x

Hidup Damai Dan Cinta Kasih

Akkodhena jine kodhaṁ, Asādhuṁ sādhunā jine
Jine kadariyaṁ dānena, Saccenālikavādinaṁ
Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih, kalahkan kejahatan dengan kebaikan.
Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, kalahkan kebohongan dengan kejujuran.

(Dhammapada 223)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam beberapa bulan terakhir sering melihat dan mendengar berita-berita adanya perselisihan, sikap iri, saling menjatuhkan orang lain demi tercapainya kepentingan diri sendiri. Zaman sekarang orang sudah mulai lupa akan nilai-nilai kehidupan, seolah-olah hidup hanya untuk diri sendiri, dan mengabaikan orang lain. Tidak hanya itu, tetapi juga mengorbankan orang lain demi diri sendiri. Ini bukan barang aneh lagi, mungkin dapat dikatakan mulai menyebar luas. Kita dapat membayangkan apa yang terjadi jika suatu saat nanti semua orang lebih mementingkan diri mereka sendiri dan mengabaikan orang lain. Dalam sejarah umat manusia sikap egois dan menang sendiri sudah dari zaman dulu dan seolah tidak lepas dalam perjalanan hidup manusia. Dampaknya ketika nilai sosial dalam hidup tidak ada, maka akibatnya “yang susah tambah susah, yang kuat tambah kuat”. Di sinilah nanti akan muncul kejahatan di mana-mana, kekhawatiran di mana-mana. Manusia seolah kehilangan cinta kasih sebagai sisi luhur hidup manusia.

Memang, saat ini orang memiliki cinta kasih, tetapi cinta kasih dalam diri seseorang, akan muncul kalau ada sesuatu yang dapat diharapkan. Seseorang jadi sayang karena ada harapan bukan ketulusan. Ada ungkapan atau istilahnya: kalau saya cinta, baru saya kasih, atau kasih akan kuberikan, kalau saya cinta. Jadi, kalau saya tidak cinta, tentu tidak mungkin saya kasih. Cinta kasih ini bukan universal lagi, tetapi sudah menggunakan “syarat”. Itulah yang menjadi fenomena di saat ini.

Apa Penyebabnya tidak adanya cinta kasih?

Fenomena di atas yang menjadi penyebab adalah kurang tepatnya dalam mendefinisikan arti kebahagiaan. Mengapa dihubungkan dengan kebahagiaan? Coba kita pahami bahwa setiap orang berperilaku apapun pasti ada tujuannya. Tujuan dari perilaku kita adalah bagaimana supaya kita dapat hidup bahagia. Maka, orang yang mengorbankan atau mengabaikan orang lain pasti ada tujuan agar dirinya tetap bahagia. Cinta kasih yang bersyarat itu juga memiliki tujuan agar dirinya bahagia. Maka kebahagiaan dalam hidup kita, juga harus didefinisikan kembali agar tidak bersekutu dengan pandangan salah. 

Pada umumnya orang memahami bahwa bahagia itu kalau mendapat, maka orang berpikir ‘mendapat-mendapat’ agar bahagia. Sebetulnya bukannya tidak boleh mendapat, tetapi jangan sampai mendapatkannya dengan merugikan orang lain. Karena pengertian ini,  akibatnya orang akan menjadi serakah, sehingga lupa dengan yang lainnya. Hal ini juga dipengaruhi adanya pengalaman sebelumnya, misalnya waktu kecil pernah merasa bahagia saat mendapat sesuatu yang kecil, akibatnya agar lebih bahagia lagi tentu harus mendapat yang lebih besar, sehingga meyakini bahwa yang namanya bahagia itu kalau mendapat. Inilah yang menyebabkan tidak adanya cinta kasih.

Selain itu, perselisihan, sikap iri, dengki, dan tidak adanya cinta kasih disebabkan adanya kebencian. Kebencian ini disebabkan karena tidak tercapainya apa  yang diharapkan. Ketika seseorang berpikir mendapat, tetapi tidak tercapai, orang pada umumnya mulai berselisih, dengki, dan berusaha melakukan apa saja termasuk mengganggu orang lain. Inilah yang menyebabkan  tidak adanya cinta kasih.

Pengembangan Cinta Kasih

Dalam Dhamma, Sang Buddha mengajarkan kita untuk mengembangkan cinta kasih. Dunia yang kita tempati ini akan harmoni dan damai, tentu harus ditunjang oleh manusia yang penuh cinta kasih. Cinta kasih dalam diri kita, dapat kita mulai dari pikiran kita sendiri; ketika pikiran kita memiliki pengertian tentang betapa bermanfaatnya cinta kasih. Cinta kasih ini akan dapat kita laksanakan, pelaksanaan cinta kasih dapat kita mulai dengan mengucapkan “semoga semua makhluk hidup berbahagia” setiap kali dalam diri kita. Jika hal ini sering kita lakukan akan menumbuhkan cinta kasih itu menjadi sebuah kebiasaan yang terwujud dalam tindakan yang nyata.
Cinta kasih akan tampak menjadi perilaku. Bentuk cinta kasih ini ada dalam Karaniyamettā Sutta; jujur, tulus, mudah dinasehati, lemah-lembut, tidak sombong, merasa puas atas yang dimiliki, mudah dirawat, tidak repot, bersahaja hidupnya, berindera tenang, penuh pertimbangan, sopan, tidak melekat pada keluarga, dan lain-lain. 

Semuanya itu adalah pelaksanaan, yang hendaknya dikembangkan. Dengan mengembangkan dan melaksanakan perilaku cinta kasih, dunia kita akan damai dan harmoni. Jadi, apabila ini dilakukan tidak hanya menghantarkan kita menuju kebahagiaan tetapi juga menghantarkan orang lain lain menuju ke kebahagiaan juga. 

Manfaat Pengembangan Cinta Kasih

Dalam Aṅguttara Nikāya (XI,16) dinyatakan: Jika, O Para Bhikkhu, pembebasan pikiran dengan cinta kasih dikembangkan dan ditumbuhkan, sering dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan seseorang, ditegakkan dengan mantap, disatukan, dan dijalankan dengan tepat, maka ada sebelas berkah yang bisa diharapakan. Apakah yang sebelas itu; dia tidur dengan tenang; dia tidak bermimpi buruk; bangun tidur menjadi segar; dia dicintai oleh manusia; dia dicintai oleh makhluk bukan manusia; dia akan dilindungi oleh para dewa; api, racun, dan senjata tidak dapat melukainya; pikiran penuh konsentrasi; kulit wajahnya jenih; dia akan meninggal dengan tidak bingung; dan jika tidak menembus yang lebih tinggi, dia akan lahir di alam Brahma.

Dengan memahami bahaya dari tidak adanya cinta kasih dan manfaat dari cinta kasih ini,  marilah dalam kehidupan ini, kita kembangkan dan praktikkan cinta kasih, sehingga kehidupan di bumi ini damai, bahagia, dan tentram.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia

Dibaca : 2297 kali