x

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Apabila perbuatan yang dilakukan membawa kerugian bagi diri sendiri, makhluk lain, maupun keduanya, ini dapat dipertimbangkan sebagai perbuatan buruk dan sebaiknya dihindari. Apabila perbuatan yang dilakukan membawa manfaat bagi diri sendiri, makhluk lain, maupun keduanya, ini dapat dipertimbangkan sebagai perbuatan baik dan semestinya dilakukan.
(MN 61; Ambalaṭṭhikā­rāhulovāda Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Kejahatan merupakan gejala sosial yang senantiasa dihadapi oleh setiap masyarakat di dunia ini. Dalam keberadaannya, kejahatan sangat meresahkan, karena mengganggu ketertiban dan ketenteraman masyarakat luas dalam menjalani aktivitas kehidupannya. Berdasarkan terminologinya, kejahatan dianggap sebagai perbuatan antisosial, kegagalan, atau penolakan untuk berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. 

Etika sosial memegang peranan penting dalam pembentukan karakter setiap manusia, karena selain memiliki kecenderungan mengejar kebahagiaan (sukha kāme) dan menghindari penderitaan (dukkha paṭikūle), manusia juga memiliki naluri dasar untuk hidup (jīvitu kāme) dan menghindari kematian (amaritu kāme). Apabila menghendaki semua hal tersebut, tentu orang lain menginginkan hal yang sama (Veḷudvāreyya Sutta). Apa yang tidak menyenangkan bagi diri sendiri, juga membuat yang lain menderita, begitu pula sebaliknya. Apapun yang dilakukan, baik atau buruk, mempengaruhi masyarakat dan alam sekitar sebagai satu keseluruhan. Oleh karena itu, prinsip moral selalu menjadi tonggak pengambilan keputusan. 

Menurut sudut pandang agama Buddha, terdapat hubungan yang erat antara sisi material dan spiritual dalam evolusi masyarakat. Perilaku kejahatan akibat pengaruh moral-spiritual tak bisa dipisahkan dari segi kehidupan sosial-materialnya. Buddha menekankan pentingnya suatu pemerintahan yang baik. Sebuah negara menjadi runtuh bila pemimpinnya korup dan tidak adil. Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan sangat ditentang dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang bertindak berdasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan. 

Tindak kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, penipuan, pemalsuan, dan perdagangan ilegal dapat timbul dari kemiskinan. Masalah-masalah tersebut tidak bisa dipisahkan dari konteks ekonomi. Oleh karenanya, pemecahan masalah bukan dengan cara mengambil tindakan keras dengan menjatuhkan hukuman, tetapi dengan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat luas. Dalam Kūṭadanda Sutta, Buddha menganjurkan perbaikan sektor ekonomi sebagai solusi untuk mengurangi kejahatan. Negara memiliki tanggung jawab memberikan kesejahteraan yang sebesar-besarnya bagi rakyat. Mengurangi kesenjangan sosial antara kalangan atas dan bawah adalah salah satu cara yang ber-dampak positif bagi stabilitas perekonomian negara. Selain itu, pemerintah harus menggunakan sumber daya secara bijak untuk memperbaiki keadaan wilayahnya.

Secara individual, terdapat faktor internal yang memungkinkan manusia dapat melakukan kejahatan. Penyebab ini dapat diurai menjadi tiga sifat dasar, yaitu: keserakahan (lobha); kebencian, rasa dengki, serta dendam (dosa); dan ketidaktahuan (moha). Begitu pula sebaliknya, terdapat tiga sifat dasar kebaikan, yaitu: tidak serakah (alobha), tidak membenci (adosa), dan memiliki pengetahuan (amoha). Dalam Agañña Sutta, disebutkan bahwa kemunculan manusia beserta perbuatannya pada akhirnya juga menyebabkan munculnya hukum sebagai penjaga keadilan atas adanya kejahatan dalam diri manusia. Kejahatan telah ada sejak adanya manusia dan senantiasa menyertai keberadaan manusia itu sendiri. Dengan begitu hukum menjadi bagian yang tak terpisahkan dari adanya manusia, karena motif terpendam berupa niat berbuat jahat memang telah ada sejak kemunculan manusia.

Bergaul dengan orang yang bijaksana, bertempat tinggal yang sesuai, dan membimbing diri dengan benar adalah berkah utama, seperti yang tertera pada Maṅgala Sutta. Pendidikan yang intensif dan berkelanjutan menjadi kunci pengembangan karakter seseorang. Kesi Sutta mengumpamakan pelaksanaan pendidikan ini seperti seorang pelatih kuda. Adakalanya kuda harus dilatih dengan lemah lembut, dengan cara yang keras, atau keduanya. Seperti itulah pola pendidikan bagi tiap individu sebaiknya disesuaikan dengan perangai pribadi masing-masing. Seseorang yang sedari kecil sudah diasuh dalam lingkungan yang keras cenderung bersikap agresif dan biasanya sangat sulit dididik dengan kekerasan. Cinta dan kasih sayang menjadi oase di tengah padang gurun yang menawarkan kelembutan bagi batin yang sedang terbakar.

Dibaca : 2224 kali