ke dalam kewaspadaan. Perhatian dikatakan yang tertinggi di antara semua kebajikan yang lain.”

Karena itulah kita semua patut berlatih; berlatih dengan tekad, seperti demikian ini: “Kita akan menjadi orang yang berusaha keras dalam tekad menjalankan sīla yang luhur (adhisīla), melatih pikiran yang luhur (adhicitta), dan  mengembangkan kebijaksanaan yang luhur (adhipaññā). Kita akan berlatih dengan tanpa kelengahan.”

Selamat memperingati Māgha Pūjā 2559 BE

Dibaca : 2222 kali