x

PEMBUNUH MULIA – PEMBUNUH KEMARAHAN

Kodhaṁ chetvā sukhaṁ seti, kodhaṁ chetvā na socati;
Kodhassa visamūlassa, madhuraggassa brāhmaṇa; 
Vadhaṁ ariyā pasaṁsanti, tañhi chetvā na socatī’’ti

Setelah membunuh kemarahan, seseorang tidur dengan lelap;
Setelah membunuh kemarahan, seseorang tidak bersedih;
Pembunuh kemarahan, O, Brahmana, dengan akar beracun dan pucuk bermadu:
Ini adalah pembunuhan yang dipuji oleh para mulia,
karena setelah membunuh itu, seseorang tidak bersedih.
(Saṁyutta Nikāya  I.159 - Dhanañjānīsuttaṁ)

    DOWNLOAD AUDIO

Berlatar belakang kisah seorang Brahmana dari suku Bhāradvāja. Yaitu Brahmana tertua di dalam sukunya ‘Akkosaka Bhāradvāja’, yang tidak senang bahwa isterinya Brahmana wanita Dhanañjānī memuji Buddha. Dengan maksud ingin menjatuhkan harga diri Buddha, Brahmana tersebut kemudian pergi menemui Buddha dan mengajukan beberapa pertanyaan, yang ia harapkan Buddha tidak dapat menjawabnya, atau ketika menjawab menjadi salah. Brahmana tersebut menanyakan; “Setelah membunuh apakah seseorang tidur dengan lelap? Setelah membunuh apakah seseorang tidak bersedih? Apakah satu hal, O, Gotama, yang me-rupakan pembunuhan yang engkau setujui?” (SN.I.159). Kemudian Buddha menjawab dengan jawaban seperti syair di atas. 

Pada dasarnya setiap individu manusia memiliki yang namanya sifat marah atau kemarahan. Kemarahan atau kodha adalah perasaan negatif yang muncul atau dialami saat keinginan tidak terpenuhi dan munculah frustasi. Kemarahan yang dapat mengacaukan pikiran seseorang menyebabkan kemarahan dikatakan sebagai emosi manusia yang paling destruktif. Ketika seseorang memiliki kemarahan di dalam dirinya, kegelisahan dan kecemasan akan meliputi kehidupannya. Semakin kuat hasrat kita untuk mendapatkan atau menolak suatu hal, maka semakin kuat kemarahan yang muncul kala hasrat tidak dapat terpenuhi.

Dari pernyataan tersebut, di mana hasrat yang tak terpenuhi melahirkan kemarahan yang baru, dapat diambil satu poin bahwa, kemarahan berakar dari ‘keinginan’ dan ‘kelekatan’. Nafsu keinginan atau taṇha yang muncul dan berkembang karena kilesa atau noda batin, menimbulkan kelekatan upādāna. Saat kelekatan sudah muncul maka ingin lagi dan lagi adalah kelanjutannya, dan mendatangkan penderitaan baru. Ketika keinginannya untuk lagi dan lagi terpenuhi, dia senang. Ketika tidak terpenuhi, dia kecewa, menolak, dan kemudian kemarahan muncul. 

Lantas bagaimana cara kita mengatasi kemarahan? Memodifikasi hasrat adalah salah satu caranya. Memodifikasi hasrat artinya kita diarahkan untuk memahami diri sendiri, memahami ego atau attā. Saat ego dipahami, maka kemarahan dapat diatasi. Memahami ego atau mengatasi kemarahan dengan mengenali diri sendiri, dapat dimulai dengan memahami tentang tilakkhaṇa atau tiga corak kehidupan. 
1.Anicca: mengatasi kemarahan dengan memahami sifat ketidaktetapan atau ketidakkekalan. Ketika kemarahan muncul, sadari itupun akan berlalu, berubah, dan tidak tetap. Lantas ketika kita ingin marah, marah terhadap apa? karena semua sudah berlalu.
2.Dukkha: penderitaan yang diawali karena ketidakpuasan. Kemarahan muncul, karena suatu sebab, hal buruk ada, membuat kita tidak nyaman, menderita. Ketika hal-hal tidak baik muncul dan mengakibatkan kemarahan kita bangkit, kita ingin marah, bukankah hanya mendatangkan penderitaan baru? Kita sudah menderita, kenapa harus menambah-nambahkannya.
3.Anattā: tidak ada diri atau tanpa aku, dapat diartikan juga sebagai tanpa sebab yang tunggal. Pandangan ini mengajarkan kita, bahwa kemarahan yang kita alami, muncul bukan semata hanya karena satu faktor, banyak faktor yang mendukungnya. Sekalipun kita marah terhadap si A, si A yang mana yang akan kita marahi? Bukankah A ada karena banyak sebab, bukankah A hanya gabungan-gabungan? Lantas mana A yang kita jadikan objek kemarahan? Memahami dengan jelas ketiga hal tersebut, mendorong kita untuk bertindak secara hati-hati dalam hal kemarahan. Karena ketika kemarahan muncul dan berkembang, disana ada kerugian yang diproduksi. Bukan hanya diri sendiri yang rugi atas suatu kemarahan, tapi orang sekitar kita, lingkungan kita, akan ikut ambil jatah atas kerugian tersebut. Meredam keinginan dan mengurangi kelekatan, serta memahami tentang tiga corak kehidupan, adalah senjata mematikan untuk membunuh kemarahan. Karena pembunuhan yang mulia adalah pembunuhan kemarahan. Ketika seseorang membunuh kemarahannya, ia tidur dengan nyenyak, ia tidak memiliki kesedihan, dan inilah yang dipuji oleh para mulia dan Buddha tentang sebuah pembunuhan.

Sumber:
-Bodhi, Bhikkhu (Penerjemah: Indra Anggara). 2010. Khotbah-khotbah Berkelompok Sang Buddha Terjemahan Baru Saṁyutta Nikāya. Jakarta: DhammaCitta Press.
-Dhammika, Shravasti (Penerjemah: Juniwatim Mona Mensana, Yusmiati). 2015. Ensiklopedi Mini Buddhis (Terjemahan). Jakarta: Yayasan Karaniya. 
-Kutipan Pali Saṁyutta Nikāya  I.159 - Dhanañjānīsuttaṁ diambil dari Aplikasi Caṭṭha saṅgayāna Tipiṭaka 4.0 2015. 

Dibaca : 1903 kali