x

Menabur Kebajikan Meraih Kebahagiaan

Sukhaṁ yāva jarā sīlaṁ. Sukhā saddhā patiṭṭhitā.
Sukho paññāya paṭilābho. Pāpānaṁ akaraṇaṁ sukhaṁ.
Berbuat kebaikan sampai akhir hayat membawa berkah kebahagiaan.
Selalu memegang teguh keyakinan kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha
membawa berkah kebahagiaan. Mencapai kebijaksanaan dan pemahaman sejati 
tentang hakikat hidup membawa berkah kebahagiaan. Tidak melakukan segala 
bentuk kejahatan membawa berkah kebahagiaan. 

(Dhammapada syair 333, Nāgavaggo) 

    DOWNLOAD AUDIO

Kebahagiaan adalah salah satu kata yang sering kali diucapkan, terasa manis bagai madu alam murni. Semua mengharapkan kebahagiaan, dari yang kecil hingga yang besar, tua maupun muda, sama-sama berharap kebahagiaan muncul dalam kehidupan mereka. Kebahagiaan menurut pengertian umum bersifat relatif. Kebahagiaan orang satu dengan lainnya tentu berbeda tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Bagi seorang petani di desa, setelah lelah bekerja di ladangnya, kemudian ia makan di pematang sawah, baginya itu kebahagiaan yang luar biasa walaupun hanya makan sambal dan lalapan. Berbeda dengan seorang pejabat yang terbiasa hidup glamor, ke mana-mana mengendarai kendaraan mewah dengan penjaga yang setia mengawalnya ke manapun ia pergi. Baginya itu mungkin suatu kebahagiaan pula tetapi jika pejabat ini kemudian menggantikan profesi si petani tadi apakah ia bisa bahagia? Demikian pula sebaliknya, kebahagiaan begitu sangat dinanti, diinginkan, dan diharapkan oleh semua umat manusia.
Di dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha bersabda ada 4 hal yang sangat diinginkan, diharapkan, dinanti-nantikan oleh manusia di dunia ini yaitu:
1.Memiliki kekayaan yang melimpah, kedudukan, status sosial, pelayan, dan kendaraan.
2.Harta kekayaan yang dimiliki bisa bermanfaat untuk menyokong hidupnya.
3.Semua orang berharap bisa bebas dari utang piutang.
4.Bebas dari segala bentuk perbuatan tercela.

Namun semua materi dunia itu tiada yang kekal kita miliki. Suatu saat kekayaan yang kita miliki itu mungkin habis, bangkrut, atau dicuri orang jahat, atau ahli waris yang serakah menghambur-hamburkannya sampai habis, atau terkena musibah kebakaran, kebanjiran, disita oleh pemerintah, dan lain sebagainya. Harta kekayaan dunia memang dapat menjadikan pemiliknya merasa bahagia, tetapi di balik kebahagiaan itu tersembunyi jerat penderitaan, kekhawatiran, was-was, ketakutan, dan ketidakpuasan apabila semua itu berakhir dan berpisah dengan pemiliknya. Oleh karena itu, Buddha memberi perumpamaan tentang bagaimana seekor ikan yang dipancing dengan umpan di ujung mata kailnya, dengan asyiknya ia menikmati makanan umpan itu tanpa tahu sesungguhnya bahaya sedang mengintai hidupnya. Ketika lengah karena terlena nikmatnya makanan itu, ia ditarik oleh pancing yang berkail menyergapnya membuatnya menggelepar dan membawanya menuju kebinasaan. Demikian pula semua kebahagiaan dunia bersifat semu bagaikan fatamorgana, indah tapi bermata kail, senang sesaat menderita kemudian.

Manusia cenderung mencari kebahagiaan dunia yang semu, mereka tahu semua itu pada akhirnya hanya membuat kecewa dan kesedihan. Tetapi karena kegelapan batinnya, manusia tetap mencari dan melekatinya hingga tiada sadar waktu terus berputar berkurang hari demi hari. Namun, bukan berarti kebahagiaan sejati tidak ada. Dhamma menawarkan sekaligus menjamin kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang tidak bermata kail, yang tidak akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari, yang tidak akan mungkin bisa dicuri, dirampok, atau kena banjir, kebakaran dan lain sebagainya. 

Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang berasal dari dalam diri kita, diciptakan dari perilaku taat pada kebenaran, menjunjung tinggi Dhamma dalam setiap tindakan jasmani, ucapan, maupun pikiran. Bukan datang dari barang atau materi dunia yang selama ini dipuja bagaikan dewa. Kebahagiaan tidak datang dari luar sana, ia ada karena kita yang menghadirkan dan menciptakannya dalam batin yang murni, tanpa ego, keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin.
Di dalam Dhammapada syair 333 Sang Buddha mengutarakan ada 4 anjuran yang apabila dilakukan dan dikembangkan akan menuntun seseorang meraih berkah kebahagiaan dalam kehidupan ini maupun dalam banyak kelahiran di masa mendatang yaitu:
1.Sukhaṁ yāva jarā sīlaṁ (berbuat kebaikan sampai akhir hayat membawa berkah kebahagiaan).
2.Sukhā saddhā patiṭṭhitā (selalu memegang teguh keyakinan kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha membawa berkah kebahagiaan).
3.Sukho paññāya paṭilābho (mencapai kebijaksanaan dan pemahaman sejati tentang hakikat hidup membawa berkah kebahagiaan).
4.Pāpānaṁ akaraṇaṁ sukhaṁ (tidak melakukan segala bentuk kejahatan membawa berkah kebahagiaan).

Semua makhluk mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya, kebahagiaan dunia dan tentu saja kebahagiaan setelah kehidupan di dunia ini berakhir, dapat terlahir di alam yang lebih menyenangkan seperti alam surga adalah dambaan dan impian semua orang. Semua bentuk kebahagiaan itu akan dapat dicapai apabila kita selalu berusaha tanpa lelah mendapatkannya yang tentunya sesuai dengan Dhamma. Dunia ini akan seperti surga, nyaman, jauh dari pertikaian dan perang, jauh dari keserakahan, dan ketidaktahuan, apabila semua orang melatih dirinya, memperkaya dirinya dengan segala bentuk kebajikan seperti berdana, melatih moralitas, dan melatih pikirannya dari hal-hal negatif yang dapat membawa kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. Ajaran kebajikan ini akan membawa manusia kepada kebahagiaan, ajaran ini kekal, tidak akan lekang oleh waktu sekalipun manusia melupakannya, Dhamma akan tetap mengawal manusia dan dewa sampai mereka mencapai keadaan tanpa penderitaan. 


Sumber Pustaka:
Aṅguttara Nikāya. Khotbah-khotbah Numerikal Sang Buddha. Jakarta: DhammaCitta Press, 2015. 
Dhammapada. Jakarta: Yayasan Abdi Dhamma Indonesia, 2004.

Dibaca : 4078 kali