x

HARMONISASI DALAM HIDUP

Upanīyati jīvitamappamāyu, jarūpanītassa na santi tāṇā.
Etaṁ bhayaṁ maraṇe pekkhamāno, puññāni kayirātha sukhāvahānī’ti.
Kehidupan tersapu, umur kehidupan adalah singkat;
tidak ada naungan bagi seseorang yang telah mencapai usia tua.
Melihat dengan jelas, bahaya kematian ini,
seseorang harus melakukan perbuatan baik yang membawa pada kebahagiaan.

(Saṁyutta Nikāya: Devatāsaṁyutta - Naḷavago, Upanīyasuttaṁ)

    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan belakangan ini sudah sangat sekali jauh dari kata ‘Harmoni’. Kejahatan dan kekerasan terjadi di mana-mana, tidak ada seseorang pun yang terhindar atau tidak menyaksikan hal tersebut. Hidup sudah jauh dari yang namanya damai, tenang, dan tentram. Upaya-upaya yang dilakukan oleh manusia dalam menciptakan kedamaian sudah banyak dilakukan. Berbagai macam gerakan sudah banyak disuarakan, namun tak ada hasil nyata yang nampak cukup jelas. Tentu faktor pembentuk hal tersebut tidak lepas dari individu kelompoknya. Moralitas atau etika yang menjadikan perilaku menyimpang banyak dilakukan. Karakter seseorang yang terbentuk secara beruntun yang harus diubah. 

Pola hidup, kebiasaan berperilaku, dan ajaran budi pekerti atau moralitas yang sedini mungkin harus mulai diterapkan. Buddhisme sebagai komunitas atau agama yang sudah berlangsung selama kurang lebih 2600 tahun, telah banyak memberikan satu ajaran tentang moralitas, tentang bagaimana membentuk pribadi manusia menjadi manusia yang memiliki kehidupan damai, tenang, dan tentram. Terutama mencapai kebahagiaan sejati. Dalam salah satu kelompok ajarannya Guru Agung Buddha Gotama mengatakan bahwa ada enam hal yang dapat menciptakan kehidupan yang harmonis antara satu dengan yang lainnya, sehingga meninggalkan kenangan baik 
di setiap perilaku orang tersebut. Enam hal tersebut tertuang dalam Sārāṇīyadhamma Sutta (Aṅguttara Nikāya, Cakkanipāta – 11), yaitu:
1.Mettā Kāyakamma
Memiliki perilaku jasmani yang disertai cinta kasih.
2.Mettā Vacīkamma
Memiliki ucapan yang disertai cinta kasih.
3.Mettā Manokamma
Memiliki pikiran yang disertai cinta kasih.
4.Appaṭivibhattabhogī
Senang berbagi tanpa rasa enggan, apa yang telah didapatkan.
5.Sīlasāmaññagato
Memiliki perilaku yang bermoral.
6.Diṭṭhisāmaññagato
Memiliki pandangan yang sama.

Kesimpulan:
Mettā sebagai dasar moralitas Buddhisme adalah hal terpenting bagi laku baik seseorang. Ketika cinta kasih tidak dimiliki oleh seseorang, maka perilaku yang akan tercipta akan jauh dari perilaku yang membuat kehidupan harmonis. Lantas dasar cinta kasih yang seperti apa yang harusnya seseorang kembangkan dalam pandangan Buddhis? Yaitu perilaku cinta kasih yang selalu mempertimbangkan Hitāya dan Sukhāya bagi makhluk lain, mempertimbangkan keuntungan dan kebahagiaan dari apa yang ia lakukan pada orang lain. Kemudian senantiasa mengetahui dengan jelas, bahwa sejatinya seseorang telah memiliki penderitaan, dan akan mengalaminya lagi, oleh karenanya kita jangan sampai menambah penderitaan mereka dengan perilaku yang jauh dari cinta kasih. Itulah bagaimana kita membangun enam hal yang dapat menciptakan kehidupan harmonis melalui dasar cinta kasih yang benar, memiliki sikap mau berbagi, melatih perilaku/etika/moralitas Buddhis dengan sungguh-sungguh dan tak lupa memiliki pandangan benar akan kenyataan hidup ini. Mari tanamkan mental yang baik, bangunlah kesungguhan di dalam setiap perilaku kita dengan satu kalimat Bahujanahitāya Bahujanasukhāya mari hidup untuk keuntungan dan kebahagiaan semua makhluk.
Referensi:
-Bodhi, Bhikkhu. 2012. The Numerical Discourses of the Buddha (A Translation of Aṅguttara Nikāya). Wisdom Publication; Boston
-Bodhi, Bhikkhu. 2000. The Connected  Discourses of the Buddha (A Translation of Saṁyutta Nikāya). Wisdom Publication; Boston

Dibaca : 2093 kali