x

Perbuatan Baik Memberi Manfaat Bagi Kemajuan Batin

Etamatthavasaṁ ñatvā, paṇḍito sīlasaṁvuto
nibbānagamanaṁ maggaṁ, khippameva visodhaye‘ti. 
Setelah mengetahui keadaan ini maka orang yang berbudi dan bijaksana
tak akan menunda waktu dalam menempuh jalan ke Nibbāna.
(Dhammapada Magga Vagga  XX, 289)

    DOWNLOAD AUDIO

Sebagai manusia kita memiliki porsi kehidupan yang berbeda-beda. Namun, di kehidupan sekarang ini seharusnya ada yang memberikan arah dan tujuan hidup kita. Penting sekali bagi seorang umat Buddhis mempraktikkan Dhamma dengan penuh kesadaran dalam hidup ini.
Di dalam Mahāvagga Pathamabhāga ( M. Pa. 4/30 ) dijelaskan, ada lima pokok praktik yang berguna bagi kemajuan batin. Guru Agung Buddha sering memakai metode ini dalam mengajarkan Dhamma kepada para umat perumah tangga yang memiliki kemampuan dalam mencapai pencerahan. Tetapi sebelum men-capainya, mereka masih memerlukan bimbingan secara terus-menerus. Hingga suatu saat nanti, mereka akan mampu untuk mengerti ajaran Dhamma yang lebih tinggi yang menuju pada Empat Kebenaran Mulia.
Praktik-praktik yang berguna bagi kemajuan batin (Anupubbīkathā).
1)Dermawan atau Kemurahan hati (dāna kathā) adalah bentuk kasar dari pengorbanan untuk mengikis kekikiran di dalam batin yang mementingkan diri sendiri. Memberikan bagian miliknya untuk kepentingan orang lain atau meringankan penderitaan orang lain. Memberikan bantuan materi  berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan obat-obatan. Atau bisa menjadi relawan/tenaga kerja saat terjadi bencana alam seperti gotong royong bersama, memberikan anggota badan berupa donor darah, memberikan kehidupan pada makhluk hidup lainnya berupa memelihara atau melepaskan makhluk hidup sesuai dengan tempat tinggalnya masing-masing, dan memberikan pengetahuan berupa nasihat-nasihat yang baik kepada mereka yang membutuhkannya. Inilah awal perbuatan baik yang sering kita lakukan dalam hidup ini.
2)Bermoral atau berperilaku baik (sīla kathā) adalah kemampuan menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang menimbulkan penderitaan atau kerugian makhluk lain, melalui pikiran, ucapan dan tindakan, atau ada hubungannya dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Hal ini akan menumbuhkan rasa hormat terhadap diri kita sendiri maupun kepada orang lain. Hormat terhadap hak-hak azasi manusia serta menciptakan suatu masyarakat yang adil dan makmur di manapun kita berada.
3)Kebahagiaan di alam-alam dewa atau alam surga (sagga kathā) adalah alam kesenangan-kesenangan indra yang timbul di sana sebagai hasil dari kemurahan hati kita dalam mempraktikkan sila,  terlahir secara spontan dan penuh bahagia di alam dewa, dan masih memiliki sifat keindraan yang pikirannya masih dikuasai oleh kesenangan indra. Hal ini akan menggembirakan para pendengarnya dalam mempraktikkan Dhamma. Tetapi kenikmatan ini adalah tidak kekal adanya, sama halnya dengan kita. Semua hal yang menarik dari diri ini pasti akan mengalami perubahan atau tidak kekal adanya.
4)Bahaya-bahaya dalam kenikmatan kesenangan-kesenangan indra (kāmādãvana kathā) adalah tentang bahaya-bahaya dari nafsu keinginan yang selalu mencari kenikmatan indra. Inilah suatu permulaan dalam sikap batin yang tidak baik atau negatif. Sebuah titik balik yang menarik perhatian bagi para pendengarnya. Setelah mereka demikian jauh tertarik di dalam kenikmatan indra dan dikecewakan oleh keterangan sebaliknya, yaitu bahaya-bahaya dari nafsu keinginan. Bebas dari nafsu keinginan merupakan jalan menuju terlepasnya kemelekatan batin.
5)Berkah dalam meninggalkan kesenangan indra atau keduniawian (nekkhammānisaṁsā kathā) adalah langkah yang baik dalam praktik yang berguna untuk perkembangan batin, dan meninggalkan segala bentuk kesenangan indra. Suatu akibat yang wajar dari terbukanya belenggu batin dalam mencari sebuah nilai yang lebih tinggi dari ketidakpuasan hidup ini.

Cara inilah yang membawa seorang pendengar Dhamma selangkah demi selangkah maju menuju puncak pencerahan. Dengan demikian, seorang siswa pertama sekali harus menghilangkan semua kekikiran di dalam batin dan kemudian melatih dirinya dalam praktik pengendalian diri. Sejak awalnya berharap memperoleh kesenangan indra atau terlahir di alam bahagia (dewa), akan menjadi kecewa melihat adanya hukum perubahan. Dan sebaliknya akan selalu berusaha untuk meninggalkan kesenangan ini.

Dengan sikap batin ini, seorang pencari kebenaran tidak akan mengalami kesukaran dalam mengerti Dhamma yang lebih luhur, karena  batinnya telah siap. Seperti selembar kain putih bersih telah bebas dari semua kotoran dan nodanya, siap menjalani proses pencerapan secara sempurna, warna celup apapun yang akan diberikan padanya. Demikianlah orang bijaksana dapat mengendalikan nafsu indranya.

Isilah hidup yang singkat ini dengan kebajikan, jangan kita sia-siakan. Biasakan diri terhadap hal-hal yang baik dan bermanfaat serta berlatihlah dengan kesungguhan hati. Hidup akan terus berjalan, jangan sia-siakan kesempatan yang telah diberikan dalam hidup ini. Cerahkan batin melalui sīla, samādhi dan paññā. Hiduplah dengan penuh kesadaran. Lahir sebagai manusia di dunia ini sungguh sulit. Berjuanglah dengan sungguh-sungguh. Jika waktunya telah tiba, saat kehidupan ini akan berakhir, sambutlah dia tanpa penyesalan dan ketakutan.

Sumber:
-Dhammapada Penerbit Bahussuta Society
-Dhamma Vibhaga Penerbit Vidyasena

Dibaca : 164 kali