x

MELAKUKAN KEBAJIKAN DENGAN PENUH PERHATIAN

Māvamaññetha puññassa, na maṁ taṁ āgamissati
Udabindu nipātena, udakumbho’pi pūrati
Dhīro pūrati puññassa, thokaṁ thokampi ācinaṁ
Janganlah meremehkan kebajikan walaupun kecil, dengan berkata: 
“Perbuatan bajik tidak akan membawa akibat,” bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kebajikan.
(Dhammapada pāpa-vagga; syair 122)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Di kehidupan ini tentu setiap orang ingin merawat diri sendiri maupun ingin menaruh perhatian terhadap kebaikan kita ataupun orang lain, kepada orang tua kita, sahabat, ataupun orang-orang yang ada di sekitar kita. Karena dengan kesungguhan menaruh perhatian terhadap perbuatan baik, tentu akan menjadi penunjang dalam melakukan perbuatan baik, sehingga kita bisa mengetahui pentingnya menaruh perhatian kepada hal-hal yang baik, termasuk berbicara dan bertindak-tanduk dengan cara yang tidak baik. Terkadang di dalam hal berbuat baik saja masih banyak orang yang menunda-nunda bahkan masih ada seseorang yang tidak mau berbuat baik. Ada sebagian orang mengatakan, buat apa berbuat baik? Oleh karena itu kita harus terlebih dahulu mengetahui manfaat perbuatan baik, merawat diri sendiri, menjalankan Dhamma. Di dalam Nidhikaṇḍa Sutta. Bait 10-13 Guru Agung Buddha Gotama sudah menjelaskan manfaat dari harta karun berupa kebajikan. Berbunyi; (harta ini mengabulkan segala keinginan para dewa dan manusia. Pahala-pahala apapun yang dikehendaki oleh para dewa dan manusia, segala pahala itu diperoleh melalui harta karun kebajikan. Paras yang indah, suara yang merdu, perawakan yang menawan, rupa yang elok, kekuasaan, dan pengikut, menjadi penguasa wilayah, kedudukan tinggi, kebahagiaan sebagai kaisar yang dicintai, dan menjadi raja para dewa di alam kedewaan. Kekayaan di alam manusia, kesenangan di alam dewa, dan pencapaian Nibbāna; segala pahala ini diperoleh melalui harta karun berupa kebajikan). Setelah kita mengetahui manfaat dari kebajikan karena hal tersebut sangat penting bagi diri kita maupun orang lain, Sehingga kita bisa selalu merenungkan dan menaruh perhatian di dalam kehidupan ini, melalui tiga pintu; pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani. Di dalam Aṅguttara Nikāya ada empat jenis menusia yang perhatian terhadap kebaikan diri sendiri maupun orang lain; 
Ada empat jenis manusia di dunia ini. Siapa sajakah mereka? 
1. Orang yang tidak menaruh perhatian baik terhadap kebaikan diri sendiri maupun orang lain; seperti sebatang tongkat yang berasal dari tumpukan kayu bakar, terbakar kedua ujungnya dan dilumuri dengan kotoran hewan di tengahnya, sehingga tidak dapat digunakan sebagai kayu bakar di desa ataupun sebagai kayu penyangga di hutan, sehingga tidak jauh berbeda dengan ia yang tidak menaruh kebaikan kepada diri sendiri maupun orang lain.
2. Orang yang menaruh perhatian terhadap kebaikan orang lain, tetapi tidak terhadap kebaikan sendiri; adalah lebih mulia dan lebih berharga dibandingkan dengan orang pertama karena ia masih menaruh perhatian terhadap kebaikan, walaupun terhadap kebaikan orang lain.
3. Orang yang menaruh perhatian terhadap kebaikan sendiri, tetapi tidak terhadap kebaikan orang lain; adalah masih lebih mulia dan lebih berharga dibandingkan dengan orang yang kedua karena ia menaruh perhatian terhadap kebaikannya sendiri.
4. Dan orang yang menaruh perhatian terhadap kebaikan sendiri dan juga kebaikan orang lain; dari keempat macam manusia ini yang menjadi pemimpin, yang terbaik, terunggul, tertinggi, dan paling sempurna adalah seseorang yang menaruh perhatian terhadap kebaikan diri sendiri dan juga kebaikan orang lain. Seperti dari sapi diperah susunya, dari susu dibuatlah kepala susu, dari kepala susu dibuatlah mentega, dari mentega dibuatlah mentega saringan, dan dari mentega saringan dibuatlah sari mentega, maka dikatakan sari mentegalah yang paling termurni, demikian pula, dari keempat macam manusia tersebut, yang menjadi pemimpin adalah yang keempat.

Begitupun halnya terhadap diri sendiri kita harus merawat dengan baik. Jika orang menganggap dirinya sendiri sebagai yang dikasihi dia seharusnya tidak mengikatkan diri pada kejahatan, karena kebahagiaan tidaklah mudah diperoleh oleh orang yang melakukan perbuatan salah. Baik tindakan jasa maupun kejahatan yang dilakukan makhluk hidup persis di sini: inilah yang benar-benar merupakan miliknya sendiri, inilah yang dibawanya ketika dia pergi; inilah yang terus mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah pergi. Oleh karena itu, seseorang seharusnya melakukan apa yang baik, sebagai simpanan untuk kehidupan di masa depan. Jasa-jasa kebajikan merupakan penopang bagi makhluk hidup ketika ia muncul di dunia lain.

Tidak hanya itu saja, di dalam Dhammapada guru Agung mengatakan; “rajin di antara yang malas, sadar di antara yang mengantuk, orang bijaksana maju terus ibarat seekor kuda pacuan yang berlari kencang meninggalkan kuda-kuda yang kelelahan”. Dan “pembuat kebajikan bersuka cita di dunia ini, ia bersuka cita pada alam berikutnya; ia bersuka cita di kedua alam ini, ia bersuka cita dan bergembira  melihat perbuatan-perbuatan baiknya”. Dari penjelasan di atas tentu sangat jelas, ketika seseorang mencintai dirinya sendiri maka ia harus merawat diri sendiri dengan baik, melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Serta menghindari perbuatan yang tidak baik, tentu kita harus memiliki persiapan timbunan kebajikan yang harus kita lakukan jika kita benar-benar mencintai diri sendiri. Seperti halnya raja Pasenadi yang ingin mengetahui makna; Siapakah yang memperlakukan diri sendiri sebagai yang dikasihi? Dan siapakah yang memperlakukan diri sendiri sebagai musuh? Begitupun halnya dengan diri kita hendaknya selalu merenungkan segala sesuatu yang akan kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan merenungkan keempat hal tersebut, sehingga kita akan mengetahui maknanya, karena apa yang kita lakukan itulah yang akan kita warisi. Semoga apa yang telah dijelaskan di atas dapat dilakukan dalam kehidupan ini.

Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia.

Sumber:
Aṅguttara Nikāya
Dhammapada  Penerbit: Bahussuta Society
Saṁyutta Nikāya: Wisma Sambodhi Klaten
Nidhikaṇḍa Sutta 

Dibaca : 5565 kali