x

Kunci Menuju Kebahagiaan

Yathāpi puppharāsimhā, kayirā mālāguḷe bahū,
Evaṁ jātena maccena, kattabaṁ kusalaṁ bahun”ti
Bagaikan seorang perangkai bunga, dari onggokan bunga-bunga membuat banyak untaian bunga, demikianlah makhluk fana patut menimbun banyak kebajikan.

(Dhammapada 53)

    DOWNLOAD AUDIO

Berbuat baik itu tentu sangat baik dan sangat bermanfaat bagi siapa pun yang terlibat, baik si pelaku maupun si penerima kebaikan itu, bahkan bisa juga untuk siapa saja mungkin merasakan pengaruh dari perbuatan baik tersebut di lingkungan sekitarnya.

Seandainya Orang Tahu Manfaat Berdana

Berbuat baik, dalam hal ini berdana tentu dan secara pasti akan membawa pengaruh baik atau dengan kata populernya akan bermanfaat. Sangat tidak mungkin berbuat baik itu akan membawa kerugian bagi siapa pun. Jika ada perbuatan baik yang merugikan berarti itu bukan perbuatan baik.
Dalam Itivuttaka 26;18-49 Sang Buddha berkata: “Wahai para bhikkhu, seandainya orang-orang tahu, sebagaimana yang Saya ketahui, hasil dari berdana dan berbagi, mereka tak akan makan tanpa memberi terlebih dahulu, ataupun membiarkan noda kekikiran menguasai diri mereka serta mengakar dalam pikiran mereka. Kendatipun merupakan cuil terakhirnya, suap terakhirnya, mereka tak akan menyantapnya tanpa membaginya terlebih dahulu, seandainya ada orang untuk berbagi makanan tersebut. Namun, para bhikkhu, sebagaimana yang tidak diketahui orang-orang, sebagaimana yang Saya ketahui, hasil dari berdana dan berbagi, mereka makan tanpa memberi terlebih dahulu, dan noda kekikiran menguasai diri mereka serta mengakar dalam pikiran mereka.”

Mengapa Orang Berdana

Kadang-kadang masih ada orang suka bertanya soal berbuat baik seperti berdana, ‘Mengapa sih orang harus berdana? Untuk apa berdana?’ Memang setiap orang yang berdana memiliki dasar atau alasan atau motivasi untuk berdana. Tidak semua orang yang berdana selalu dengan motivasi yang baik dan penuh ketulusan serta juga karena keyakinan. Tetapi ada kalanya orang tertentu berdana atau berbuat baik terlihat baik padahal ada dorongan pemikiran tertentu yang kurang baik atau kurang sesuai.
Seperti kata Sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya VIII.33 mengenai berdana dengan motivasi yang berbeda-beda, sebagaimana dikatakan ‘O para bhikkhu, ada delapan alasan berdana, yaitu 1) Orang bisa berdana karena kasih sayang, 2) Orang bisa berdana karena marah, 3) Orang bisa berdana karena kebodohan, 4) Orang bisa berdana karena takut, 5) Orang bisa berdana dengan pemikiran bahwa dana seperti ini pernah diberikan sebelumnya oleh ayah dan kakekku, 6) Orang berdana dengan pemikiran bahwa dirinya akan terlahir kembali di alam bahagia, 7) Orang berdana dengan pemikiran bahwa saat memberikan dana ini pikiranku akan gembira, 8) Orang berdana karena akan memperindah batin.

Kebajikan Orang Mulia

Orang yang bisa mengerti, yang menyadari, yang tergolong mulia akan memberikan dana atau berbuat baik dengan dasar-dasar yang sesuai yaitu karena: 1) Adanya keyakinan, 2) Dengan penuh hormat, 3) Pada saat yang tepat, 4) Dengan murah hati, 5) Tanpa mengeluhkan dirinya sendiri maupun orang lain

Saling Mendukung

Suatu perbuatan baik yang terjadi antar sesama sesungguhnya bisa saling melengkapi dan saling berkaitan satu sama lain, bahkan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya antar sesama. Dalam Itivuttaka 107.111 Sang Buddha mengatakan, “Para bhikkhu, para brahmana, para perumah tangga sungguh berjasa terhadap kalian. Mereka menyediakan bagi kalian keperluan jubah, dana makanan, tempat tinggal dan obat-obatan tatkala sakit. Dan kalian sungguh berjasa terhadap para brahmana perumah tangga karena kalian mengajarkan Dhamma yang indah pada awalnya, pada tengahnya, dan pada akhirnya dengan prinsip secara teori (dalam wejangan/ bimbingan) dan juga terapan (praktik).
Sudah kurang tentu hal tersebut sangat jelas dan pasti satu sama lain membawa ketentraman, kedamaian, keharmonisan, dan kebahagiaan bagi siapa saja yang berpikir ingin terlibat dalam perbuatan baik seperti itu.

Kelahian Kembali Setelah Berbuat Baik

Setelah berbuat baik ataupun berdana si pelaku akan memperoleh akibat dari perbuatannya sendiri. Buah dari perbuatan baiknya akan membawa kebahagiaan bagi hidupnya di manapun ia berada di kehidupan ini maupun di kehidupan akan datang setelah kematian tiba nanti pada saatnya.
Dalam Aṅguttara Nikāya VIII.39 Sang Buddha mengatakan bahwa orang yang telah berbuat baik akan mengalami kelahiran kembali di alam bahagia, seperti di antara para bangsawan, para brahmana, para perumah tangga yang makmur, bahkan di alam surga Tusita, atau di alam Yama, atau juga alam brahma. Seorang pelaku kebajikan tentu akan membawa pengaruh terjadinya perubahan yang lebih baik di berbagai situasi. 

Semoga kita dapat berbuat demikian kapan pun di manapun lebih-lebih dalam situasi masa-masa akan ada peluang untuk banyak berbuat baik seperti sebentar lagi akan masuk masa Kaṭhina dana atau Saṅghadana di masa Kaṭhina 2560 bulan Oktober dan November 2016 dalam waktu dekat akan tiba waktunya bagi semua umat Buddha yang berpikir ingin berbuat baik untuk menciptakan kondisi hidup lebih bahagia dari sebelum-sebelumnya.

Sekian dan terima kasih serta anumodana.

Sumber:
1.Tipitaka Tematik, Ehipassiko Foundation, 2009
2.Petikan Aṅguttara Nikāya, Vihāra Bodhivaṁsa, Klaten, 2003 

Dibaca : 2795 kali