x

IA YANG RENDAHAN

“Kammaṁ vijjā ca dhammo ca, sīlaṁ jīvitamuttamaṁ;
Etena maccā sujjhanti, na gottena dhanena vā’ti”
“Perbuatan, pengetahuan, kebajikan, moralitas, kehidupan yang baik; dengan ini umat manusia dimurnikan, bukan dengan suku atau kekayaan.”
(SN.I.52 - Anāthapiṇḍika Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Bukan satu, dua, atau tiga – tetapi kerap kali kita mendengar tentang seseorang yang merendahkan orang lain, atau bahkan diri kita sendiri yang direndahkan, dan yang paling tidak baik – mungkin saja kita yang merendahkan orang lain. Kejadian yang seperti ini yang terkadang membuat kehidupan kita menjadi tidak nyaman. Sebagian orang, dengan pandangan umumnya beranggapan dan menentukan tolak ukur di mana seseorang dikatakan sebagai orang yang rendahan. Dengan tolak ukur seperti itu, pada akhirnya ada beberapa orang yang terkurung di dalamnya dengan asumsi, ketika ia berada di dalam kriteria tersebut, dia adalah orang rendahan. Tolak ukur tersebut adalah pendidikan, materi, jabatan, suku atau ras. Tetapi nyatanya tidak selalu demikian. Pendidikan, jika pendidikan adalah tolak ukur bagi seseorang untuk dikatakan sebagai orang yang tinggi tidak rendahan, nyatanya masih ada orang yang berpendidikan tinggi tetapi dikucilkan di kehidupan sosial, masih ada orang yang dengan pendidikan tinggi tetapi tidak memiliki kehidupan yang baik. Sebaliknya, ada beberapa orang dengan pendidikan yang tidak tinggi, tetapi mampu menjadi orang yang tinggi – orang yang berpengaruh di dalam lingkungannya. Jadi, pendidikan dan yang lainnya tidak menjamin seseorang dikatakan sebagai orang yang tidak rendahan atau orang yang rendahan.
“Pañcahi, bhikkhave, dhammehi samannāgato upāsako upāsaka-caṇḍālo ca hoti upāsakamalañca upāsaka-patikuṭṭho ca. Katamehi pañcahi?” (AN.III.205) “Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang umat awam adalah seorang caṇḍāla umat awam, noda umat awam, yangterakhir di antara para umat awam. Apakah lima ini?” 
Caṇḍāla memiliki arti seseorang yang berada di golongan rendah, atau dapat diartikan orang rendahan. Ada lima hal yang Guru Agung Buddha terangkan di dalam Caṇḍāla Sutta, tentang kriteria atau sebab-sebab seseorang dikatakan sebagai caṇḍāla yaitu orang yang rendahan, yaitu:
1.Assaddho hoti –ia hampa dari keyakinan.
2.Dussīlo hoti – ia tidak bermoral.
3.Kotūhalamaṅgaliko hoti, maṅgalaṁ pacceti no kammaṁ –  ia bersifat takhayul, percaya akan tanda gaib, tidak mempercayai kamma. 
4.Ito ca bahiddhā dakkhiṇeyyaṁ gavesati – ia mencari orang yang layak menerima pemberian di luar dari sini.
5.Tattha ca pubbakāraṁ karoti – ia melakukan perbuatan-perbuatan berjasa di sana terlebih dahulu.
Dengan lima hal tersebut Guru Agung Buddha menjelaskan, bukan karena pendidikan, meteri, suku, atau bahkan jabatan, seseorang dikatakan sebagai orang yang tidak rendahan, melainkan karena tidak memiliki lima kondisi yang telah dijelaskan, seseorang dapat dikatakan sebagai orang yang rendahan. Hal demikian serupa dengan yang diungkapkan oleh Deva muda Anāthapiṇḍika di dalam Saṁyutta Nikāya – Anāthapiṇḍika Sutta (seperti syair di atas). Untuk itu daripada kita merendahkan orang lain, lebih baik berusaha sebaik mungkin untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita melalui belajar dan praktik Dhamma. Dengan kita berupaya mempraktikkan Dhamma dan konsisten di dalam praktik tersebut, lingkungan akan mendapatkan dampak baik atau manfaat. Memodifikasi kehidupan kita ke arah yang baik,  senantiasa konsisten di dalam praktik Dhamma, dengan demikian kita menjadi unggul, mulia, murni, dan tidak menjadi manusia yang rendahan.

Sumber:
-Bodhi, Bhikkhu (Penerjemah: Indra Anggara). 2015. Khotbah-khotbah Numerikal Sang Buddha Terjemahan Baru Aṅguttara Nikāya (Judul asli: The Numerical Discourses of the Buddha A Translation of The Aṅguttara Nikāya). Jakarta: DhammaCitta Press.
-Bodhi, Bhikkhu (Penerjemah: Indra Anggara). 2010. Khotbah-khotbah Berkelompok Sang Buddha Terjemahan Baru Saṁ yutta Nikāya. Jakarta: DhammaCitta Press.

Dibaca : 2069 kali