x

TIGA JENIS KEBIJAKSANAAN

Ovadeyyānusāseyya asabbhā ca nivāraye, sataṁ hi so piyo hoti asataṁ hoti appiyo
Biarlah ia memberi nasihat, petunjuk dan melarang apa yang tidak baik.
Orang bijaksana akan dicintai oleh orang yang baik dan dijauhi oleh orang yang jahat.
(Dhammapada 77)

    DOWNLOAD AUDIO

Pandangan Benar
Dalam salah satu Sutta, Sang Buddha menyatakan belajar Dhamma menumbuhkan Pandangan Benar (Kebijaksanaan). Apakah Pandangan Benar? Dalam Sammādiṭṭhi Sutta dari Kitab Suci Majjhima Nikāya, Bhante Sariputta menjelaskan bahwa Pandangan Benar adalah:
1.Memahami hal yang bajik dan akarnya,
2.Memahami hal yang tak bajik dan akarnya. 

Apakah hal yang tak bajik? Ada sepuluh hal yang tak bajik: 1. Membunuh, 2. Mengambil apa yang tidak diberikan, 3. Perilaku seksual yang salah, 4. Berbohong, 5. Berkata kasar, 6. Menghasut, 7. Bergosip, 8. Memiliki niat jahat, 9. Keserakahan, 10. Pandangan Salah. Dan akar dari yang tak bajik adalah Lobha (Keserakahan), Dosa (Kebencian), Moha (Kebodohan Batin). Hal yang bajik adalah: 1. Tidak membunuh, 2. Tidak mengambil apa yang tidak diberikan, 3. Tidak berperilaku seksual yang salah, 4. Tidak berbohong, 5. Tidak berkata kasar, 6. Tidak menghasut, 7. Tidak bergosip, 8. Memiliki niat baik, 9. Tidak serakah, 10. Pandangan benar. Dan akar dari yang  bajik adalah Alobha (Tanpa keserakahan), Adosa (Tanpa Kebencian), Amoha (Tanpa Kebodohan Batin).

Tiga Cara Mendapat Kebijaksanaan
Dalam Kitab Suci Dīgha Nikāya, disebutkan bahwa kebijaksanaan dapat diperoleh melalui tiga cara, yaitu:
1.Sutamayapaññā; kebijaksanaan timbul melalui mendengar, membaca.
2.Cintāmayapaññā; kebijaksanaan timbul melalui berpikir (logika),
3.Bhāvanāmayapaññā; kebijaksanaan muncul melalui meditasi menyadari kekinian yang terjadi.

Ciri Orang Bijaksana 
Dalam Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, Dukanipātapāḷi, Sang Buddha menjelaskan bahwa orang bijaksana memiliki sepuluh ciri, yaitu:
1.Orang bijaksana mengemban tanggung jawab yang menjadi tanggung jawabnya,
2.Tidak mengemban tanggung jawab atas apa yang bukan tanggung jawabnya,
3.Melihat apa yang boleh sebagai boleh,
4.Melihat apa yang tidak boleh sebagai tidak boleh,
5.Melihat pelanggaran sebagai pelanggaran,
6.Melihat bukan pelanggaran sebagai bukan pelanggaran,
7.Melihat Dhamma sebagai Dhamma,
8.Melihat apa yang bukan Dhamma sebagai Bukan Dhamma,
9.Melihat Vinaya sebagai Vinaya,
10.Melihat apa yang bukan Vinaya sebagai Bukan Vinaya.

Tiga Jenis Kebijaksanaan
Dalam Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, Tikanipātapāḷi, Sang Buddha menjelaskan bahwa ada tiga jenis kebijaksanaan;
1.Orang dengan kebijaksanaan terbalik. Seseorang sering pergi ke vihara mendengarkan Dhamma dari para bhikkhu. Para bhikkhu mengajarkan kepadanya Dhamma yang baik di awal, tengah,  dan akhir, dengan makna dan kata yang benar. Ketika ia duduk di tempat duduknya ia tidak menyimak (tidak mengerti teori) setelah bangkit juga tidak menyimak (tidak mengerti praktik) bagaikan sebuah kendi yang terbalik, maka air yang telah dituangkan akan tumpah.
2.Orang dengan kebijaksanaan bagaikan pangkuan. Seseorang sering pergi ke vihara mendengarkan Dhamma dari para bhikkhu. Para bhikkhu mengajarkan kepadanya Dhamma yang baik di awal, tengah, dan akhir, dengan makna dan kata yang benar. Ketika ia duduk di tempat duduknya ia  menyimak (mengerti teori) setelah bangkit tidak menyimak (tidak praktik) bagaikan seseorang yang saat duduk di pangkuannya diletakkan biji wijen, beras, kue, namun ketika bangkit dia tidak berperhatian, maka itu akan membuat semua yang ada di pangkuannya tumpah.
3.Orang dengan kebijaksanaan luas. Seseorang sering pergi ke vihara mendengarkan Dhamma dari para bhikkhu. Para bhikkhu mengajarkan kepadanya Dhamma yang baik di awal, tengah, dan akhir, dengan makna dan kata yang benar. Ketika ia duduk di tempat duduknya ia  menyimak (mengerti teori) setelah bangkit juga  menyimak (juga praktik) bagaikan sebuah kendi dalam posisi tegak, maka air yang dituangkan akan mengisi, tidak tumpah.

“Orang dengan kehendak terbaik, pikirannya tidak terbagi, mengingat apa yang telah ia pelajari. Mempraktikkan sesuai Dhamma, ia akan dapat mengakhiri penderitaan.”

Ajaran yang Baik
Dalam Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, Tikanipāta dikisahkan Saat Bhante Ananda berdiam di Vihara Ghosita Arama Kota Kosambi, seorang perumah tangga pengikut petapa telanjang mendatangi Beliau dan bertanya: 1. Dhamma (Ajaran) siapakah yang dibabarkan dengan baik? 2. Siapakah di dunia ini yang mempraktikkan jalan yang baik? 3. Siapakah di dunia ini yang merupakan yang sempurna?
Bhante Ananda memberikan jawaban kepada perumah tangga itu: “Baiklah perumah tangga, aku akan mengajukan pertanyaan kepadamu sehubungan dengan hal ini. Engkau boleh menjawab sesuai apa yang menurutmu benar.
1.”Bagaimana menurutmu, perumah tangga? Apakah Dhamma dari mereka yang mengajarkan untuk meninggalkan nafsu keserakahan, kebencian, dan kebodohan adalah dibabarkan dengan baik atau tidak, atau bagaimana menurutmu?
“Dhamma dari mereka yang mengajarkan untuk meninggalkan nafsu keserakahan, kebencian, dan kebodohan adalah dibabarkan dengan baik. Demikianlah menurutku.”
2.”Bagaimana menurutmu, perumah tangga? Apakah mereka yang berlatih  untuk meninggalkan nafsu keserakahan, kebencian dan kebodohan mempraktikkan jalan yang baik atau tidak, atau bagaimana menurutmu?
“Mereka yang berlatih untuk meninggalkan nafsu keserakahan, kebencian dan kebodohan mempraktikkan jalan yang baik. Demikianlah menurutku.”
3.”Bagaimana menurutmu, perumah tangga? Apakah mereka yang telah meninggalkan nafsu keserakahan, kebencian dan kebodohan memotongnya di akarnya, membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan adalah yang sempurna di dunia ini atau tidak, atau bagaimana menurutmu?
“Mereka yang telah meninggalkan nafsu keserakahan, kebencian, dan kebodohan membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan adalah yang sempurna di dunia ini. Demikianlah menurutku.”
“Demikianlah perumah tangga, engkau telah menyatakan: Dhamma dari mereka yang mengajarkan untuk meninggalkan nafsu keserakahan, kebencian, dan kebodohan adalah dibabarkan dengan baik. Mereka yang berlatih untuk meninggalkan nafsu keserakahan, kebencian, dan kebodohan mempraktikkan jalan yang baik. Mereka yang telah meninggalkan nafsu keserakahan, kebencian, dan kebodohan membuatnya seperti tunggul pohon palem, melenyapkannya sehingga tidak muncul lagi di masa depan adalah yang sempurna di dunia ini.”

Kesimpulan
Sungguh beruntung jika kita dapat bertemu dengan orang-orang baik dan bijaksana yang selalu menuntun, mengarahkan, mengajarkan dan memberikan keteladanan bagi kita dalam berbuat kebajikan. Merapatlah, mendekatlah kepada orang-orang baik dan bijak, belajarlah dari mereka, agar kita semakin baik dan bijak. Sadhu…..

Sumber:
-Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama, 2000
-Kamus Umum Buddha Dharma, Trisattva Buddhis Center, 2006
-Aṅguttara Nikāya Jilid I, Dhammacitta Press, 2015

Dibaca : 2288 kali