x

MENAKLUKKAN KESOMBONGAN

Etādisena kāyena,Yo maññe uṇṇametave
Paraṁ vā avajāneyya, Kimaññatra adassanāti
Dengan bertubuh seperti ini (kotor), orang menganggap dirinya tinggi atau memandang rendah orang lain, sebabnya tiada lain adalah KEBODOHAN.
(Vijaya Sutta, Sutta Nipāta) 

    DOWNLOAD AUDIO

Sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat, kita menjalin hubungan, bergaul, bersahabat. Bisa terjadi, persahabatan kita dengan orang lain menjadi renggang, menjauh, atau bahkan putus berakhir. Salah satu penyebab yang dapat membuat hal itu terjadi adalah karena munculnya kesombongan/keangkuhan dalam diri kita atau dalam diri orang yang bergaul dengan kita.

SEBAB KESOMBONGAN
Kesombongan muncul dalam diri seseorang karena orang tersebut merasa “lebih” dibanding orang lain dalam hal:
1. Status kelahiran,                                      
2. Kekayaan,
3. Kedudukan/jabatan,
4. Kepintaran,
5. Keelokan (merasa cantik/ ganteng) dan lainnya.  

BRAHMANA MĀNATTHADDHA
Di Sāvatthī. Pada saat itu, seorang brahmana bernama Mānatthaddha, yang angkuh, sedang berdiam di Sāvatthī. Ia tidak menghormat kepada ibu atau ayahnya, juga tidak kepada gurunya atau saudara tuanya. Pada saat itu, Sang Bhagavā sedang mengajarkan Dhamma dikelilingi oleh banyak orang. Kemudian Brahmana Mānatthaddha berpikir: “Petapa Gotama ini sedang mengajarkan Dhamma dengan dikelilingi oleh banyak orang. Aku akan mendekati-Nya. Jika Petapa Gotama berbicara kepadaku, maka aku akan berbicara pada-Nya sebagai balasan. Tetapi jika Ia tidak berbicara kepadaku, maka aku juga tidak akan berbicara pada-Nya.”

Kemudian Brahmana Mānatthaddha mendekati Sang Bhagavā dan berdiri diam di satu sisi, tetapi Sang Bhagavā tidak berbicara kepadanya. Kemudian Brahmana Mānatthaddha berpikir, “Petapa Gotama ini tidak tahu apa-apa,” ingin berbalik, [178] tetapi Sang Bhagavā, setelah mengetahui pikiran si Brahmana itu dengan pikiran-Nya sendiri, berkata kepada Brahmana Mānatthaddha dalam syair:
“Mengembangkan keangkuhan ada-lah tidak pernah baik. Bagi seseorang yang bersemangat demi kesejahteraannya, Brahmana. Engkau seharusnya mengembangkan tujuan itu. Yang karenanya, engkau datang ke sini.”
Kemudian Brahmana Mānatthaddha berpikir, “Petapa Gotama mengetahui pikiran-Ku,” ia bertiarap di sana dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā. Ia mencium kaki Sang Bhagavā, menepuknya dengan tangannya, dan menyebutkan namanya: “Aku Mānatthaddha, Guru Gotama! Aku Mānatthaddha, Guru Gotama!” 

Kemudian kerumunan orang banyak itu terkesima dengan pemandangan itu dan orang-orang berkata: “Sungguh menakjubkan, Tuan! Sungguh mengagumkan, Tuan! Brahmana Mānatthaddha ini tidak menghormat ibu dan ayahnya, juga tidak kepada guru atau saudara tuanya, namun ia memperlihatkan penghormatan tertinggi kepada Petapa Gotama.” 

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Brahmana Mānatthaddha: “Cukup, Brahmana! Bangun dan duduklah di tempatmu, karena pikiranmu telah berkeyakinan terhadap-Ku.” Kemudian Brahmana Mānatthaddha duduk di tempat duduknya dan berkata kepada Sang Bhagavā dalam syair: 
“Kepada siapakah seseorang harus menghindari keangkuhan?
Kepada siapakah seseorang harus menunjukkan penghormatan?
Kepada siapakah seseorang harus menghormat?
Siapakah yang selayaknya dihormati dengan mendalam?”

[Sang Bhagavā:] 
“Pertama ibu dan ayah seseorang,
Kemudian saudara kandung yang lebih tua,
Kemudian gurunya sebagai yang ke empat:
Kepada orang-orang ini, ia seharusnya menghindari keangkuhan;
Kepada orang-orang ini, ia seharusnya menghormat; 
Orang-orang ini seharusnya dihormati dengan baik; 
Orang-orang ini baik sekali dihormati dengan mendalam.
“Setelah menaklukkan keangkuhan, rendah hati, 
Seseorang harus memberi hormat kepada para Arahanta, 
Mereka yang berhati dingin, tugas-tugasnya telah selesai, 
Yang tanpa-noda, tiada bandingnya.” 

Kemudian setelah hal ini diucapkan, Brahmana Mānatthaddha berkata kepada Sang Bhagavā: “Menakjubkan, Guru Gotama! Menakjubkan, Guru Gotama! ... Semoga Guru Gotama mengingatku sebagai seorang umat awam yang sejak hari ini telah menyatakan berlindung seumur hidup.” [179]

MANA 9 (pembandingan Diri)

Dalam Kitab Vibhaṅga dijelaskan akan sifat manusia yang suka membandingkan diri:

 

Keadaan

Perilaku

Lebih Tinggi

Lebih Tinggi

Lebih Tinggi

Biasa

Biasa

Biasa

Lebih Rendah

Lebih Rendah

Lebih Rendah

 

Lebih Tinggi

Biasa

Merendah

Lebih Tinggi

Biasa

Merendah

Lebih Tinggi

Biasa

Merendah

 

KESIMPULAN
Dalam Dhamma dijelaskan akan hukum sebab akibat (Kāmma). Keadaan yang baik-tidak baik adalah sebagai akibat/buah hasil dari kebajikan yang masak. Menyadari akan hal ini hendaknya bila memperoleh yang tidak baik tidak perlu putus asa, berbuat baik yang baru akan mengubah keadaan. Ketika memperoleh yang baik tidak perlu disombongkan, melainkan harus digunakan untuk menanam kebajikan yang baru. Ingat !!! Dalam Dhamma, sebagaimana tercantum dalam Vijaya Sutta orang yang sombong adalah orang yang BODOH.

Pustaka:
- Dhammacitta Press, Saṁyutta Nikāya Buku 1 Sagatha Vagga
- Saṅgha Theravāda Indonesia, Pustaka Dhammapada

Dibaca : 2459 kali