x

PELITA PENCERAH KEHIDUPAN

Idha nandati pecca nandati, katapuñño ubhayattha nandati
Di dunia ini ia berbahagia, di dunia sana ia berbahagia;
pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia.

(Dhammapada, Yamaka Vagga, Syair 18) 

    DOWNLOAD AUDIO

Semua orang berkeyakinan bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, hal ini diperkuat dengan banyaknya ungkapan-ungkapan yang muncul, baik berbentuk syair, puisi dan kalimat bahkan yang termaktup dalam kitab suci Ajaran Agama.

Kita tidak asing mendengar kalimat hidup ini hanya mampir minum, hidup ini perjalanan, hidup ini sementara. Ungkapan tersebut merupakan pemahaman, bahwa kehidupan yang sedang kita jalani ini bukan satu-satunya kehidupan yang akan kita jalani, arungi ataupun kita lalui.

Dalam kitab Suci Tipitaka diuraikan bahwa hidup ini bukan yang terakhir karena masih ada surga alam bahagia (sugati), dan neraka alam menderita (dugati). Hal ini sangat jelas mengukuhkan berkeyakinan kita bahwa hidup ini ada kelanjutannya, dan kehidupan yang sekarang ini bukan yang terakhir. 

Selama seseorang atau suatu makhluk belum mencapai tataran batiniah yang tertinggi, mencapai tingkat kesucian arahat, maka ia akan melanjutkan kehidupannya di alam semesta (31 alam kehidupan) sesuai dengan kekuatan atau timbunan kamma-kammanya. 

Kehidupan ini ada 2 sisi yakni sisi lahiriah, materi, rupakhandha, dan sisi batiniah, non materi, namakhandha. Secara kehidupan lahiriah dewasa ini luar biasa. Berbagai kemajuan yang ditopang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih (iptek), telah menjadi sarana kemudahan bagi umat manusia untuk memperoleh kebutuhan hidup. 

Hampir segala bentuk kebutuhan berupa materi mudah diperoleh baik makanan, minuman, pakaian, obat, sarana transportasi, sarana belajar, komputer, laptop, sarana komunikasi hp smart, ipad, hiburan tv smart, tv kabel dan lainnya, tak terhitung sarana kemudahan materi.

Kesempatan emas ini, saat kemudahan kebutuhan materi melimpah ruah, seyogyanya menjadi peluang yang tiada duanya, seperti perputaran waktu tanggal 02 Oktober 2016 hanya terjadi 1 kali, tidak akan terulang selama masa waktu di bumi ini. Maka kita harus pandai-pandai menggunakan sehingga menjadi sarana untuk melakukan kebajikan setiap waktu. 

Walaupun untuk dapat memiliki dan berkecukupan, kebutuhan materi juga bukan hal yang mudah. Di sinilah peran Dhamma sangat diperlukan, Dhamma pencerah kehidupan. 

Hidup perlu materi sebagai kebutuhan jasmani sehingga tubuh menjadi sehat, kuat, dan dewasa; keperluan sosial, kita hidup di duniawi materi menjadi sarana interaksi sesama, tali asih, jalinan kerukunan, yang dapat mengikat kebersamaan dan kekuatan untuk tujuan yang luhur; keperluan emosional. Kita senang bahagia karena dapat memiliki harta kebendaan (atthi-sukha), sarana melakukan kebajikan, puja,  berdana, dan pattidāna.

Kepemilikan harta, kedudukan, kemashyuran, kesehatan, pengikut, dan kebahagiaan hidup, tidak muncul dan datang secara tiba-tiba. Kehidupan di semesta alam ini ada hukum aksi-reaksi, sebab-akibat yang saling berkaitan (paṭiccasamuppāda), di mana ada sebuah aksi (sebab) yang terjadi akan diikuti oleh reaksi sebagai rentetan dari adanya akibat yang muncul, dan akibat yang ada pun akan menjadi sebab yang baru dan terus berlanjut demikian. Sebagai contoh saat ini kita berpuja bakti di Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya, karena ada sebab yang telah dimiliki, adanya vihāra, adanya pengertian dan  pemahaman benar, pikiran yang terarah ke vihāra, niatan melangkah kaki menuju vihāra, maka sampailah di vihāra dan berpuja bakti. Puja bakti menjadi sebab baru lagi, bisa memuculkan kegembiraan, kebahagiaan yang menjadi sebab baru lagi dan seterusnya.

Dengan memahami bahwa kehidupan adalah sebab musabab yang berkaitan, maka kita perbanyak-banyaklah membuat sebab-sebab yang terbaik yang dapat kita lakukan dalam perjalanan kehidupan ini.

Empat hal yang sangat bermanfaat untuk kita miliki guna menyukseskan tujuan mulia dalam hidup ini berbuat, berkarya mulia, yakni:  
1.Chanda
2.Gembira
3.Senang
4.Menyenangi apa yang di lakukandengan tanpa beban. 
Ini adalah modal utama untuk berkarya mulia, karena didasari pengertian, pemahaman bahwa segala sesuatu yang ada di kehidupan ini karena sebab. 

Suasana hati dan pikiran yang senang dan gembira maka kita akan mampu melakukan pekerjaan walau terasa berat, sukar, sulit bahkan serasa tidak mungkin bisa dilakukan, namun banyak hal terjadi yang di luar dari perkiraan kita bisa dilakukan. 

Guna menjadikan hati dan pikiran yang gembira dan senang, kita harus memiliki pandangan, pengertian, dan pola pikir benar. Mengetahui hidup adalah perubahan (anicca), tidak bertahan (dukkha) tanpa inti (anatta); mengerti bahwa hidup adalah aksi-reaksi (kamma-niyāma) dan pola pikir benar tidak beritikat jahat, iri, dengki, dendam dan egois dapat memunculkan kesenangan hati.

Dari hati dan pikiran yang gembira, senang akan muncullah energi yang luar biasa yang dapat digunakan untuk berupaya mengerjakan apapun yang kadang tak terpikir akan bisa terjadi adalah viriya: semangat, rajin, ulet. Di kala gelora hati membara menyala perjalanan jauh terasa dekat, beban berat terasa ringan, malam terasa siang sehingga dapat dengan mudahnya menyelesaikan tugas pekerjaanya.

Gelora hati yang membara menyala-nyala akan menjadi senjata ampuh bahkan melebihi kekuatan bom atom di Hirosima yang hanya mampu menghancurkan fisik, namun, citta: perhatian sepenuh hati mampu meluluhlantakkan kekotoran batin seseorang. Kesungguhan hati adalah kekuatan batin yang luar biasa. Mereka para siswa mulia mencapai tataran kesucian karena kesungguhan hati, tegar, teguh, kokoh, apalagi hanya hal yang bersifat duniawi atau material.

Problemnya adalah kita tidak memiliki totalitas, kesungguhan hati sehingga apa yang kita harapkan belum bisa tercapai, penuh dengan keraguan, bimbang, khawatir yang selalu menggerogoti kekuatan dan daya juang kita sehingga belum tercapai kita telah kalah.

Hal yang terakhir yang perlu kita perhatikan adalah kenapa kita belum bisa meraih apa yang kita cita-citakan. Adalah perlu adanya analisa, penyelidikan, perenungan, intropeksi yakni: vimaṁsa, apa penyebabnya, apa kekurangannya, apa hambatannya yang menjadikan kita belum dapat merealisasi tujuan. Apakah tujuan dan pelaksanaannya telah sesuai, apakah didukung dengan kondisi yang diperlukan, apakah sesuai norma dan hukum yang berlaku. Itulah yang sangat perlu dikaji dan telaah kembali.

Empat Dhamma ini merupakan Pelita Pencerah Kehidupan untuk terus melangkah maju dari kehidupan ini ke kehidupan selanjutnya.

Buddha bersabda: Di dunia ini ia berbahagia, di dunia sana ia berbahagia; pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia.  Ia akan berbahagia ketika berpikir, “Aku telah berbuat bajik” dan ia akan lebih berbahagia lagi ketika berada di alam bahagia.

Dibaca : 4825 kali