x

LIMA PERENUNGAN YANG HARUS SERING DIPRAKTIKKAN

Appamādo ca dhammesu, etaṁmaṅgalamuttaman’ti.
Tidak lengah tekun melaksanakan Dhamma,
itulah berkah utama.

    DOWNLOAD AUDIO

Pada umumnya, setiap orang mempunyai satu kelemahan yang penting untuk diketahui, apakah itu? yaitu kelengahan, lupa diri yang akhirnya membuat bermacam-macam kejahatan sampai tidak ingat  berbuat baik. Biasanya setelah kesempatan baik tidak dipergunakan, kemudian setelah tua, sakit-sakitan dan mau meninggal barulah timbul penyesalan sudah terlambat. Oleh karena itu, marilah kita menggunakan kesempatan saat ini untuk berusaha memahami Dhamma dan mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha.
Menurut Sang Buddha, salah satu cara untuk mengatasi sifat lengah ataupun lupa diri itu adalah dengan sering-sering merenungkan LIMA HAL BESAR berikut ini, yaitu;
1.Perenungan akan usia tua;
2.Perenungan akan mendapat penyakit;
3.Perenungan akan meninggal dunia;
4.Perenungan akan perpisahan;
5.Perenungan akan KAMMA yang diperoleh.
Perenungan akan hal-hal di atas menjadikan kita sebagai orang yang TIDAK CEPAT PUTUS ASA, malah mempunyai harapan.

CARA PERENUNGAN
Setiap pagi baca Paritta: ABHIṆHAPACCAVEKKHAṆA PĀṬHA: Aku wajar mengalami usia tua. Aku takkan mampu menghindari usia tua. Aku wajar menyandang penyakit. Aku takkan mampu menghindari penyakit. Aku wajar mengalami kematian. Aku takkan mampu menghindari kematian. Segala milikku yang kucintai dan kusenangi wajar berubah, wajar terpisah dariku. Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri, terwarisi oleh perbuatanku sendiri, lahir dari perbuatanku sendiri, berkerabat dengan perbuatanku sendiri. Perbuatan apapun yang akan kulakukan, baik ataupun buruk; perbuatan itulah yang akan kuwarisi. Demikian hendaknya kerap kali kita renungkan.  

MANFAAT DARI PERENUNGAN
Apabila sering-sering merenungkan bahwa adalah wajar mengalami usia tua, yang tak terhindarkan akan membuat kita sadar dan merasa adanya keadaan mendesak (sense of urgency) untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat/bajik sebanyak mungkin, selagi masih bisa dan tidak menyia-nyiakan waktu/kesempatan yang ada didalam hidup ini.
Apabila sering-sering merenungkan bahwa adalah wajar memperoleh penyakit yang tak terhindarkan, akan menyadarkan kita untuk selalu memperhatikan kesehatan dan merawat diri. Ketika masih sehat, rajin mengumpulkan bekal untuk dipergunakan kalau mengalami sakit dan tidak bisa bekerja. Bagi yang kini sedang mengalami sakit, perenungan ini akan memberi pengertian bahwa ini adalah salah satu kenyataan hidup yang sedang dirasakan sehingga tidak timbul prasangka buruk.
Apabila sering-sering merenungkan bahwa adalah wajar mengalami kematian, akan mendorong kita untuk berbuat KEBAJIKAN, selain itu juga membuat diri kita selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu, agar tetap terjaga/tidak lengah. Apabila suatu waktu kematian datang, maka kita dapat menerima kenyataan ini, karena menyadari bahwa semua yang terbentuk adalah ANICCA (ketidakkekalan).
Apabila sering-sering merenungkan tentang bahwa segala milikku yang kucintai dan kusenangi wajar berubah, wajar terpisah dariku, akan membuat kita selalu memperhatikan, menjaga dan merawat sesuatu yang kita cintai dan senangi dengan sebaik-baiknya sehingga bila terjadi sesuatu di luar dugaan maka tak akan membuat kita bersedih. Sama halnya dengan kematian, begitu pula dengan hal PERPISAHAN, pasti akan kita alami.
Apabila sering-sering merenungkan tentang kamma yang diperoleh, maka kita akan menyadari bahwa kamma yang dilakukan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan suatu saat akan memberikan hasil (kamma vipāka) secara otomatis sesuai hukum KAMMA, yang merupakan salah satu hukum KENYATAAN yang dapat diibaratkan dengan AKSI dan REAKSI, selain itu manfaat dari perenungan KAMMA ini dapat menjadikan kita bertindak bijaksana serta mendorong kita untuk sering  melakukan perbuatan baik.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa manfaat dari perenungan ini adalah untuk mengikis kegelapan batin. 
Sang Buddha mengajarkan kepada kita untuk sering-sering  merenungkan usia tua, sakit, kematian, perpisahan, dan kamma. Bukan berarti Beliau mengajarkan kita untuk menjadi PESIMIS/tidak mempunyai harapan kemudian bermalas-malasan, dan Beliau juga tidak mengajarkan kita untuk menjadi orang yang OPTIMIS. Dhamma ajarannya bersifat REALISTIS (SACCANIYAMA) yaitu ajaran yang berdasarkan KENYATAAN sehingga menjadi tuntunan bagi kita untuk selalu berbuat baik dan menghindari  kejahatan.

Sumber:
-Aṅguttara Nikāya 5.57 Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭāra Sutta
-Maṅgala sutta 

Dibaca : 888 kali