x

BAHAGIA DI BALIK DERITA

“Susukhaṁ vata jīvāma, yesaṁ no natthi kiñcanaṁ,
pītibhakkhā bhavissāma, devā ābhassarā yathā.”
Sungguh bahagia hidup ini apabila sudah tidak terikat lagi oleh rasa ingin memiliki, kita akan bergembira bagaikan dewa-dewa di alam cemerlang.

(Dhammapada, Sukha Vagga: 200)

    DOWNLOAD AUDIO

Setiap manusia tidak menginginkan penderitaan. Tidak ada keinginan yang lain selain kebahagiaan. Tetapi sesungguhnya, kebahagiaan adalah penderitaan yang halus, tidak bisa dirasakan tanpa penyelidikan mendalam. Sederhananya, penderitaan dan kebahagiaan seperti seekor ular. Kepalanya adalah penderitaan, sedangkan ekornya adalah kebahagiaan, di mulutnya terdapat racun. Jika kepala ular didekati dan disentuh, ular akan dengan cepat menggigit dan mengeluarkan bisa yang sangat beracun. Jika ekornya digenggam erat tanpa melepaskannya, ular tersebut akan berbalik dan menggigit. Hal ini dikarenakan baik kepala ular maupun ekornya terdapat pada satu tubuh ular yang sama.

Keinginan untuk mendapatkan segala sesuatu yang lebih baik secara terus-menerus adalah kehidupan alami manusia itu sendiri. Pada umumnya, kenikmatan akan kesenangan indrawi merupakan suatu kebahagiaan yang tertinggi bagi kebanyakan orang, tetapi perasaan itu bersifat semu dan sementara. Alagaddūpama Sutta menerangkan bahwa kenikmatan indrawi hanya memberikan sedikit kepuasan. Berbagai bahaya menunggu jatuhnya manusia di jurang derita. Pada saat manusia keluar dari kegelapan ilusi, kebijaksanaan akan bersinar seperti bulan purnama yang keluar dengan cemerlang dari balik awan hitam. 

Kebahagiaan dan penderitaan ibarat dua sisi mata uang. Banyak orang memiliki bangunan yang tinggi, namun kesadaran pendek; jalan yang luas, namun sudut pandangan sempit; rumah yang besar, namun keluarga kecil; tempat yang nyaman, namun waktu sedikit; pendapatan tinggi, namun moral yang rendah; gelar yang banyak, namun pengertiannya salah; pengetahuan yang dalam, namun pertimbangannya dangkal; obat yang bagus, namun kesehatan yang buruk; rencana spektakuler, namun aksi yang minim. Manusia banyak menghabiskan, tetapi sedikit memiliki; banyak membeli, tetapi sedikit menikmati; suka menggandakan miliknya, tetapi mengurangi nilai dirinya; berbicara terlalu banyak, membenci terlalu sering, namun jarang mencintai.

Bahagia dan derita berasal dari sumber yang sama, yaitu nafsu keinginan dan kekeliruan. Itulah mengapa ada waktunya ketika seseorang bahagia tetapi tetap merasa gelisah dan tidak nyaman, bahkan ketika memperoleh hal yang disukai sekalipun. Ketika memilikinya, batin merasa senang, tetapi sebenarnya pikiran tidak benar-benar damai karena ada kekhawatiran bahwa tidak lama lagi akan kehilangan. Rasa takut muncul saat menyadari sumber kesenangan ini suatu saat akan menghilang. Ketakutan ini yang menyebabkan seseorang jauh dari kedamaian. Pada waktu kehilangan semua kesenangan duniawi, batin akan dikuasai oleh penderitaan. Dengan demikian, apabila ada sesuatu yang membahagiakan, penderitaan dapat menyelinap di balik kebahagiaan tersebut. Inilah tipu muslihat yang membutakan batin manusia. 

Kebahagiaan adalah pilihan dari dalam diri sendiri. Pada umumnya, seseorang bahagia karena mendapatkan, entah materi, status, pengetahuan, maupun pencapaian spiritual. Namun, kebahagiaan ini sering kali berubah-ubah. Lebih dari itu, fenomena ini sesungguhnya bukanlah ”kebahagiaan” melainkan “kepuasan” yang didominasi oleh penderitaan. Pada tingkatan yang lebih tinggi, kebahagiaan dapat dirasakan pada saat memberikan kebahagiaan kepada makhluk lain. Berbagi kebahagiaan berarti membantu yang kesulitan, meringankan beban yang men-derita, mengharapkan semua makhluk berbahagia, memberi maaf, atau sekadar menyunggingkan senyuman. Apabila pemberian telah dilakukan, tidak ada perasaan kehilangan melainkan timbul sukacita dalam diri orang yang mengerti nilai kebajikan. 

Lenyapnya penderitaan sinonim dengan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan inilah yang tertinggi dan paling mulia. Untuk meraih kebahagiaan ini diperlukan fokus yang terpusat pada kekinian, bukan di masa lalu ataupun masa depan. Dengan tidak menyesal pada pengalaman yang lampau dan tidak terbuai dengan impian pada masa mendatang, seseorang hanya melihat kenyataan yang ada sekarang. Kebahagiaan sejati dapat terkondisi dalam situasi apapun, tergantung pikiran yang ada pada saat itu. Apabila seseorang mampu merasa cukup atas apa yang dimilikinya saat ini, kedamaian batin akan menghampirinya. 

Kebahagiaan sejati terdapat di dalam diri sendiri, tidak ditentukan oleh kekayaan, kesejahteraan, kemakmuran, kekuatan, kedudukan, atau kemasyhuran. Bilamana faktor-faktor tersebut disalahgunakan, diperoleh secara paksa, diselewengkan, atau bahkan dicengkeram oleh kelekatan, mereka akan menjadi sumber penderitaan bagi pemiliknya. Umat Buddha menerima penderitaan dengan apa adanya dan mencari sebab untuk melenyapkannya. Penderitaan tetap ada selama masih ada nafsu keinginan. Ketiadaan nafsu keinginan itulah gerbang awal menuju kebahagiaan sejati, Nibbāna.

Dibaca : 710 kali