x

KEKUATAN KESABARAN

Akkosaṁ vadhabandhañ ca, aduṭṭho yo  titikkhati
khantībalaṁ balāṇikaṁ, tamahaṁ brūmi brāhmaṇaṁ

Ia yang sabar menahan hinaan, penganiayaan dan hukuman,
Ia yang memiliki kekuatan senjata kesabaran, patut Kusebut seorang Brahmana. 
(Dhammapada 399)

    DOWNLOAD AUDIO

Saat ini kita masih hidup, hendaknya kita berusaha belajar Dhamma dengan sebaik-baiknya, agar mengerti apa itu arti hidup dan kehidupan. Mengapa? Karena tanpa pengertian Dhamma batin kita cenderung rapuh atau tidak memiliki kekuatan menghadapi proses perubahan di dalam kehidupan  ini, dan yang pasti secara silih berganti kita akan mengalami berbagai macam masalah dan persoalan kehidupan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Pada saat mengalami hal-hal yang menyenangkan tidaklah menjadi persoalan, akan berbeda bila mengalami kondisi yang tidak menyenangkan. Di zaman modern, banyak orang cenderung kurang memiliki pengendalian diri terhadap hal-hal kecil. Mereka mudah tersinggung dan sukar memberi maaf atau menahan diri. Mereka kurang memiliki tenggang rasa. Bisa kita bayangkan bagaimana kondisi, sifat hidup mereka yang tinggal di kota metropolitan seperti Jakarta. Dengan kehidupan yang kompleks, persaingan ketat, penuh kesibukan, kemacetan lalu lintas, belum lagi persoalan sosial, politik yang selalu menjadi perbincangan, perdebatan, pro kontra, berita hangat,  dan lain sebagainya. Keadaan ini merupakan kondisi ekstern yang setiap saat berpotensi menjadi pemicu terjadinya berbagai kejadian yang tidak sesuai dengan keinginan. Oleh karena itu sebagai umat Buddha kita harus memiliki senjata kesabaran agar mampu dan kuat serta tabah dalam menghadapi kondisi kehidupan yang tidak menentu. Sikap mental inilah membuat kita bisa bertahan untuk menerima kenyataan hidup dengan pikiran dan pengertian yang benar. Sikap sabar akan membantu kita untuk lebih bisa menerima kondisi sulit yang dialami. Tanpa sikap mental ini, kita lebih banyak memberontak terhadap kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Hal ini menimbulkan penderitaan baru yang akan menyebabkan kita mengalami kesedihan extra yang tidak semestinya dialami.

Di dalam ajaran Agama Buddha, Sang Buddha menyatakan kepada para bhikkhu “ada praktik yang tidak sabar, dan praktik yang sabar sebagai berikut:
 (1) ” Dan apakah, para bhikkhu,  praktik yang tidak sabar? Di sini seseorang menghina orang yang menghinanya, memarahi orang yang marah padanya; berdebat dengan orang yang mendebatnya; dan seseorang tidak sabar menahan dingin dan panas; lapar dan haus; kontak dengan lalat, nyamuk, angin, panas matahari, dan ular-ular; ucapan-ucapan yang kasar dan menghina; ia tidak mampu menahan perasaan jasmani yang muncul yang menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, mengerikan, tidak menyenangkan, melemahkan vitalitas seseorang. Ini disebut praktik tidak sabar.
(2) ” Dan apakah praktik yang sabar? Di sini, seseorang tidak menghina orang yang menghinanya; tidak memarahi orang yang marah padanya; tidak berdebat dengan orang yang mendebatnya; dan seseorang dengan sabar menahan dingin dan panas; lapar dan haus; kontak dengan lalat, nyamuk, angin, panas matahari, dan ular-ular; ucapan-ucapan yang kasar dan menghina; ia mampu menahan perasaan jasmani yang muncul menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, mengerikan, tidak menyenangkan, melemahkan vitalitas seseorang. Ini disebut praktik sabar. Praktik kesabaran merupakan sarana kehidupan spiritual yang sangat bermanfaat. Ada lima manfaat yang bisa diperoleh oleh orang yang praktik kesabaran yaitu ia disenangi orang banyak; tidak menimbun permusuhan;  hanya memiliki sedikit kesalahan; meninggal dengan tenang; terlahir di alam bahagia.

Bila seseorang memiliki senjata kesabaran akan menjadi orang yang kuat, tetap tenang menghadapi masalah tekanan batin dan jasmani, tidak mudah putus asa dalam berusaha, tidak gampang marah sehingga banyak yang menyukai,  hidupnya lebih tenang dan tentram.               
                                                                                                                                                                                      
Sumber: 
- Dhammapada ayat 399; 
- Aṅguttara Nikāya; 
- Mahā Maṅgala Sutta terbitan Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya; 
- Artikel Buddhis oleh Mendiang Bhikkhu Girirakkhito  Mahāthera.

Dibaca : 2561 kali