x

Perbuatan Baik Dan Tidak Baik, Itulah Warisan Yang Sesungguhnya

Attanā va kataṁ pāpaṁ attanā saṅkilissati
attanā akataṁ pāpaṁ attanā va visujjhati
suddhī asuddhi paccattaṁ nāñño aññaṁ visodhaye  

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula orang ternodai.
Oleh diri sendiri kejahatan tak dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci tidak suci tergantung pada diri sendiri, tak seorang pun yang dapat menyucikan orang lain.
(Dhammapada, syair 165)

    DOWNLOAD AUDIO

Di dalam kisah Dhammapada  Atthakathā, dijelaskan tentang pertanyaan Samanera Pandita perihal air, kayu dan lain-lain yang tidak memiliki kesadaran, tetapi bisa diarahkan atau dibentuk sesuai keinginan si pembentuk, demikian halnya dengan diri kita yang memiliki kesadaran, tentunya bisa dibentuk atau diarahkan kepada hal yang baik maupun tidak baik. Kembali lagi kepada diri kita sendiri, mau mengarahkan kepada yang baik atau yang tidak baik.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Samanera Pandita. Berikut ini adalah kisah yang ada di dalam Dhammapada Atthakathā, “Pandita adalah seorang putra orang kaya di Savatthi. Ia menjadi seorang samanera pada saat berusia tujuh tahun. Pada hari ke delapan setelah menjadi samanera, ia pergi mengikuti Sariputta Thera berpiṇḍapāta, ia melihat beberapa petani mengairi ladangnya dan bertanya kepada Y.A. Sariputta Thera.

”Dapatkah air yang tanpa kesadaran dibimbing ke tempat yang seseorang kehendaki?”

Sang Thera menjawab, ”Ya, air dapat dibimbing kemanapun yang dikehendaki seseorang”.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, samanera melihat beberapa pembuat anak panah memanasi panah mereka dengan api dan meluruskannya. Selanjutnya ia melewati beberapa tukang kayu sedang memotong, menggergaji, dan menghaluskan kayu untuk dibuat roda kereta.

Kemudian ia merenung ”Jika air yang tidak memiliki kesadaran dapat diarahkan kemanapun yang seseorang inginkan, jika bambu yang bengkok yang tanpa kesadaran dapat diluruskan, dan jika kayu yang tanpa kesadaran dapat dibuat sesuatu yang berguna, mengapa saya tidak dapat menjinakkan pikiranku, melatih meditasi ketenangan dan pandangan terang”.


Kemudian ia memohon ijin kepada Y.A. Sariputta untuk kembali ke kamarnya di vihāra. Di sana ia bersemangat dan rajin melatih meditasi, menggunakan tubuh jasmani sebagai objek perenungan. Sakka dan para dewa membantu pelaksanaan meditasinya dengan cara menjaga kesunyian suasana vihara dan sekitarnya. Sebelum waktu makan tiba, Samanera Pandita mencapai tingkat kesucian anāgāmi.

Waktu Y.A. Sariputta membawakan makanan untuk samanera, Sang Buddha melihat dengan kemampuan batin luar biasa-Nya bahwa Samanera Pandita telah mencapai tingkat kesucian anāgāmi, dan jika ia meneruskan melaksanakan meditasi maka tidak lama lagi mencapai tingkat kesucian arahat. Kemudian Sang Buddha memutuskan untuk mencegah Sariputta memasuki kamar samanera. Sang Buddha berdiri di muka pintu kamar samanera dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Sariputta Thera. Ketika percakapan berlangsung di tempat itu, samanera mencapai tingkat kesucian arahat. Jadi, samanera mencapai tingkat kesucian arahat pada hari ke delapan setelah ia menjadi samanera.

Berkenaan dengan hal itu, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu di vihāra, ”Ketika seseorang dengan sungguh-sungguh melaksanakan Dhamma; Sakka dan para dewa akan melindunginya dan menjadi pelindung. Saya sendiri mencegah Sariputta masuk di muka pintu kamar, sehingga Samanera Pandita tidak terganggu. Samanera setelah melihat petani mengairi ladangnya, pembuat anak panah meluruskan panah-panah mereka, dan tukang kayu membuat roda kereta, mengendalikan pikirannya dan melaksanakan Dhamma; ia sekarang telah menjadi seorang arahat".

Kemudian sang Buddha mengucapkan syair: “Pembuat Saluran Air Mengalirkan Air, Tukang Panah Meluruskan Anak Panah. Tukang Kayu Melengkungkan Kayu, Orang Bijaksana Mengendalikan Dirinya”.

Oleh sebab itu, tergantung diri kita ingin mengarahkan atau menjadikan diri kita, baik atau tidak baik. Karena apa yang kita lakukan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan. Karena akan menjadi akibat atau warisan di kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Di jaman Guru Agung Buddha Gotama ada seorang pemuda bernama Subha datang menemui Sang Buddha dan bertanya kepada Beliau, “Mengapa dan apa sebabnya di antara umat manusia ada yang memiliki keadaan rendah dan ada yang memiliki keadaan mulia? Mengapa ada manusia yang berumur pendek dan ada yang berumur panjang, ada yang sehat dan ada yang berpenyakitan, ada yang berwajah tampan dan ada yang berwajah buruk, ada yang berkuasa dan yang tertindas, ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang hina dan ada yang mulia, ada yang bodoh dan ada yang bijaksana?

 ”Sang Buddha menjawab: “Semua makhluk memiliki kammanya sendiri, mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri, berhubungan dengan kammanya sendiri, terlindung oleh kammanya sendiri. Kammalah yang membuat semua makhluk menjadi berbeda, hina atau mulia.” Selanjutnya Sang Buddha menerangkan sebab perbedaan-perbedaan tersebut sesuai dengan hukum sebab akibat. Dari sudut pandangan agama Buddha, perbedaan-perbedaan batin, intelektual, moral dan watak kita sekarang, pada prinsipnya disebabkan oleh perbuatan-perbuatan kita sendiri yang dilakukan di waktu lampau dan di waktu sekarang. Secara harfiah kamma berarti perbuatan, tetapi, dalam pengertian mutlaknya kamma berarti kehendak. Kamma ada yang baik (kusala cetanā) dan yang buruk (akusala cetanā). Perbuatan baik akan membuahkan kebaikan, perbuatan jahat akan membuahkan kesedihan, inilah hukum kamma. Kita memetik apa yang kita tanam. Kita adalah akibat dari apa yang kita lakukan di waktu lampau; kita akan menjadi akibat dari apa yang kita lakukan sekarang, tetapi kita tidak mutlak hanya merupakan akibat dari apa yang kita lakukan di waktu lampau; kita tidak mutlak hanya menjadi akibat dari apa kita lakukan sekarang. Misalnya seorang kriminal mungkin saja dapat menjadi orang suci di kemudian hari dan sebaliknya. 

Dari penjelasan di atas, mengingatkan kepada diri kita. Agar berhati-hati dengan apa yang kita lakukan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan. Kerena apa yang kita lakukan melalui ketiga hal tersebut, yang sifatnya baik dan tidak baik, itulah yang akan menjadi warisan yang sesungguhnya. Sumber:

-Dhammapada (Bahussuta Society 2013) Samaggi Phala


Dibaca : 2665 kali