x

Jalan Dhamma Menuntun Kekayaan Batin Manusia

“Dūre santo pakāsenti, himavantova pabbato
asantettha na dissanti, rattiṁ khittā yathā sarā’ti”.  
“Meskipun dari jauh, orang baik akan terlihat bersinar, bagaikan puncak gunung Himalaya. Tetapi meskipun dekat, orang jahat tidak akan terlihat,
bagaikan anak panah yang dilepas pada malam hari”.
(Dhammapada Pakinnaka Vagga XXI, 304)

    DOWNLOAD AUDIO

Sebagai umat Buddha yang melangkah di jalan Dhamma, akan selalu berjuang dalam hidup ini, sebab kita telah diberi bekal oleh Guru Agung Buddha berupa Dhamma, ajaran-Nya. Dhamma yang telah diajarkan 2.600 tahun yang silam masih nyata dalam hidup ini. Dengan bertekad mempraktikkannya, akan menumbuhkan semangat dan kesabaran untuk menghadapi perkembangan dunia saat ini.

Tanpa berpedoman kepada Dhamma, kita mungkin akan tersesat, seperti seorang pengembara yang berjalan tanpa tujuan. Jika ada yang menunjukkan jalan baginya, kemungkinan orang itu tidak akan tersesat dan mencapai tujuannya. 

Akhir-akhir ini kita berada dalam keadaan rasa takut, khawatir, cemas dan gelisah akan adanya isu-isu yang tidak menyenangkan batin. Penyebab dari semua masalah ini karena adanya keinginan akan kekuasaan dan kedudukan. Perkembangan teknologi membuat semua lapisan masyarakat mengetahui masalah tersebut, ada yang pro dan kontra. Kita sebagai umat Buddha yang baik akan selalu waspada terhadap masalah-masalah itu. Semua masalah-masalah yang timbul di dunia ini, karena adanya paham materialistis (keinginan akan kekuasaan dan kedudukan). 

Orang yang mencari kekayaan atau kekuasaan dengan kekerasan, tentu tidak sesuai dengan jalan Dhamma. Orang ini mungkin dengan membunuh, menindas, dan merampas hak orang lain. Setelah mendapatkan keuntungan berupa kekayaan, mungkin dia lupa diri dan tidak berbuat baik. Orang yang seperti ini dikatakan tercela dalam tiga hal, seperti;
1.Mencari penghidupan dengan kekerasan.
2.Tidak membagi kekayaannya kepada orang lain.
3.Tidak memiliki timbunan kebajikan.

Di dalam Aṅguttara Nikāya IV. 51 (A. IV. 51), dijelaskan ada Tujuh Kekayaan Ariya. ‘Kekayaan‘ ini mengingatkan kita pada jalan Dhamma dalam mengembangkan sifat-sifat ‘luhur‘ itu. ‘Kekayaan Ariya‘ dapat dipraktikkan oleh siapapun juga dalam hidup ini, seperti; 
1.Saddhā: memiliki keyakinan pada hal-hal yang seharusnya diyakini, seperti Tiga Permata (Tiratana) yaitu:
a.Buddha, manusia biasa yang dengan usahanya sendiri mencapai Penerangan Sempurna di bawah pohon Bodhi. Kemudian Beliau mengajarkan Dhamma kepada para pengikut-Nya, agar mereka dapat melatih pikiran, ucapan dan tindakan sesuai dengan ajaran-Nya, hingga suatu saat nanti  mereka dapat mencapai tingkat kesucian yang sama seperti dengan-Nya.
b.Dhamma, ajaran yang diajarkan oleh Guru Agung Buddha berisikan peraturan-peraturan disiplin (Vinaya), khotbah-khotbah Guru Agung Buddha (Sutta), dan Abhidhamma. Bagi mereka yang mempraktikkan Ajaran-Nya, tidak akan tersesat di jalan yang salah.
c.Saṅgha, persaudaraan para bhikkhu yang menjalani kehidupan tanpa berumah tangga dan hidup sesuai dengan Dhamma Vinaya yang sudah ditetapkan.
2.Sīla: memiliki perilaku yang baik, mengingatkan kita agar selalu menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan sesuai dengan aturan atau disiplin yang berlaku di dalam masyarakat. Dengan berperilaku yang baik, kita dapat mengembangkan sifat-sifat luhur yang ada di dalam batin ini, seperti; cinta kasih, belas asih, simpati dan keseimbangan batin. Perbuatan baik ini berguna bagi diri sendiri maupun orang lain.
3.Hiri: merasa malu saat melakukan hal-hal yang  buruk atau yang tidak pantas untuk dilakukan. Hidup  dengan penuh pengendalian diri.
4.Ottappa: merasa takut akan akibat-akibat perbuatan jahat yang dilakukan. Merenungkan kembali tindakan-tindakan mana yang pantas dilakukan atau tidak.
Hiri dan Ottappa ini sering disebut sebagai Dhamma pelindung dunia.
5.Bahusacca: berpengetahuan luas dalam praktik Dhamma melalui melihat, mendengar, dan mem-baca serta mengalaminya secara langsung. Dengan kata lain bisa memahami, menerima, dan melaksanakan sesuai dengan apa yang telah dimengerti dan diselidiki serta dapat memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
6.Caga: orang yang mencari kekayaan sesuai dengan Dhamma akan menghindari kekerasan dan selalu berusaha berbuat baik dengan membagi kekayaannya kepada orang lain. Orang ini akan memperoleh kemajuan dalam hidupnya, karena saat mencari kekayaan dia tidak membuat orang lain menderita. Jalan hidupnya sesuai dengan ajaran Dhamma. Saat memperoleh rezeki dia tidak lupa membagi kepada orang lain yang membutuhkan jasanya. Orang ini tidak kikir serta banyak melakukan kebajikan sesuai dengan harta yang dimiliki. Dengan kebajikan ini pula dia memperoleh kekayaan dan kemashyuran.
7.Paññā: mengerti dengan baik mana hal-hal yang benar atau tidak, mana yang bermanfaat atau tidak dan mengetahui secara pasti apa yang seharusnya dikerjakan atau tidak serta membebaskan diri dari pandangan-pandangan keliru untuk memperoleh pandangan benar.

Tujuh Kekayaan Ariya lebih unggul dari kekayaan dunia berupa emas dan perak. Orang yang bijaksana selalu berusaha untuk menumbuhkan watak yang baik di dalam batinnya. Orang ini bukan saja bermanfaat bagi dirinya tetapi bermanfaat untuk orang lain (masyarakat). Nilai tambah inilah yang akan membawa seseorang dalam simpanan kebajikan sepanjang hidupnya, baik di dunia ini maupun di dunia berikutnya. Inilah simpanan kebajikan yang sesungguhnya. 

Semoga masalah-masalah yang timbul akhir-akhir ini dapat kita selesaikan dengan cara  damai, tanpa ada perselisihan  paham di antara kita. Semoga semuanya dapat tercapai. Semoga semua makhluk hidup berbahagia dan sejahtera.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Sumber :
-Dhammapada Penerbit Bahussuta Society
-Dhamma Vibhaga Penerbit Vidyasena

Dibaca : 2099 kali