x

CINTA KASIH

Mettañca sabbalokasmiṁ, mānasambhāvaye aparimāṇaṁ, 
uddhaṁ adho ca tiriyañca, asambādhaṁ averaṁ asappattaṁ’ti
Cinta kasih terhadap makhluk di segenap alam patut dikembangkan tanpa batas dalam batin baik ke arah atas, bawah, dan diantaranya tidak sempit, tanpa kedengkian, tanpa permusuhan.

    DOWNLOAD AUDIO

Pengertian Cinta Kasih Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) 

Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada) atau sangat tertarik hatinya, sedangkan kasih, artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian, arti cinta dan kasih itu hampir sama sehingga kata kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa cinta. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasih. Walaupun cinta dan kasih mengandung arti yang hampir sama, antara keduanya terdapat perbedaan, yaitu cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam, sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa yang mendalam, itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata. 

Cinta Kasih Menurut Agama Buddha

Mettā itu salah satu kata yang terdapat di kumpulan Sutta-Sutta (Nikāya Pāḷi) yang diterjemahkan sebagai cinta kasih ini berbeda dengan cinta kasih yang telah disebutkan di atas. Mettā menggambarkan cinta kasih dan belas kasih yang dipancarkan secara universal. Di Mettā Sutta, yang kemudian dikenal dengan Karaniya Mettā Sutta ini, Sang Buddha menganjurkan siswa-Nya untuk mengembangkan cinta kasih terhadap makhluk di segenap alam. Jadi bukan hanya terhadap manusia saja tetapi semua makhluk/berlaku untuk semua, bersifat (melingkupi) seluruh alam, patut dikembangkan tanpa batas (appamaññā) ke dalam batin, sebagaimana seorang ibu mempertaruhkan jiwanya, melindungi putra tunggalnya, demikianlah terhadap semua makhluk kembangkanlah pikiran cinta kasih tanpa batas, tidak sempit.

Pengembangan Mettā dilakukan tanpa syarat, penuh dengan ketulusan (tanpa pamrih), inilah cinta sejati hanya memberi tanpa mengharap kembali, bukan seperti cinta nafsu (gairah) yang mengharapkan balasan, ketika cintanya terbalaskan orang merasa gembira dan bahagia. Namun jika tak terbalaskan akan menyebabkan perasaan sedih, berkecil hati dan putus asa. Mettā juga bukan menerima baru memberi (take and give) itu dagang.

Mettā ajaran Sang Buddha tanpa kedengkian, tanpa permusuhan, Sang Buddha bersabda: “Tak selayaknya karena marah dan benci, mengharapkan yang lain celaka”. Bagaimana melatih pikiran cinta kasih tanpa kedengkian dan kemarahan? Ketika orang lain berbicara dengan kita ada lima kemungkinan: ucapan mereka tidak tepat waktunya, tidak benar, kasar, berhubungan dengan kejahatan, dan diucapkan dengan kebencian. Di Kakacūpama Sutta, Sang Buddha memberikan petunjuk kepada para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: “Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh, dan kami tidak akan mengucapkan kata-kata jahat; kami akan berdiam dengan penuh belas kasih demi kesejahteraan mereka, dengan pikiran cinta kasih tanpa kebencian. Kami akan berdiam melingkupi orang itu dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih; dan dimulai dengan dirinya, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih yang berlimpah, luhur, tanpa batas, dan tanpa permusuhan”. Sang Buddha menekankan: “Para bhikkhu, bahkan jika para penjahat memotong kalian dengan kejam pada bagian tubuh dengan gergaji bergagang, ia yang memunculkan pikiran benci terhadap mereka, berarti tidak melaksanakan ajaran-Ku”. Kemudian Sang Buddha mengatakan “Para bhikkhu, jika kalian terus-menerus mengingat nasehat tentang perumpamaan gergaji ini, apakah kalian melihat ada ucapan remeh atau kasar, yang tidak dapat kalian terima?” “Tidak, Yang Mulia.” “Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus terus-menerus mengingat nasehat tentang perumpamaan gergaji ini. Hal ini akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama”. Sebagai umat Buddha hendaknya kita berusaha mengembangkan Mettā sesuai yang telah diberikan oleh Sang Buddha. Pengembangan Mettā dapat mengantarkan kita pada pencapaian kedamaian Nibbāna (Mettā cetovimutti), seperti yang dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Dhammapada 368: “Apabila seorang bhikkhu hidup dalam cinta kasih dan memiliki keyakinan terhadap Ajaran Sang Buddha, maka ia akan sampai pada keadaan damai (Nibbāna), berhentinya hal-hal yang berkondisi (saṅkhara)”.

Semoga dengan tekad yang kuat dan ketekunan pantang menyerah di dalam melatih dan mengembangkan Mettā, suatu saat kita akan mencapai kedamaian.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Dibaca : 351 kali